Karena Allah Begitu Mengasihi Dunia

29 Mei 2026

Kapan Yesus Mati?

05 Juni 2026

Karena Allah Begitu Mengasihi Dunia

29 Mei 2026

Kapan Yesus Mati?

05 Juni 2026

Sifat-Sifat Kasih

Pada awal abad ketujuh belas, Uskup Agung Ussher dari Irlandia ingin mengunjungi rumah seorang pendeta Presbiterian untuk melihat apakah apa yang telah ia dengar tentang kesalehan pribadi pendeta itu benar adanya. Ussher tiba di rumah pendeta tersebut dengan menyamar sebagai pengemis miskin. Ia disambut masuk, di mana sang istri sedang mengajarkan katekismus kepada anggota keluarganya. Ia bertanya kepada tamu tak terduga itu ada berapa perintah Allah. Ketika ia menjawab, “Sebelas,” sang istri menganggapnya sebagai orang yang sangat kurang pengetahuan dan tidak menanyainya lagi, tetapi ia memberinya makan dan mempersilahkannya tidur.

Pendeta itu mengetahui trik Ussher pada malam harinya dan memintanya untuk berkhotbah keesokan paginya. Maka Ussher, yang kini telah membersihkan diri dan berpakaian rapi hingga istri pendeta itu tidak mengenalinya, naik ke mimbar. Ia berkhotbah tentang apa yang menurutnya dapat dianggap sebagai “perintah kesebelas”, yaitu Yohanes 13:34: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi”. Istri pendeta itu terkejut bahwa pengemis itu telah berubah menjadi seorang pengkhotbah, dan bahwa betapa ia telah sangat salah menilai dia serta tidak menunjukkan lebih banyak kasih kepadanya.

Apa itu kasih? Bagaimana Anda tahu kalau Anda telah menaati perintah Kristus untuk mengasihi saudara-saudari seiman Anda? Bagaimana seseorang yang penuh kasih memperlakukan orang lain? Media populer sering kali menggambarkan kasih sebagai perasaan ketertarikan dan senang, tetapi perasaan-perasaan semacam itu naik-turun layaknya air raksa dalam termometer. Kita membutuhkan kasih yang tidak seperti termometer, melainkan lebih seperti termostat — yang mengendalikan reaksi kita, ketimbang dikendalikan oleh reaksi kita.

Ada pula yang mengatakan bahwa kasih adalah penerimaan tanpa menghakimi dan tanpa syarat, yang berasal dari konsep psikologis yang disebut “penerimaan positif tanpa syarat”. Namun, pendekatan yang terlalu disederhanakan ini membingungkan dan membuat kita tak berdaya di hadapan kebencian dan kejahatan. Bagaimana mungkin Anda bisa menerima seorang teroris atau pembunuh berantai tanpa syarat dan tanpa menghakimi?

Banyak orang Kristen saat ini percaya bahwa kata-kata kunci dalam bahasa Yunani untuk “kasih” dalam Perjanjian Baru, yaitu agapē dan kata kerja terkait agapaō, tidak merujuk pada suatu perasaan, melainkan pada tindakan yang dilandasi kemauan untuk berbuat baik kepada orang lain dengan mengorbankan kepentingan sendiri. Namun, ide ini tidak bisa didasarkan pada berbagai kata untuk kasih dalam bahasa Yunani, karena kelompok kata agapē dapat memiliki berbagai makna dalam konteks yang berbeda. Terlebih lagi, konsep kasih yang tanpa emosi membuat kita bingung harus berbuat apa dengan perasaan kita. Konsep tersebut juga gagal menangani motivasi yang mendalam dan sering kali tersembunyi yang mendorong pilihan-pilihan kita.

Lalu, di manakah kita dapat menemukan deskripsi yang benar tentang kasih? Rasul Paulus telah memberikan deskripsi yang sangat baik tentang kasih dalam 1 Korintus 13:4–7. Paulus meninggikan kasih (KJV: “charity,” dari bahasa Latin caritas) sebagai “jalan yang lebih utama” (1Kor. 12:31)—lebih superior daripada karunia-karunia rohani (pasal 12) dan mutlak diperlukan untuk kehidupan yang bermakna ketika ditimbang dalam timbangan Allah (1Kor. 13:1–3). Ayat 4–7 menampilkan keindahan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan kasih. Ayat-ayat tersebut bukanlah sekadar definisi esensi kasih, melainkan lebih merupakan deskripsi buah-buah kasih; menunjukkan kepada kita bagaimana kasih memotivasi tindakan atau perilaku tertentu dan menentang tindakan atau perilaku lainnya.

Deskripsi ini dimulai dengan kesabaran (ay. 4) dan diakhiri dengan ketekunan (ay. 7; LAI: sabar menanggung segala sesuatu). Kasih menunjukkan sifat aslinya dalam cara ia menghadapi pencobaan, penderitaan, dan kejahatan. Demonstrasi kasih yang paling agung adalah penyaliban Kristus. Paulus menulis dalam Roma 5:8: “Namun, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita.” Paulus yang mengatakan bahwa ia tidak tahu apa-apa selain “Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor. 2:2) jelas sangat memikirkan kasih Kristus. Yohanes menyoroti kasih yang menjadi dasar kesediaan Kristus untuk mati bagi kita ketika ia berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).

Kasih menunjukkan keunggulannya dalam berbagai cara. Jonathan Edwards menulis, “Kasih adalah prinsip yang aktif” (Works 8:301). Secara positif, kasih mempraktikkan kesabaran dan menunjukkan kebaikan hati (1Kor. 13:4). Kasih terus berbuat baik. Untuk melayani kebutuhan orang lain dan memuliakan Allah, orang yang penuh kasih akan bertekun bahkan ketika menghadapi ketidaknyamanan atau kesulitan. Kasih berkehendak untuk membalas rasa sakit dengan kebaikan hati, membalas kejahatan dengan kebaikan. Kasih Kristen mencerminkan gambar Allah, Dia yang “penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya” (Kel. 34:6).

Secara negatif, kasih tidak cemburu (1Kor. 13:4). Kasih menahan kecemburuan yang egois karena telah belajar untuk berkata tidak pada diri sendiri dan merasa senang melihat orang lain berhasil. Kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong (ay. 4). Kualitas-kualitas ini menunjukkan bahwa kasih adalah kebajikan yang rendah hati. Kasih menginspirasi pemusatan perhatian pada Allah dan orang lain, serta memangkas pemusatan perhatian pada diri kita sendiri. Jonathan Edwards menulis bahwa “setiap orang yang mengasihi Allah mengasihi-Nya sebagai Allah. . . . Jika kita mengasihi Allah sebagai yang tak terhingga lebih tinggi dari kita, maka kasih itu dipraktikkan dalam diri kita sebagai sesuatu yang tak terhingga lebih rendah dan oleh karena itu merupakan kasih yang rendah hati” (Works 8:245).

Kasih tidak melakukan yang tidak sopan (1Kor. 13:5). Kata kerja Yunani yang diterjemahkan sebagai “melakukan yang tidak sopan” berarti bertindak melanggar norma-norma, yang mengakibatkan aib. Kasih menginspirasi seseorang untuk melakukan apa yang terhormat di hadapan Allah dan manusia (Rm. 12:17b; 2Kor. 8:21). Pernyataan ini mendiskualifikasi pandangan antinomian apa pun tentang kasih; kasih merangkul Taurat Allah (Mzm. 119:97) dan berupaya untuk memenuhinya (Rm. 13:8–10).

Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri (1Kor. 13:5), melainkan mendorong kita untuk mencari kemuliaan Allah dan kebaikan sesama. Kasih mengubah kita menjadi hamba (Flp. 2). Kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan (ay. 5). Pemarah berarti mudah dipancing untuk marah (Kis. 17:16), tetapi kasih mengendalikan amarah. Mengampuni berarti tidak mencatat kesalahan—kasih senang untuk tidak menghitung dosa orang lain terhadap mereka (Rm. 4; 2Kor. 5:19).

Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, melainkan bersukacita karena kebenaran (1Kor. 13:6). Kasih bersukacita setiap kali bertemu dengan kebenaran dan kesetiaan. Namun, kasih berduka mendengar kabar bahwa seseorang telah jatuh ke dalam dosa dan membayar harga yang mahal karenanya; oleh karena itu, kasih tidak memandang kabar semacam itu sebagai bahan gosip yang lezat. Kasih semacam itu berbuat baik, bahkan kepada musuh-musuhnya.

Ayat 6 mengecam berhala toleransi relativistik yang sering dianggap sebagai kasih dalam budaya kita; kasih yang tulus mencakup kebencian terhadap kejahatan (Rm. 12:9). Demonstrasi kasih Allah yang terbesar juga merupakan demonstrasi kebenaran-Nya yang terbesar, karena Anak-Nya telah memenuhi keadilan Allah dengan menanggung hukuman atas dosa-dosa kita (Rm. 3:25–26). Jadi, 1 Korintus 13:6 mengoreksi pandangan Kristen populer bahwa kasih tidak ada hubungannya dengan perasaan. Kasih memiliki perasaan yang kuat menentang dosa dan mendukung kebenaran.

Dalam empat tindakan atau kebiasaan terakhir yang dikaitkan dengan kasih (ay. 7), kata “segala sesuatu” yang berulang-ulang itu tidak boleh dibaca sebagai sesuatu yang mutlak atau universal tanpa syarat. Ayat-ayat ini harus dibaca dalam konteks Perjanjian Baru. Ketika Paulus menggunakan kata “segala sesuatu”, yang dimaksudkannya adalah, masing masing, bahwa kasih menanggung segala beban yang harus kita pikul sebagai salib, percaya akan segala hal yang seharusnya kita percayai sebagai orang Kristen, berharap akan segala hal yang harus kita nantikan sesuai dengan janji Allah, dan menanggung segala pencobaan yang harus kita jalani demi Kristus. Dengan demikian, kasih menginspirasi keempat tindakan ini secara konsisten.

Kasih memiliki kekuatan untuk bertekun di tengah kesulitan; dalam segala keadaan, kasih terus percaya dan berharap. Tiga serangkai iman, pengharapan, dan kasih sering kali muncul dalam Kitab Suci. Ketika orang Kristen mengasihi Allah, hati mereka bersukacita atas kasih setia-Nya kepada mereka, yang mengukuhkan iman mereka dan menjaga harapan mereka tetap hidup. Edwards mengatakan bahwa kasih adalah “nyawa dan roh dari iman yang praktis,” yaitu hal yang memberikan vitalitas dan produktivitas pada iman (Works 8:139, 330–31). Kasih adalah “unsur paling penting dalam iman dan pengharapan” (8:327).

Di sini kita menemukan deskripsi Paulus mengenai aktivitas kasih yang persisten di tengah dunia yang penuh dosa dan penderitaan. Kasih adalah sebuah kata kerja. Namun, kasih haruslah lebih dari sekadar tindakan lahiriah; esensinya terletak pada motif hati. Apa yang menggerakkannya? Itu tidak mungkin ambisi egois, sebab kasih tidak sombong dan tidak mencari kepentingannya sendiri. Kasih juga tidak mungkin didorong oleh kenikmatan sesaat atas orang yang dikasihi; jika demikian, kasih tidak akan sabar dan baik hati terhadap orang yang telah jatuh ke dalam dosa.

Lalu, apa yang menggerakkan kasih? Teks ini memberi kita dua petunjuk. Sukacitanya terletak pada kebenaran, yaitu keadilan dan kesetiaan Allah. Dengan demikian, kasih bersukacita dalam kasih Allah sebagaimana dinyatakan dalam Kristus. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh. 4:19). Ketekunannya saling terkait dengan iman dan pengharapan, yaitu dalam memandang kepada Kristus dan percaya pada Firman Allah. Edwards mengatakan bahwa kasih muncul dari “pandangan atau kesadaran akan keagungan Allah” (Works 8:333). Oleh karena itu, kita menyimpulkan bahwa kasih berasal dari Allah, berpusat pada Allah, dan didorong oleh Allah. “Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:8b). Kita tidak pernah berada dalam persekutuan yang lebih dalam dengan Allah selain ketika kita hidup dalam kasih yang sejati. Oleh karena itu, betapa indahnya sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan kasih.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Joel R. Beeke

Joel R. Beeke

Dr. Joel R. Beeke adalah presiden dan profesor bidang teologi sistematika serta homiletika di Puritan Reformed Theological Seminary, serta pastor di Heritage Reformed Congregation di Grand Rapids, Michigan. Ia juga adalah editor Banner of Sovereign Grace Truth, direktur editorial Reformation Heritage Books, presiden Inheritance Publishers, dan wakil presiden Dutch Reformed Translation Society. Ia telah menulis, menjadi penulis bersama, atau mengedit delapan puluh buku, termasuk A Puritan Theology: Doctrine for Life.