
Ketika Saya Merasa Buntu
25 Mei 2026
Karena Allah Begitu Mengasihi Dunia
29 Mei 2026Kemediokeran yang Luar Biasa
Dalam buku saya The Hunger for Significance (Hasrat akan Signifikansi), saya membahas hasrat yang umum dijumpai di antara kita untuk menemukan landasan demi martabat, nilai, dan arti dalam hidup kita. Saat itu saya menulis: “Manusia modern memiliki kekosongan yang menyesakkan. Kekosongan yang kita rasakan tidak dapat dipuaskan dengan mobil baru, pekerjaan yang lebih baik, atau rumah yang lebih besar. Kekosongan itu hanya dapat diisi dengan memahami bahwa setiap hidup manusia itu signifikan. Hidup kita tidak dapat direduksi menjadi sesuatu yang tidak bermakna.”
Pencarian zaman modern akan signifikansi dan martabat manusia sering kali dipicu oleh aura keputusasaan yang begitu berat, yang merasuki pemikiran budaya tempat kita hidup. Kita berulang kali diberi tahu bahwa kita hanyalah kecelakaan kosmik yang muncul secara kebetulan dari lumpur. Asal-usul kita tidak bermakna sama sekali dan akhir kita adalah kenihilan. Namun, di tengah dua kutub keputusasaan tersebut, pencarian akan signifikansi dan martabat sering kali diikuti oleh perasaan mendesak.
Dalam edisi Tabletalk kali ini, kita akan membahas pencarian akan keunggulan, yang dalam banyak kasus tak terpisahkan dari aspirasi mendasar kita akan signifikansi. Ada berbagai motif yang berbeda dan terkadang bertentangan dalam pencarian akan keunggulan. Pencarian tersebut bisa didasarkan semata-mata pada keinginan untuk unggul dalam sesuatu yang sedang kita geluti. Di satu sisi, motif untuk mencapai keunggulan semacam ini bisa jadi semacam bentuk dominasi kompetitif. Secara historis, kita telah mendefinisikan kemanusiaan kita melalui istilah Homo sapiens. Friedrich Nietzsche, filsuf nihilistik abad ke-19, berpendapat bahwa hal yang paling mendefinisikan keberadaan manusia bukanlah kebijaksanaan (sapiens) kita, melainkan kehendak kita untuk berkuasa, kehendak kita untuk menaklukkan. Hasrat akan kekuasaan yang menggerakkan para tiran dan diktator adalah sesuatu yang secara khusus kita anggap sebagai kejahatan, tetapi Nietzsche menganggapnya sebagai kebajikan. Baginya, manusia super (übermensch) adalah seseorang yang terutama adalah seorang penakluk. Dia adalah orang yang membiarkan kehendak inherennya akan kekuasaan bukan hanya tidak dikendalikan, tetapi juga dipuaskan dengan nafsu melalui segala cara yang tersedia. Dalam dunia tempat kita hidup, kehendak untuk berkuasa sering dipandang sebagai keinginan untuk menaiki tangga korporat, mencapai puncak otoritas dan kekuasaan, supaya kita dapat mendominasi orang lain. Dalam pengertian ini, hasrat kompetitif untuk mendominasi yang memungkinkan kita menguasai orang-orang yang lebih lemah bukanlah manifestasi dari sifat inheren dari kemanusiaan, melainkan manifestasi dari sifat inheren dari kejatuhan manusia. Ini adalah manifestasi dari kedalaman kerusakan yang bersembunyi di dalam hati setiap kita.
Di sisi lain, hasrat yang kuat untuk unggul mungkin didorong oleh upaya mencapai tujuan-tujuan pencapaian. Aspirasi akan signifikansi yang melekat pada setiap manusia, pada dirinya sendiri, bukanlah hasrat yang berdosa. Aspirasi akan signifikansi ini, menurut keyakinan saya, diberikan kepada kita oleh Pencipta kita. Sebagai ciptaan-Nya, yang dicipta menurut gambar-Nya, kita tahu bahwa martabat yang kita miliki bukan intrinsik melainkan ekstrinsik. Artinya, martabat itu diberikan kepada kita oleh Allah. Kita memiliki nilai dan arti, karena Allah mendeklarasikan kita berharga. Allahlah yang memanggil kita untuk bekerja sampai ke tingkat keunggulan dan pencapaian tertinggi yang mampu kita raih. Melalui tangan-Nya-lah kita menerima karunia-karunia untuk digunakan di dunia ini. Penggunaan yang setia atas karunia-karunia tersebutlah yang seharusnya mendorong hasrat kita untuk unggul. Pada dirinya sendiri, aspirasi akan signifikansi bukanlah hal yang buruk, tetapi memang, hasrat baik yang seperti ini, yang berdetak di hati manusia itu, dapat menjadi liar. Aspirasi akan signifikansi, jika tidak diimbangi dengan etika yang saleh, dapat dengan mudah berubah menjadi kehendak untuk berkuasa ala Nietzsche.
Motif yang sah untuk mencapai keunggulan adalah mengejar pencapaian demi tujuan akhir memuliakan Allah. Itulah tujuan utama mengapa kita diciptakan, yaitu untuk menjadi saksi akan kemuliaan-Nya. Salah satu hal yang tidak memberikan kesaksian akan kemuliaan Allah adalah kecanduan manusia terhadap kemediokeran, kepuasan diri yang sombong terhadap keadaan yang ada (status quo). Sebaliknya, Kitab Suci memanggil kita untuk mengejar panggilan yang tinggi — panggilan yang tinggi yang adalah milik kita di dalam Kristus Yesus. Panggilan yang begitu tinggi tidak dapat dicapai jika kita tenggelam dalam keengganan. Keengganan dan kemalasan adalah dua keburukan kembar yang dikecam dengan tegas dan jelas oleh Kitab Suci. Alasan utama kita gagal mencapai keunggulan adalah karena kita tidak bersedia bekerja sedemikian rupa hingga keunggulan dapat dicapai. Tidak ada orang yang mencapai keunggulan dalam segala usaha apa pun yang berharga tanpa kerja keras yang tekun dan disiplin. Musuh dari pencapaian dalam arti ini adalah keengganan. Di sisi lain, bahkan dengan hati manusia yang paling dikuduskan sekalipun, pencarian akan keunggulan akan selalu ternoda oleh rasa bangga yang sudah rusak. Jika kita berhasil mencapai tujuan tertinggi yang mungkin dicapai di dunia ini, mencapai puncak pencapaian manusia dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, kita tetap saja, paling banter, hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna yang tidak berhak membanggakan apa pun kecuali kemuliaan Allah dan penebusan yang berharga yang kita miliki dalam Kristus Yesus.
Oleh sebab itu, marilah kita berupaya untuk unggul, marilah kita memacu diri hingga batas ketahanan tertinggi untuk mencapai tingkat keunggulan setinggi mungkin dalam segala hal yang kita lakukan, sambil pada saat yang sama selalu berjaga-jaga dengan waspada terhadap dorongan jahat kesombongan yang dapat merusak nilai dari usaha kita. Marilah kita bekerja keras, marilah kita menjadi unggul demi kemuliaan Allah. Segala kemuliaan hanya bagi Allah.


