
Bagaimana Gereja Dapat Memperhatikan Anggotanya yang Difable?
17 Juli 2026
Mengapa Karakter Itu Penting dalam Pelayanan?
22 Juli 2026Apa Penghiburan Bagi Orang Kristen di dalam Kematian?
Firman Allah menggambarkan kematian sebagai konsekuensi menakutkan dari pemberontakan manusia terhadap Allah. Bahkan sebelum nenek moyang pertama kita jatuh ke dalam dosa, Sang Pencipta telah memperingatkan Adam dengan sangat jelas bahwa akibat dari pelanggaran terhadap hukum-Nya yang kudus adalah kematian: “Tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kau makan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati” (Kej. 2:17). Kematian macam apa yang dialami Adam dan Hawa setelah mereka melanggar hukum Allah?
Segera setelah menyatakan penghakiman terhadap Adam, Hawa, dan Ular penipu itu—dan mengutuk seluruh ciptaan karena pelanggaran Adam yang pertama—Allah “menghalau manusia” (Kej. 3:24) dari taman Eden, untuk mencegah ia mengambil buah dari pohon kehidupan “dan hidup untuk selama-lamanya” (Kej. 3:22). Sebagai makhluk ciptaan, Adam dan Hawa dihukum dengan kematian fisik, dan penerapan langsung dari hukuman tersebut terjadi dalam bentuk keterpisahan yang tak alami dari hadirat Pencipta mereka yang memberi kehidupan. Seperti halnya semua keterpisahan yang tidak alami, keterpisahan yang satu ini menyengat.
Ada sengat dalam maut, dan sengat itu adalah keterasingan dari Allah karena dosa. Namun, ada penghiburan dalam Injil. Kabar baik keselamatan adalah bahwa Allah yang telah menjatuhkan hukuman dan mengutuk tanah juga menyediakan pemulihan di dalam Kristus, Anak-Nya yang tunggal, keturunan perempuan yang dijanjikan, yang akan meremukkan kepala sang penipu yang membawa maut (Kej. 3:15). Seperti yang dituliskan Rasul Paulus: “Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Namun, syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Tuhan kita Yesus Kristus” (1Kor. 15:56–57). Kristus adalah Pendamai Agung antara Allah dan manusia (Kol. 1:20-22), dan sang Penakluk Agung atas dosa dan maut.
Ada penghiburan besar yang disediakan bahkan di dalam kematian, tetapi tidak pernah terpisahkan dari Kristus. Alkitab dengan kuat menekankan tiga dimensi penghiburan yang tersedia bagi orang Kristen ketika kita merenungkan kematian, khususnya ketika kematian itu sudah mendekat.
1. Kristus lebih berkuasa atas maut
Pertama, Kristus lebih berkuasa atas maut. Yesaya mencirikan kematian sebagai selimut kegelapan yang menyesakkan yang menyelubungi seluruh umat manusia ketika ia bernubuat:
Di atas gunung ini TUHAN akan mengoyak kain perkabungan
yang diselubungkan kepada segala suku bangsa
dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa. (Yes. 25:7)
Akan tetapi, Kristus lebih besar:
Ia akan menelan maut untuk seterusnya;
Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari semua muka;
aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi,
sebab TUHAN telah mengatakannya. (Yes. 25:8)
Inilah perkataan dan pernyataan yang pasti dari Allah: Ia tidak hanya akan menetralkan kuasa maut, tetapi juga menelan maut untuk selamanya. Ini menuntun kita kepada poin kedua.
2. Kristus telah menyelesaikan krisis keterasingan umat manusia
Kedua, Kristus telah menyingkirkan cela umat-Nya dengan mencurahkan darah-Nya sebagai kurban di kayu salib. Surat Ibrani menulis:
Sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja dipersembahkan untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya untuk kedua kalinya bukan untuk menanggung dosa, tetapi untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia. (Ibr. 9:27–28)
Kristus telah menyelesaikan krisis keterasingan umat manusia. Selain itu, Kristus tidak hanya telah memuaskan murka Allah yang adil dan membasuh dosa-dosa kita dengan darah-Nya, tetapi Ia “menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita” di kayu salib (Gal. 3:13). Ia telah membeli kita dengan darah-Nya dan membayar hukuman atas dosa-dosa kita untuk mempersembahkan kita kepada Allah sebagai milik-Nya yang bernilai dan berharga. Kita bukan milik kita sendiri, dan jelas kita tidak berada di bawah kuasa maut. Kita adalah milik Allah dalam Kristus.
3. Kita aman di dalam Kristus
Ketiga, dengan kuasa Allah kita telah dipindahkan dari kerajaan kegelapan (dan kematian) dan dibawa masuk ke dalam terang-Nya (dan hidup) yang ajaib: “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih; di dalam Dia kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa” (Kol. 1:13–14). Tidak ada apa pun—bahkan kematian fisik—dapat merampas kita dari tangan-Nya. Yesus berkata:
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku. Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka, dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. (Yoh. 10:26–29)
Di dalam hidup dan bahkan melalui kematian, kita aman di dalam Kristus.
Kesimpulan
Ada banyak misteri dalam kematian, dan gambaran samar-samar yang kita miliki sekarang tentang apa yang akan kita alami ketika tiba waktunya bagi kita untuk menyeberang ke dalam kekekalan bisa meresahkan. Seorang penulis merenungkan dengan tajam: “Betapa besar misteri kematian, yang menelan semua misteri kehidupan yang lebih kecil yang begitu membingungkan! Para pembaca, pada jam yang singkat itu kita akan menyentuh semuanya; dan penyingkapan agung akan terjadi setelah itu, dalam terang Takhta Allah.”1 Namun, bagi orang Kristen, janji yang menghiburkan adalah bahwa yang menanti kita setelah kematian adalah kebahagiaan kekal dalam hadirat Allah yang memberi kehidupan, yang “di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mzm. 16:11).
- B.M. Palmer, The Broken Home; or Lessons in Sorrow (New Orleans: E.S. Upton, 1890), 13–14. ↩


