
Kemediokeran yang Luar Biasa
27 Mei 2026
Sifat-Sifat Kasih
01 Juni 2026Karena Allah Begitu Mengasihi Dunia
Setiap orang Kristen percaya pada penebusan terbatas. Hal itu mungkin terdengar menggelikan bagi teman-teman saya yang berhaluan Arminian karena selama ini diasumsikan bahwa hanya kaum Calvinis yang meyakini huruf “L” yang menakutkan dalam akronim TULIP. Namun, jika kematian Yesus Kristus diakui sebagai penebusan aktual (dan bukan sekadar penebusan potensial), maka pertanyaan mengenai batasan tidak dapat dihindari, kecuali jika Anda memercayai kebohongan dari universalisme.
Pengakuan bahwa kematian Kristus benar-benar menebus dosa-dosalah yang menentukan penafsiran kita atas teks-teks luar biasa yang berbicara tentang betapa luas karya penyelamatan-Nya. Misalnya, Yohanes menulis bahwa Yesus adalah “pendamaian untuk segala dosa kita dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1Yoh. 2:2). Pilihannya di sini bukanlah antara Calvinisme dan Arminianisme. Pilihannya adalah antara Calvinisme dan universalisme. Jika “dunia” berarti “setiap orang yang pernah hidup atau akan hidup”, maka semua orang akan diselamatkan karena natur pendamaian yang objektif. Tidak ada dosa yang dibiarkan tidak dibayar — termasuk dosa ketidakpercayaan.
Tidak ada seorang pun yang menganggap serius ajaran Alkitab tentang neraka dan penghakiman akan pernah mendukung paham universalisme; ini berarti bahwa Yohanes menggunakan kata “dunia” di sini untuk merujuk pada sesuatu yang lain dari setiap orang yang pernah hidup (seperti yang sering dilakukannya; lihat Yoh. 14:19; 16:8; 18:20; 1Yoh. 2:15). Tujuan Yohanes adalah menegaskan bahwa Yesus adalah satu-satunya Juru Selamat yang dimiliki dunia. Kematian-Nya menebus manusia bukan hanya dari kalangan orang Yahudi atau orang Amerika atau dari kelompok mana pun, melainkan dari seluruh dunia.
Calvinisme melindungi dari kesesatan universalisme di satu sisi dan kesalahan dalam mereduksi natur objektif penebusan di sisi lain. Kaum Calvinis mengakui bahwa kematian Yesus menyelamatkan semua orang yang menjadi sasaran penebusan tersebut. Dengan kata lain, penebusan dipandang memiliki cakupan dan tujuan yang terbatas. Semua orang yang baginya Kristus mati akan diselamatkan.
Namun, Arminianisme tidak mungkin dapat mencegah kesalahan-kesalahan semacam itu. Kaum Arminian mengklaim bahwa kematian Yesus dimaksudkan untuk menyelamatkan setiap orang dalam sejarah tanpa benar-benar melakukannya. Dengan demikian, penebusan itu tidak menyelamatkan semua orang yang menjadi sasarannya. Dengan kata lain, pandangan Arminian, meskipun mengklaim bahwa penebusan itu tidak terbatas dalam jangkauannya, terpaksa menyimpulkan bahwa penebusan itu terbatas dalam efektivitasnya. Penebusan itu gagal mencapai tujuan universalnya.
Perbedaan antara kedua pandangan ini ibarat perbedaan antara jembatan sempit yang membentang hingga ke seberang lembah dan jembatan yang lebih lebar yang hanya membentang setengah jalan. Siapa yang peduli seberapa lebar jembatannya jika jembatan itu tidak bisa membawa Anda ke seberang?
Perbedaan inilah yang membuat Charles Spurgeon berpendapat bahwa Arminianisme, jauh melebihi Calvinisme, membatasi penebusan Kristus. Kaum Arminianisme mengatakan:
“Kristus telah mati agar siapa pun dapat diselamatkan jika” — dan kemudian diikuti oleh syarat-syarat tertentu untuk keselamatan. Nah, siapakah yang membatasi kematian Kristus? Ya, Anda. Anda mengatakan bahwa Kristus tidak mati untuk menjamin keselamatan siapa pun. Maaf, ketika Anda mengatakan bahwa kami membatasi kematian Kristus; kami berkata, “Bukan, Tuan yang terhormat, Andalah yang melakukannya.” Kami berkata bahwa Kristus mati sedemikian rupa sehingga Ia dengan pasti menjamin keselamatan bagi banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, yang melalui kematian Kristus bukan hanya mungkin diselamatkan, melainkan benar-benar diselamatkan, harus diselamatkan, dan tidak mungkin menghadapi risiko untuk tidak diselamatkan dengan alasan apa pun. Silakan Anda memercayai penebusan Anda; Anda boleh tetap memegangnya. Kami tidak akan pernah menyangkal penebusan kami demi hal itu. (Khotbah-khotbah Spurgeon, jilid 4, hlm. 228)
Lalu, apa sebenarnya pandangan “kita” tentang penebusan yang begitu gigih dipertahankan oleh Spurgeon? Secara spesifik, ini adalah pemahaman bahwa Yesus benar-benar telah menebus semua orang yang Ia maksudkan untuk ditebus ketika Ia mencurahkan darah-Nya di kayu salib. Sama seperti imam besar di bawah perjanjian lama mengenakan nama-nama kedua belas suku Israel di penutup dadanya saat ia melaksanakan pelayanan persembahan kurban, demikian pula Imam Besar kita yang Agung di bawah perjanjian baru memiliki nama-nama umat-Nya terukir di hati-Nya saat Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban untuk dosa-dosa mereka.
Dalam Yohanes 10, Yesus dengan jelas menyatakan tujuan khusus dari kematian-Nya yang menebus. Ia menyebut diri-Nya sebagai “Gembala yang Baik” yang “memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya” (Yoh. 10:11). Tak lama setelah itu, Ia menggambarkan domba-domba-Nya sebagai mereka yang telah diberikan kepada-Nya oleh Bapa-Nya. Lebih lanjut, Ia dengan gamblang menyatakan kepada beberapa orang Israel yang tidak percaya, “Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku” (Yoh. 10:26–29).
Doa Tuhan kita sebagai Imam Besar dalam Yohanes 17 menunjukkan cakupan yang sama terbatasnya. Saat Ia bersiap menghadapi kematian-Nya sebagai kurban bagi umat-Nya, Ia berdoa secara khusus—bahkan, secara eksklusif—bagi mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah diberikan Bapa kepada-Nya dari dunia (Yoh. 17:6). Oleh karena itu, doa syafaat-Nya sebagai imam terbatas pada mereka: “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu” (Yoh. 17:9). Tidak terbayangkan bahwa Yesus akan gagal berdoa bagi mereka yang untuknya Ia akan mati sebagai kurban pengganti. Orang-orang yang Ia doakan sama dengan orang-orang yang baginya Ia mati.
Doktrin penebusan terbatas, atau penebusan partikular, tidak menyiratkan adanya kekurangan apa pun dalam kematian Kristus. Oleh sebab siapa Dia yang menderita, kematian Yesus memiliki nilai yang tak terhingga. Ajaran Kanon Dort berupaya keras untuk menegaskan hal ini dan dengan jelas menyatakan bahwa “kematian Anak Allah . . . memiliki arti dan nilai yang tak terhingga, sangatlah cukup untuk menebus dosa-dosa seluruh dunia” (2.3).
Keterbatasan dalam penebusan bersumber dari maksud dan tujuan Allah dalam mengutus Yesus ke kayu salib. Karya penebusan Kristus dirancang sebagai penebusan partikular bagi umat-Nya sendiri — mereka yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Kematian-Nya dimaksudkan untuk menyelamatkan orang-orang pilihan.
Yesus mengajarkan bahwa seluruh pelayanan penebusan-Nya dilakukan sebagai penggenapan akan rencana ilahi yang telah diatur sebelumnya. Inilah yang dimaksudkan-Nya dalam Yohanes 6:38–39:
Sebab, Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku: supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku Aku tidak kehilangan satupun, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
Para teolog menyebut pengaturan ini sebagai perjanjian penebusan, di mana, sebelum sejarah dimulai, Bapa, Anak, dan Roh Kudus telah berjanji untuk membawa keselamatan bagi umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Semata-mata karena belas kasihan dan anugerah, Bapa memilih individu-individu untuk diselamatkan (Rm. 9:11–13; Ef. 1:4; 2Tes. 2:13). Orang-orang pilihan ini diberikan-Nya kepada Anak-Nya (Yoh. 6:37, 39; 17:6, 9, 24) yang mendedikasikan diri-Nya untuk menggenapkan keselamatan mereka melalui misi penebusan-Nya dalam inkarnasi (Mrk. 10:45; Yoh. 10:11). Sesuai dengan rencana ilahi ini, Roh Kudus diutus ke dalam dunia oleh Bapa dan Anak (Yoh. 15:26; 16:5–15) untuk menerapkan karya Kristus kepada mereka yang diberikan Bapa kepada Anak dan yang bagi siapa Anak itu mati.
Pandangan tentang penebusan ini menjamin keberhasilan pemberitaan Injil. Allah memiliki umat yang dijamin akan diselamatkan melalui pemberitaan Injil. Ia telah memilih mereka. Kristus telah mati bagi mereka. Roh Kudus akan melahirbarukan mereka melalui pesan keselamatan. Kebenaran ini yang membuat Paulus tetap teguh menghadapi situasi sulit di Korintus (Kis. 18:9–10), dan kebenaran ini pula yang akan membuat kita bertekun dalam upaya penginjilan kita saat ini—bukan hanya secara lokal, tetapi juga secara global (Why. 5:9).


