Karya Roh Kudus di dalam Sejarah
23 Februari 2026
Buah Roh
27 Februari 2026
Karya Roh Kudus di dalam Sejarah
23 Februari 2026
Buah Roh
27 Februari 2026

Karya Roh Kudus dalam Penebusan

Ada sebuah puisi anak-anak karya Christina G. Rossetti yang dalam sekejap menangkap keajaiban angin sekaligus karyanya yang konkret:

 

Siapa pernah melihat angin?

Engkau tidak dan aku pun tidak.

Namun, ketika pepohonan menundukkan kepalanya,

Angin sedang berlalu.

 

Angin tidak pernah kelihatan tetapi jelas dikenal melalui karyanya.

Yesus membandingkan kehendak angin dengan karya Roh Allah (Yoh. 3:8). Orang-orang yang telah melihat karya-Nya mengenal realitas-Nya. Namun, sedikit sekali karya Roh Kudus yang secara tepat dikenal umat Allah sekarang ini. Akibatnya, terlalu banyak fokus diberikan kepada pengalaman subjektif dengan Roh Kudus dari pada dimensi-dimensi yang lebih luas dari realitas-Nya. Marilah pertama-tama kita memikirkan karya objektif Roh Kudus, baru kemudian karya subjektif-Nya.

 

Karya Roh Kudus yang Ajaib di luar Orang Percaya

Pertama, Roh Kudus mencipta dan memelihara segala kehidupan. Setara dengan Bapa dan Anak, Roh Kudus adalah sumber dari alam semesta ini dan segala sesuatu yang di dalamnya. Narasi Penciptaan di dalam kitab Kejadian memberitahu kita bahwa “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Seperti elang melayang-layang mengitari sarangnya untuk menghasilkan kehidupan, begitu pula Roh Allah berlaku sebagai agen pemberi kehidupan pada waktu Penciptaan (Kej. 1:2; Ul. 32:11). Ketika pemazmur berbicara tentang bumi “penuh dengan ciptaan-Mu”, dan di laut “bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang kecil dan besar”, ia mengumumkan, “Apabila Engkau mengirim Roh-Mu (LAI roh-Mu), mereka tercipta, dan Engkau membarui muka bumi” (Mzm. 104:24-25, 30). Molekul dan atom yang membentuk segala sesuatu di bumi, gaya gravitasi yang mengikat dunia, semua beroleh kekuatan fungsionalnya dari Roh Pencipta dan Pemelihara yang berdaulat.

Tidak hanya dalam penciptaan, tetapi juga dalam pelaksanaan penebusan, Roh Allah memegang peran utama. Jika tanpa karya-Nya yang ajaib dan misterius, tidak akan ada inkarnasi Anak Allah. Roh Kuduslah yang menyebabkan Yesus dikandung dalam rahim seorang perawan. Lukas 1:35 melaporkan bahwa Roh Kudus turun ke atas Perawan Maria dan kuasa Yang Mahatinggi menaunginya. Tanpa Roh Kudus, tidak akan ada Juru Selamat yang berinkarnasi.

Pekerjaan Roh Kudus yang objektif dalam penciptaan dan penebusan layak dicermati. Allah Roh Kudus yang agung, Pribadi Tritunggal yang mahakuasa ini, harus dihargai karena siapa Dia dan apa yang Ia karyakan. Ia bukan seorang pemalu yang muncul sebagai pikiran yang datang belakangan dari Allah dalam rencana penebusan. Dari penciptaan hingga penyempurnaan, Dia adalah Pribadi Agung yang terus-menerus mengkaryakan keajaiban.

 

Karya Roh Kudus yang Ajaib di dalam Orang Percaya

Dengan cara serupa, cakupan karya Roh Kudus di dalam hidup orang-orang tebusan harus dihargai secara penuh. Perhatikan tujuh karya Roh Kudus pada orang-orang pilihan, yang diperkenan Tuhan.

Pertama, Roh Kudus melahirbarukan. Betapa sering perkataan Yesus yang jelas disalahmengerti. Orang-orang secara universal menulis ulang kalimat “Engkau harus lahir kembali” menjadi “Engkau harus lahirkan dirimu kembali.” Kesalahan penafsiran ini tidak hanya tidak masuk akal secara gramatikal (kata kerja intransitif tidak memiliki objek), tetapi juga membuat kebenaran rohani yang dalam menjadi tidak masuk akal. Sama seperti kita tidak melakukan apa pun untuk menyebabkan kita lahir ke dalam dunia yang berdosa ini, begitu pula kita tidak dapat melakukan apa pun untuk membawa diri kita masuk ke dalam dunia tebusan yang telah diperbarui Allah. Kita harus lahir “dari Roh” (Yoh. 3:5, 8). Kita tidak dapat memaksa Roh Allah mengadakan kelahiran baru kita. Angin bertiup ke mana pun ia mau—adalah kehendak Roh Kudus, bukan kehendak manusia, yang menyebabkan seseorang lahir dari atas (ay. 3; LAI: dilahirkan kembali). Benar, jika kehendak kita diperbarui oleh kelahiran baru dari Roh Kudus, kita akan memilih untuk berseru meminta keselamatan kepada Allah, sama seperti bayi yang baru lahir menangis begitu dilahirkan. Namun, kita harus memberi kepada Roh Allah kemuliaan yang patut Ia terima. Seruan untuk keselamatan merupakan akibat dari kelahiran baru, dan tidak pernah dapat menjadi penyebab kelahiran baru. Roh itu sendiri secara berdaulat melakukan karya agung pembaruan total ini.

Kedua, Roh Kudus meyakinkan. Kita terus berdosa sekalipun telah dilahirkan kembali, bukankah begitu? Jadi, bagaimana mungkin kita yakin bahwa kita adalah anak-anak Allah?

Kita bisa begitu berani karena kepastian dari Roh Kudus. Dalam karya yang paling menakjubkan ini, “Roh itu sendiri bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm. 8:16). Hanya Roh Kudus yang terus berkarya yang dapat membuat orang berdosa yakin akan keselamatannya. Lagi pula, siapakah yang berani menentang kesaksian Roh Allah itu sendiri? Karena kesaksian pribadi-Nya yang ada di dalam roh kita, kita bisa merasa damai. Yakinlah: jika Saksi-Nya ada di situ, Anda adalah Anak Allah.

Ketiga, Roh Kudus memeteraikan. Segel yang direkatkan yang kita gunakan pada surat biasa sekarang ini tidak begitu mengesankan. Segel itu dengan mudah dapat diabaikan dan dilanggar. Namun, pada zaman kuno, tetesan lilin yang ditera dengan cap resmi dari raja menjadikan berbahaya bila segel kerajaan itu dirusak.

Jadi, Roh yang mulia itu memeteraikan setiap orang percaya dengan kepemilikan semua berkat penebusan. Dalam hal ini, ini adalah segel Raja di atas segala raja yang tidak dapat dirusak. Melampaui meyakinkan kita pada saat ini bahwa kita telah ditebus, Roh Kudus memeteraikan kita dalam kepemilikan keselamatan yang permanen. Karena “ketika kamu percaya, [kamu] dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Roh Kudus itulah jaminan warisan kita” sampai pada hari Kristus datang kembali (Ef. 1:13-14). Ini adalah sebuah fakta yang pasti. Karya pemeteraian-Nya tidak dapat dibatalkan—semua ini “untuk memuji kemuliaan-Nya” (ay. 14).

Keempat, Roh Kudus menguduskan. Rasul Paulus memakai perbandingan dan kontras yang aneh untuk menggambarkan karya Roh Kudus ini: “Janganlah mabuk oleh anggur… tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Ef. 5:18). Apa yang terjadi ketika seseorang mabuk? Alkohol dari spirits (“minuman keras”) masuk ke aliran darahnya dan meresapi setiap bagian tubuh orang tersebut. Ia berjalan dan berbicara secara berbeda, dan ia melihat, mendengar, dan bertindak secara berbeda. Begitu pula pengalaman setiap orang yang “penuh” dengan Roh Kudus. Kekudusan Allah, kekudusan Roh Kudus, meresapi setiap bagian orang itu. Ia pergi dengan gembira ke tempat-tempat ibadah, pujian, dan doa—tempat yang ia tidak akan pergi jika tidak dipenuhi Roh. Ia bicara dengan berani tentang Yesus Kristus. Ia menanggapi penindasan dengan kasih.

Pengalaman dipenuhi Roh Kudus bukanlah sesuatu yang terjadi cuma sekali lalu selesai. Frasa tersebut secara harfiah berkata, “Dipenuhilah dengan Roh.” Paulus memanggil kita untuk terus-menerus, senantiasa, makin diresapi secara luas dalam segala hal yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan oleh pengaruh Roh Allah yang tinggal di dalam kita. Ini adalah pengalaman hidup yang terbaik yang dapat terjadi.

Kelima, Roh menghasilkan buah dalam hidup setiap orang percaya. Betapa luar biasanya buah itu. Tidak kurang dari sembilan produk spesifik Roh Kudus didaftarkan di dalam Galatia 5:22-23. Bahkan untuk ketiga buah yang pertama, dunia akan memberikan segalanya untuk memperolehnya: “kasih, sukacita, damai sejahtera”. Namun, dunia tidak tahu bahwa hanya Roh Allah yang tinggal dalam seseorang yang mampu menghasilkan kasih, sukacita, dan damai sejahtera sejati dalam hati orang-orang berdosa. Ia bisa, dan akan, melakukannya ketika tidak ada yang lain yang bisa.

Keenam, Roh Kudus membagi-bagikan karunia. Tidak pernah seorang percaya menerima semua karunia, tetapi setiap orang percaya menerima karunia tertentu untuk melayani orang lain (1Kor. 12:7-11). Beberapa orang mengklaim bahwa kecuali seseorang menunjukkan karunia “berkata-kata dalam bahasa lidah”, ia tidak mungkin telah dibaptis oleh Roh Kudus. Namun, Paulus dengan jelas menyatakan: tidak semua orang percaya menerima karunia berkata-kata dalam bahasa lidah, tetapi semuanya telah dibaptis menjadi satu tubuh Kristus dalam satu Roh (1Kor. 12:13, 29-30). Selama zaman para rasul, Allah memberi karunia-karunia pewahyuan seperti bahasa lidah dan nubuat yang dibutuhkan untuk memberikan dasar yang kokoh dari kebenaran yang diwahyukan untuk menetapkan tuntunan yang infalibel bagi kehidupan Gereja sepanjang zaman (Ef. 2:19-20). Karunia-karunia ini penting untuk meletakkan dasar Gereja di atas kebenaran yang diwahyukan yang kokoh dan tak tergoyahkan. Namun, karena dasar ini tidak perlu diletakkan lagi pada setiap generasi baru, karunia-karunia khusus yang terkait dengan wahyu baru ini tidak terlihat lagi sejak zaman rasuli.

Namun, kepada setiap anggota tubuh Kristus, Roh Kudus memberi kapasitas rohani untuk melayani orang lain. Bagi beberapa orang, itu adalah karunia berkhotbah atau mengajar firman Allah (Ef. 4:11). Bagi yang lain, itu adalah karunia untuk menasihati (Rm. 12:8). Bagi yang lain lagi, karunia untuk memimpin (ay. 8). Tidak ada kepuasan hidup yang lebih besar daripada ketika kita menggunakan karunia-karunia rohani kita secara maksimal. Jika kita menjadi berkat bagi orang lain, kita tahu bahwa kitalah yang paling diberkati. Pengalaman-pengalaman yang paling memuaskan hati ini hanya akan terjadi melalui pelaksanaan karunia-karunia Allah, yang diberikan kepada kita oleh Roh Kudus.

Ketujuh, Roh Kudus memberikan kuasa untuk menjadi saksi di seluruh dunia. Kristus yang telah bangkit menjanjikannya: “Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku” (Kis. 1:8). Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, dan kuasa-Nya untuk bersaksi ke seluruh dunia tersedia sejak itu. Selama dua ribu tahun, Injil Kristen terus menyebar ke semua benua dan bangsa.

Dengan kedatangan Roh Allah ke dalam hidup kita, kita menerima kuasa untuk memberi kesaksian ke seluruh dunia, juga memberi kesaksian di tempat lokal melalui doa, kesaksian, pemberian, dan keberangkatan kita. Sungguh sebuah hak istimewa yang besar menjadi alat kesaksian ke seluruh dunia oleh kuasa Roh Kristus.

Roh Kudus sungguh melakukan karya agung, di luar maupun di dalam. Penghargaan yang tepat atas tindakan-tindakan-Nya yang dahsyat seharusnya menggugah kepatuhan dan pujian dari kita, sebab Ia melaksanakan hal-hal yang jauh melebihi ujaran-ujaran spontan yang menginspirasi di dalam persekutuan orang percaya yang terjadi sesekali. Penciptaan, penebusan, dan penyempurnaan adalah bagian dari karya Roh Kudus yang ajaib.

Catatan editor: Artikel ini diterbitkan pertama kali pada Juli 2004.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

O. Palmer Robertson
O. Palmer Robertson
Dr. O. Palmer Robertson adalah pendiri Consummation Ministries. Sebelumnya, ia adalah direktur dan vice chancellor dari African Bible College di Uganda. Ia adalah penulis dari beberapa buku, di antaranya The Christ of the Covenants dan The Christ of the Prophets.