
Sifat-Sifat Kasih
01 Juni 2026Kapan Yesus Mati?
Setiap tahun, orang Kristen di seluruh dunia merayakan Paskah, yaitu hari raya yang memperingati kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Kematian Yesus dari Nazaret bukan hanya sebuah peringatan agamawi, tetapi juga fakta sejarah. Ada beberapa literatur di luar Alkitab pada abad pertama dan kedua yang menyebut Yesus dari Nazaret (seperti karya Tacitus, Yosefus, Filo, dan Talmud).
Meski Alkitab tidak menyebut tanggal peristiwa salib seperti yang kita harapkan pada zaman modern, waktu dan tempatnya tidak dapat dipungkiri. Untuk memahami konteks dari peristiwa bersejarah ini, kita akan memakai logika yang sama dengan ketika kita menjawab pertanyaan, “Apakah Yesus berada di dalam kubur selama tiga hari?” Kematian historis Yesus dari Nazaret diakui secara luas terjadi karena penyaliban-Nya pada hari Jumat, 3 April tahun 33 M., pada jam kesembilan (3 sore) di Golgota, di dekat/di luar gerbang kota Yerusalem. Golgota, yang dalam bahasa Yunani berarti “Tempat Tengkorak”, adalah tempat di mana penyaliban terhadap penjahat biasa diadakan oleh pemerintahan Romawi.
Signifikansi kematian Yesus yang sangat publik harus dipertimbangkan. Catatan-catatan Injil mengungkapkan persekongkolan untuk membunuh Yesus dan pertukaran-Nya dengan tahanan Barabas, yang diampuni dan dilepaskan pada hari raya Paskah (lihat Mat. 27; Mrk. 14-15; Luk. 23; Yoh. 11; 19). Pontius Pilatus, gubernur kelima Yudea, entah karena ditekan atau ikut bersekongkol, memerintahkan agar Yesus segera dihukum mati. Metode hukuman tersebut dirancang untuk tidak memungkinkan rahasia atau ilusi kematian terjadi karena mencakup beberapa bentuk siksaan sampai orang tersebut mati, dengan orang banyak ikut serta mempermalukan dalam pertunjukan di tempat terbuka ini.
Terlebih, momen kematian Yesus telah dicatat, dengan para penulis Injil memasukkan komentar dari dua penyamun yang turut disalibkan bersama-Nya (baca Mat. 27:38-44; Luk. 23:32-43). Perkataan Yesus yang terakhir juga dicatat, termasuk “Sudah selesai”, yang disampaikan sebagai seruan terakhir ketika Ia “menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh. 19:30; lihat juga Mat. 27:50). Markus mencatat reaksi dari seorang penonton kunci, yaitu kepala pasukan, yang “melihat Dia mengembuskan napas terakhir seperti itu” dan berseru, “Sungguh, orang ini Anak Allah!” (Mrk. 15:39).
Beberapa argumen menantang linimasa kematian dan kebangkitan Yesus; antara lain “teori pingsan”, yang mengklaim bahwa Yesus tidak mati di kayu salib, tetapi hanya kehilangan kesadaran. Bahkan jika hal ini mungkin, realita waktu mengatakan bahwa, pada titik tertentu, Yesus dari Nazaret sesungguhnya, benar-benar mati. Catatan sejarah dan Injil memperlihatkan signifikansi waktu dan makna dari kematian-Nya secara publik di kayu salib. Meski cara kematian Yesus tergolong ekstrem, itu bukan peristiwa yang terjadi secara acak atau berada di luar kendali Allah yang berdaulat. Sebaliknya, “Kristus telah mati untuk kita, orang-orang fasik, pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (Rm. 5:6, penekanan ditambahkan).
Dengan demikian, kita menyadari bahwa kematian Yesus di kayu salib bukan sekadar peristiwa jasmani, tetapi juga menyingkapkan realita rohani. Kematian-Nya bersifat unik sebagai kematian yang bersifat pengorbanan dan perjanjian. Inilah berita Injil. Yesus bukan sekadar orang baik atau guru yang bijak; Dia adalah Adam yang terakhir. Rasul Paulus menjelaskan, “Sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang [Adam], banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang [Yesus], banyak orang menjadi orang benar” (Rm. 5:19). Karena Yesus adalah Allah-manusia—seperti yang diakui oleh kepala pasukan—persembahan kurban yang Ia lakukan dengan tubuh-Nya bersifat kekal bagi orang-orang yang disatukan dengan-Nya.
Kematian Yesus Kristus seharusnya memantik banyak pertanyaan lain: Siapa Yesus itu? Mengapa dunia masih berbicara tentang kematian-Nya? Mengapa semua makhluk hidup harus menghadapi kematian? Alkitab menjawab semua pertanyaan ini dan menolong kita merenungkan kematian kita sendiri. Gambaran salib memaksa kita menyadari bahwa meski kita mungkin tidak akan pernah didakwa atas sebuah kejahatan di pengadilan, kita tetap divonis hukuman mati. Meski kita dapat melakukan usaha terbaik kita untuk menyangkali kefanaan kita, tidak ada yang sebanding dengan ancaman kematian yang tak terduga untuk memaksa kita mengakui kerapuhan hidup dan ketidakmampuan kita untuk secara total dipersiapkan menghadapi kematian. Kita harus jujur terhadap diri sendiri sebagaimana Allah Pencipta telah besikap jujur terhadap kita: “Upah dosa ialah maut” (Rm. 6:23). Dengan demikian, kita bersukacita dalam kematian Kristus karena “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor. 5:21).


