Kepemimpinan di Gereja
20 Februari 2026
Karya Roh Kudus dalam Penebusan
25 Februari 2026
Kepemimpinan di Gereja
20 Februari 2026
Karya Roh Kudus dalam Penebusan
25 Februari 2026

Karya Roh Kudus di dalam Sejarah

Digubah pada abad ke-8, dan merupakan bagian dari buku liturgi Katolik Roma (Roman breviary of Vespers), Veni Creator Spiritus adalah sebuah himne yang meninggikan Roh Kudus. Terjemahan John Dryden yang luar biasa menuliskan baris pembukanya sebagai berikut: “Roh Pencipta, yang dengan pertolongan-Nya fondasi dunia pertama kali diletakkan.”

Aktivitas Roh Kudus sebagai Pencipta diungkapkan pada ayat kedua Alkitab. Menggambarkan ciptaan yang belum dikembangkan sebagai “belum berbentuk dan kosong” dan berada dalam kondisi “gelap gulita”, penulis menggambarkan Roh Allah “melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:2). Membentuk penutup dari pasal pembuka Alkitab ini adalah pernyataan tentang penciptaan manusia: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (ay. 26). Kata ganti “Kita” sering kali dilihat merujuk kepada Allah Tritunggal, yang mencakup Roh Kudus. Sejak awal sekali, Roh Kudus telah melaksanakan aktivitas penciptaan yang dilakukan Allah. Pada penciptaan dunia, sebagaimana pada penciptaan manusia secara khusus, Roh Kudus secara khusus dinyatakan. 

Pentakosta

Pada permulaan era perjanjian baru, Pentakosta menampilkan karya penciptaan yang serupa—atau, lebih tepatnya, penciptaan ulang. Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa akan diubah oleh Roh Kudus kepada derajat yang tidak dikenal dalam perjanjian lama.

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menggambarkan pentingnya Pentakosta dengan mengembusi  murid-murid-Nya seraya berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:22). Tindakan ini mengingatkan akan kelanjutan dari pembukaan kitab Kejadian: Roh Kudus, sang napas Allah, adalah agen “napas hidup” (Kej. 2:7; baca juga Yoh. 20:22). Seperti Allah mengembuskan kehidupan kepada Adam, begitu pula Yesus, Adam yang terakhir, mengembuskan kehidupan baru kepada umat-Nya. Dalam bahasa Paulus, Yesus menjadi “roh yang menghidupkan” karena Ia mengutus Roh Kudus (1Kor. 15:45). Pentakosta adalah sebuah peristiwa penting, yang menandai munculnya era baru.

Di tengah periode antara penciptaan dan penciptaan ulang segala sesuatu yang terakhir, Pentakosta adalah titik yang dapat dikatakan, “waktu zaman akhir telah tiba” (1Kor. 10:11). Roh Kudus memberi kepada para murid sebuah pemahaman yang jelas tentang peran Yesus dalam penebusan dan penyempurnaan, memperlengkapi mereka dengan keberanian yang luar biasa untuk membuat Yesus dikenal. Karunia bahasa lidah yang menyertai pencurahan Roh Kudus memampukan umat dari berbagai negara untuk mendengar Injil dalam bahasa mereka masing-masing. Dalam sekejap, kutuk Babel dibalikkan (Kej. 11:7-9). Para murid yang telah diberi kuasa oleh Roh Kudus menjadi termotivasi dan dimampukan untuk membawa berita pendamaian kepada bangsa-bangsa di dunia dalam kepastian bahwa Allah akan melaksanakan semua hal yang pernah Ia janjikan (Luk. 24:48; Kis. 1:4). Apa yang tampak sebagai berkat bagi orang orang non-Yahudi terbukti merupakan penghakiman atas orang-orang Israel yang menolak Mesias mereka. Berita Injil itu sendiri dalam berbagai bahasa di luar bahasa mereka menegaskan ancaman perjanjian yang pernah disampaikan Allah melalui Yesaya: “Sungguh, melalui orang-orang yang berlogat ganjil dan melalui orang-orang yang berbahasa asing TUHAN akan berbicara kepada bangsa ini” (Yes. 28:11). Apa yang akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain terbukti menjadi alat yang mengeraskan Israel itu sendiri, sampai “lengkap” jumlah dari bangsa-bangsa lain masuk (Rm. 11:25).

Dengan penafsiran Pentakosta seperti ini, pengulangan tidak dapat dibayangkan. Meski sejarah mencatat banyak “pencurahan” Roh Kudus dalam pertunjukan kebangunan rohani yang luar biasa, secara ketat, tidak satu pun merupakan pengulangan hari Pentakosta. Pentakosta menandai titik balik yang penting di antara era perjanjian lama dan perjanjian baru. Hari-hari bayang-bayang dan tipologi digantikan dengan hari-hari penggenapan dan realita. Pentakosta menandai akhir dari ekonomi penebusan yang sebagian besar (meski tidak eksklusif) berfokus pada etnis Israel, dan sebaliknya menyatakan datangnya komunitas perjanjian yang terdiri dari orang-orang dari segala bangsa yang telah sangat disiratkan dalam Perjanjian Lama tetapi belum pernah terwujud. Kehadiran mukjizat-mukjizat yang menyertai Pentakosta itu sendiri menunjukkan keunikan momen tersebut. Ini menandai kemunculan para rasul—para pembangun gereja Allah yang meletakkan dasar, bukan yang melanjutkan (Ef. 2:20).

Alkitab

Sebagai orang-orang kudus pezirah yang dilahirbarukan, didiami, dan dikuduskan oleh Roh Kudus, dalam perjalanan menuju Yerusalem baru, kita masih membutuhkan hikmat; ini disediakan oleh Roh Kudus. Dialah yang menjamin bahwa sebuah tuntunan yang pasti ke surga akan dikaruniakan kepada umat Allah. Berbicara tentang Perjanjian Lama, Petrus berkata bahwa tidak ada bagian darinya yang merupakan hasil dari rancangan manusia, “tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2Ptr. 1:21). Paulus juga dapat menggemakan bahwa “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah” (2Tim. 3:16). Bagaimana tepatnya Roh Kudus mewujudkan hal ini masih merupakan misteri. Ada sidik-sidik jari penulis manusia yang dapat dikenali di sepanjang Alkitab. Pada saat yang sama, setiap bagiannya, sampai pada guratan pena yang terkecil (baca Mat. 5:18), adalah hasil dari embusan napas Allah. Dalam dua proses—menyingkapkan hikmat dan kebenaran kepada para penulis Alkitab dan menghembuskan keluar—Roh Kudus melaksanakan ketuanan-Nya dalam mengilhamkan Alkitab secara infalibel. Dalam tiga proses—menerima dan mengenali (kanonisasi), memelihara, dan menerjemahkan—Gereja menanggapi karya Roh Kudus dalam membentuk Alkitab.

Alkitab, yaitu ketetapan dan tuntunan Roh Kudus, adalah apa yang diperlukan orang Kristen untuk kekudusan dan penebusan final. Dengan iluminasi Roh Kudus atas teks-teks tertulis, kehendak Allah dinyatakan dengan jelas. Sebagai orang Kristen, kita saat ini “menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran” (2Ptr. 3:13). Dalam keadaan mulia, sebagaimana ditegaskan oleh teolog Belanda, Geerhardus Vos, Roh Kudus akan menjadi “lapisan dasar permanen dari hidup yang telah dibangkitkan”. Maka, Roh Kudus, yang telah melayani Bapa dan membawa kemuliaan kepada sang Anak, akan menjadi Dia yang memelihara kehidupan kekal orang-orang kudus. Sampai pada hari itu, yaitu ketika “Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor. 15:28), kita menjelajah medan yang penuh dengan tantangan dan kesulitan. Kita menghadapi tiga musuh: dunia, daging, dan Iblis. Roh Kudus, agen perwakilan Kristus dalam hati kita, menjamin kepastian kemenangan. Ia menjamin bahwa perbudakan dan kefrustrasian, yang telah masuk ke dunia melalui kejatuhan Adam, akan dibalikkan.

Ciptaan Baru

Di ujung Alkitab yang lain, kitab Wahyu menggambarkan “tujuh roh” yang “diutus ke seluruh bumi” (5:6; baca juga 1:4). Roh-roh itu melambangkan Roh Kudus sebagai Pribadi imanen yang melaksanakan rencana-rencana Allah. Roh yang melayang-layang, yang sebelumnya mengawasi ciptaan yang belum berbentuk, sekarang memperhatikan kosmos, mencari untuk  menghasilkan ciptaan baru, dan karenanya, memastikan formasinya mengikuti rencana Allah yang sempurna.

Sebagai seniman ilahi, Roh Kudus memastikan keindahan Eden dan semua ciptaan yang lain: “sungguh sangat baik” (Kej. 1:31). Perhatikan pengamatan Musa bahwa dalam rancangan Kemah Suci (lambang hadirat Allah bersama umat tebusan-Nya), para arsiteknya, Bezalel dan Aholiab, dipenuhi “dengan Roh Allah” (Kel. 31:3). Musa tampaknya kagum dengan kepedulian mereka akan keindahan dan keteraturan. Ada bukti keindahan estetis yang nyata pada Kemah Suci—dan ini menunjukkan rancangan Roh Kudus (Kel. 35:30-35). Begitu pula, Roh Kudus berada di balik setiap karya seni. Sebagaimana ditulis oleh John Calvin: “Pengetahuan atas semua yang paling unggul dalam hidup manusia dikatakan dikomunikasikan kepada kita oleh Roh Allah.”

Tujuan akhir bagi Roh Kudus adalah kemuliaan—kemuliaan yang gagal dicapai Adam di taman Eden. Ketika para nabi yang diutus Roh Kudus menjelaskan karya-Nya, mereka membayangkan kemuliaan ini dipulihkan setelah

Dicurahkan kepada kita Roh dari atas,

padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan,

kebun buah-buahan akan dianggap hutan.

Keadilan akan tinggal di padang gurun,

kebenaran akan menetap di kebun buah-buahan.

Di mana kebenaran ditegakkan, di sana ada damai sejahtera,

dan buah kebenaran ialah ketenangan

dan ketenteraman untuk selama-lamanya. (Yes. 32:15–17)

Roh Kudus Allah, yang pertama melayang-layang di atas permukaan air pada waktu penciptaan, berbicara melalui para nabi dan rasul, dan dicurahkan pada hari Pentakosta sebagai saksi atas janji Kristus tentang Parakletos (penghibur, pemelihara, pemberdaya, penasihat) yang lain. Yesus melanjutkan pelayanan-Nya kepada murid-murid-Nya melalui Roh Kudus sebagai agen perwakilan pribadi-Nya. Karya Roh Kudus di setiap waktu adalah untuk menarik perhatian kepada Kristus. “Ia akan memuliakan Aku,” kata Yesus, “sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku” (Yoh. 16:14).

Dari awal sampai akhir, tujuan Roh Kudus adalah mengadakan ciptaan baru, yang di dalamnya kemegahan karya Allah akan ditampilkan. Terutama adalah karena karya Roh Kudus kita bernyanyi mengikuti lirik gubahan Charles Wesley ini:

Sempurnakan ciptaan-Mu, 

basuh noda dan cela;

tunjukkanlah bumi baru

yang penuh bahagia!

Makin mulia, makin suci, 

diri kami ubahlah

sampai nanti kami puji Dikau 

dalam t’rang baka!

 Catatan editor: Artikel ini diterbitkan pertama kali pada Juli 2004.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

Derek W.H. Thomas
Derek W.H. Thomas
Dr. Derek W.H. Thomas adalah pendeta senior di First Presbyterian Church di Columbia, South Carolina, dan Chancellor Professor bidang Teologi Sistematika dan Teologi Pastoral di Reformed Theological Seminary. Ia adalah salah satu dewan pengajar Pelayanan Ligonier dan penulis dari banyak buku, termasuk How the Gospel Brings Us All the Way Home.