
Mengapa Soteriologi (Doktrin Keselamatan) Reformed Penting
06 Mei 2026
Tantangan-Tantangan Kontemporer terhadap Soteriologi Kristen
11 Mei 2026Kontroversi Pertama: Augustinus vs. Pelagius
Kontroversi paling signifikan dalam gereja mula-mula yang berkaitan dengan doktrin keselamatan adalah kontroversi Pelagian. Hasil dari pertentangan pada abad kelima ini membentuk setiap perdebatan selanjutnya mengenai topik tersebut hingga dan termasuk perdebatan soteriologis pada masa Reformasi abad keenam belas. Di satu sisi kontroversi Pelagian, kita menemukan tokoh-tokoh seperti Pelagius, Caelestius, dan Julianus dari Eclanum. Di sisi yang berseberangan, kita menemukan tokoh-tokoh seperti Augustinus dan Jerome. Pada tahap lanjutan dari pertentangan ini, John Cassian mengambil posisi yang kemudian dikenal sebagai semi-Pelagianisme, tetapi untuk tujuan kita, kita akan berfokus pada ajaran terpenting dari tokoh-tokoh awal yang utama.
Siapakah Pelagius?
Pelagius adalah seorang biarawan asal Inggris, dan pemahaman tentang monastisisme diperlukan untuk memahami konteks kontroversi Pelagian. Pada abad ketiga, sebuah gerakan asketis Kristen dimulai yang mewujudnyatakan dirinya dalam perkembangan monastisisme. Para biarawan, baik secara individu maupun dalam komunitas, mengadopsi gaya hidup asketis yang ketat yang dimaksudkan untuk membantu mereka mencapai keselamatan. Asketisme mencakup segala macam praktik yang dimaksudkan untuk membantu biarawan mencapai disiplin diri atas keinginan daging agar ia dapat mencapai kesatuan dengan Allah.
Augustinus tidak sepenuhnya menolak praktik-praktik monastik, tetapi dalam Buku 10 dari karyanya yang terkenal berjudul Confessions, ia menulis doa yang kini terkenal: “Berikanlah apa yang Engkau perintahkan, dan perintahkanlah apa yang Engkau kehendaki.” Itu adalah permohonan kepada Allah agar memberikan kepada Augustinus kemampuan untuk memenuhi perintah-perintah-Nya. Pelagius percaya bahwa doa semacam itu meremehkan seluruh gaya hidup monastik yang penuh disiplin diri yang ketat dengan memberikan alasan kepada para biarawan yang malas untuk tidak menaati perintah-perintah Allah: “Itu salah Allah. Dia tidak memberi saya anugerah untuk memungkinkan saya menaati-Nya.” Oleh karena itu, Pelagius menolak pandangan Augustinus.
Penolakan Pelagius terhadap Dosa Asal
Untuk memahami akar dari kontroversi ini, kita juga perlu memahami beberapa ajaran dasar Pelagius (dan Caelestius). Pertama, dan yang paling penting, Pelagius menolak konsep apapun tentang dosa asal. Ia telah lama berdebat dengan kaum Manikeisme, yang berpendapat bahwa manusia pada dasarnya jahat karena memiliki tubuh jasmani. Menanggapi hal itu, Pelagius berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik karena mereka diciptakan oleh Allah.
Ketika Pelagius mendengar guru-guru seperti Augustinus mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan baik, tetapi juga telah rusak akibat kejatuhan Adam, ia berpikir bahwa hal itu terlalu mirip dengan Manikeisme. Sebagai tanggapan, Pelagius mengatakan bahwa dosa Adam hanya berdampak pada Adam sendiri. Ia berpendapat bahwa kita berbuat dosa dengan meniru Adam, tetapi kita melakukannya bukan karena natur kita telah rusak. Sebaliknya, sebagai keturunan Adam, kita mengadopsi kebiasaan berbuat dosa dengan cara meniru, sama seperti anak-anak secara alami mengadopsi kebiasaan dan pola bicara orang tua mereka. Seiring waktu, kebiasaan berdosa, seperti logat, menjadi tertanam dalam diri kita.
Pandangan Unik Pelagius tentang Anugerah
Pelagius akan membantah bahwa pandangannya tidak memberikan tempat bagi anugerah Allah dalam keselamatan, tetapi pandangannya tentang anugerah mungkin sulit dipahami karena sangat berbeda dari doktrin anugerah lainnya, baik dari Katolik Roma maupun Protestan.
Pertama-tama, menurut Pelagius, pemberian Allah berupa wahyu dalam Kitab Suci adalah pemberian yang penuh anugerah. Allah tidak wajib memberikan hukum-Nya kepada kita. Kedua, pemberian Yesus adalah pemberian yang penuh anugerah. Kini kita memiliki Adam yang baru untuk diteladani. Jika kita meneladani Yesus, kita secara bertahap akan mengembangkan kebiasaan baru yang berupa ketaatan, dan karena Kristus tidak berdosa, kita pun, jika kita memilih dengan benar, dapat mencapai ketidakberdosaan. Ketiga, dan yang paling penting, natur manusia kita sendiri adalah pemberian yang penuh anugerah. Kita tidak meminta untuk diciptakan. Bagian dari natur kita adalah kemampuan untuk memilih yang baik atau yang jahat. Kemampuan itu adalah pemberian dari Allah yang bukan merupakan hasil kerja atau usaha kita. Dengan kata lain, Allah dengan penuh anugerah memberi kita kehendak bebas yang dengannya kita dapat memilih untuk meneladani Yesus daripada Adam. Jadi, bahkan Pelagius pun akan mengklaim percaya bahwa keselamatan adalah oleh anugerah.
Tanggapan Augustinus
Augustinus menanggapi hal itu dengan menyatakan bahwa Pelagius sama sekali gagal memahami hakikat masalah manusia, dan akibatnya, ia sama sekali gagal memahami solusinya. Dengan menolak doktrin dosa asal dan kerusakan natur manusia yang diakibatkan oleh kejatuhan Adam, Pelagius menciptakan sebuah doktrin anugerah yang sama sekali bukanlah anugerah. Augustinus menegaskan bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar dalam natur manusia sebelum dan sesudah kejatuhan Adam. Ia juga bersikeras bahwa natur Adam yang telah rusak diturunkan kepada seluruh keturunannya. Bagi Augustinus, anugerah adalah pemberian yang diberikan kepada orang berdosa yang tidak layak menerimanya.
Penting untuk dipahami bahwa Augustinus juga mulai mengembangkan doktrin anugerah dengan cara-cara yang akan berkontribusi pada perkembangan sistem soteriologi eklesio-sakerdotal abad pertengahan yang kini menjadi ciri khas Katolik Roma. Namun, untuk tujuan kita di sini, poin utama dalam kontroversi Pelagian adalah penegasan atas kebenaran Alkitabiah tentang doktrin dosa asal. Hal ini dijabarkan secara rinci dalam kanon-kanon Konsili Orange (529). Jika masalahnya tidak didiagnosis dengan akurat, tidak ada kemungkinan untuk memahami solusinya (doktrin keselamatan) dengan benar.
Dalam artikel kita berikutnya, kita akan membahas bagaimana Roma, meskipun dengan doktrin dosa asal, mengembangkan sebuah soteriologi yang terdistorsi sebagai akibat kesalahpahaman terhadap aspek lain dari masalah manusia.


