Perjanjian Kerja
18 Februari 2026
Karya Roh Kudus di dalam Sejarah
23 Februari 2026
Perjanjian Kerja
18 Februari 2026
Karya Roh Kudus di dalam Sejarah
23 Februari 2026

Kepemimpinan di Gereja

Memang benar bahwa Paulus adalah seorang rasul, sedangkan kita bukan. Meski demikian, Paulus adalah hamba Tuhan, dan setiap orang yang melayani di Gereja juga adalah hamba Tuhan. Ada titik temu antara semua pria dan wanita yang berjerih lelah sebagai pemimpin Kristen dan Rasul Paulus, dan kita bisa belajar sesuatu tentang teknik, metode, dan prioritas dari Paulus.

Paulus menulis di dalam 1 Korintus 2:1-5:

Demikian juga, ketika aku datang kepadamu, Saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang muluk atau dengan hikmat yang tinggi untuk menyampaikan rahasia Allah kepada kamu. Sebab, aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

Paulus berkata bahwa ia tidak datang kepada orang-orang Korintus “dengan kata-kata yang muluk atau dengan hikmat yang tinggi”. Dengan kata lain, ia berkata, “Ketika aku datang kepada kalian, aku tidak berusaha membuat kalian terkesan. Aku tidak datang dengan sikap superior. Aku tidak memakai posisiku sebagai pemimpin dalam arti sikap arogan atau meninggikan diri.” Ini harus menjadi prinsip pertama dalam pelayanan dan kepemimpinan yang saleh, yaitu tidak mengasumsikan postur superior, baik dalam perkataan, tingkah laku, atau sikap kita. Tidak diragukan bahwa Paulus superior dalam pengetahuannya, karunianya, dan kekuatan pribadinya, tetapi ia tidak tampil sebagai seorang yang superior. Ia melayani dalam konteks kelemahan, sebagaimana yang ia jelaskan selanjutnya.

“Sebab, aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor. 2:2). Di sini Paulus sepertinya berbicara secara hiperbolis, sebab ia berbicara tentang banyak hal lain selain penyaliban. Ia berbicara tentang seluruh lingkup teologi, seluruh ajaran Allah. Namun, prioritas dan fokus utamanya, yang memengaruhi semua hal lain yang ia katakan, adalah Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Ia berketetapan untuk tidak mengetahui apa pun yang lain. Kata dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan menjadi “mengetahui” tidak sekadar menunjukkan pemahaman intelektual tetapi pemahaman yang intim dan dalam. Ia ingin mengenal Kristus, dan pengenalan akan Kristus tersebut mendorongnya masuk ke dalam posisi kepemimpinan.

Ayat 3 adalah kunci bagi kesuksesan Paulus sebagai hamba Tuhan, gembala, dan pemimpin Kristen: “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” Apa pun peran lain Paulus dalam pelayanannya, ia senantiasa mengidentikkan dengan kelemahan, rasa takut, dan rasa gentar umatnya. Sebuah pertanyaan yang kerap muncul dalam kepemimpinan Kristen terkait dinamika kelompok adalah apakah para pemimpin seharusnya menyembunyikan rasa takut dan kecemasan mereka tentang posisi kepemimpinan itu. Haruskah mereka bersikap tenang, berpura-pura semuanya terkendali dan tidak ada masalah? Atau, haruskah mereka mengizinkan diri mereka merasa rentan?

Pertanyaan ini selalu sulit dijawab. Tentu saja, kita tidak dipanggil untuk berakting atau bertindak seolah-olah semuanya terkendali, padahal tidak. Ini jelas adalah tidak jujur. Di sisi lain, bukan berarti pemimpin dari sebuah kelompok harus menunjukkan semua kecemasan dan rasa takut yang mungkin ia alami ketika memimpin sebuah rapat. Pada titik itu, tujuan dari kebersamaan akan hancur jika itu menjadi tempat pemimpin menyuarakan dan menyalurkan segala kegelisahan dan kecemasannya. Bukan itu arti dari bersama dengan umat dalam kelemahan dan rasa takut. Para pemimpin dipanggil untuk memimpin dengan jujur. Para pemimpin dipanggil untuk tidak berpura-pura menjadi orang lain, dan tidak memainkan peran yang tidak sesuai dengan kemampuan  mereka.

Jika Allah menempatkan Anda sebagai pemimpin, Ia tentu menempatkan Anda di sana untuk terus bertumbuh. Namun, Ia juga memanggil Anda untuk posisi itu dalam kondisi siapa Anda sekarang. Jika Allah dalam providensia-Nya berada di balik panggilan tersebut, Ia memanggil Anda karena karunia, talenta, dan kemampuan yang Anda miliki saat ini. Dalam pengertian ini, Anda tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Ia memanggil Anda sebagaimana adanya Anda. Namun, Ia tidak ingin Anda tetap seperti itu; Ia ingin Anda bertumbuh. Ia ingin Anda bergerak. Ia ingin Anda maju, tetapi maju tanpa kegelisahan, tanpa merasa tegang dengan segala kekurangan Anda.

Paulus berkata di tempat lain, “Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2Kor. 12:9). Hal yang selalu diingat Paulus adalah bahwa satu-satunya kekuatan yang ia miliki, satu-satunya karunia yang dapat ia tawarkan, adalah kekuatan, karunia, dan talenta yang menemukan lokus kuasanya di dalam Kristus, bukan di dalam dirinya sendiri. Hal ini memberi penghiburan bagi siapa pun yang sedang menduduki posisi pemimpin. Namun, ketika sedang melayani orang-orang, Paulus tidak terutama mencemaskan kelemahan, kekurangan, dan rasa takutnya. Ia lebih peduli dengan rasa takut dan kelemahan orang lain. Saya pikir, itulah tanda dari seorang pemimpin Kristen.

Ketika Paulus mulai melayani di tengah-tengah orang Korintus, ia berkata, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar” (1Kor. 2:3). Dengan kata lain, ia peduli dengan rasa takut, kelemahan, dan rasa gentar umatnya. Ini seharusnya tidak hanya penting bagi seorang rasul atau hamba Tuhan yang telah ditahbiskan, tetapi bagi siapa pun yang menduduki posisi sebagai pemimpin Kristen. Ini berarti kepekaan. Ini berarti mendengarkan. Ini berarti memperhatikan orang-orang yang Anda pimpin. Ini berarti mendengarkan di mana mereka berada, di mana mereka terluka, di mana mereka merasa lemah dan takut serta peka terhadap mereka.

Seseorang yang diperlengkapi dengan pikiran Kristus, dan yang memahami Alkitab, seharusnya mampu mengatasi masalah-masalah manusia yang mendasar. Jika ini tidak benar, maka hanya sangat sedikit yang dapat dikatakan oleh kekristenan. Jika Injil bukan Injil yang memulihkan manusia secara menyeluruh, maka itu sama sekali bukan Injil.

Tugas menegur, menasihati, membangun, menghibur, menenangkan, dan menguatkan diberikan kepada seluruh Gereja. Paulus memanggil orang-orang percaya untuk menguatkan, menegur, mengajar, mengarahkan, dan menasihatkan satu sama lain. Kekristenan mengasumsikan dan memerintahkan semua orang awam agar terlibat dalam pelayanan, tetapi kita telah mengabaikan hal itu di sebagian besar Amerika. Kita secara keliru mempertahankan ide kepemimpinan yang berorientasi pada rohaniwan di gereja, padahal itu bukan posisi Perjanjian Baru. Setiap orang Kristen diberi tanggung jawab ini karena Allah telah mengaruniakan kepada kita sumber daya untuk saling peduli satu sama lain.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

R.C. Sproul
R.C. Sproul
Dr. R.C. Sproul mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang bertumbuh dalam pengenalan mereka akan Allah dan kekudusan-Nya. Sepanjang pelayanannya, Dr. R.C. Sproul membuat teologi dapat diakses dengan menerapkan kebenaran mendalam dari iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Ia terus dikenal di seluruh dunia untuk pembelaannya yang jelas terhadap ineransi Alkitab dan kebutuhan umat Allah untuk berdiri dengan keyakinan atas Firman-Nya.