Apakah Maria Lahir Tanpa Dosa?

15 Juli 2026

Apakah Maria Lahir Tanpa Dosa?

15 Juli 2026

Bagaimana Gereja Dapat Memperhatikan Anggotanya yang Difable?

Dalam beberapa minggu setelah dipanggil sebagai direktur pelayanan anak-anak di gereja saya saat ini, seorang penatua dan istrinya meminta untuk bertemu. Mereka mulai dengan pertanyaan yang berat ini: “Apakah Anda akan melayani semua anak di gereja kita, atau sebagian besar saja?” Setelah memberi jawaban yang tepat (tentu saja, semua anak) mereka melanjutkan dengan bertanya apa rencana saya untuk memperhatikan lima anak dan keluarganya yang bergumul dengan masalah disabilitas, yang juga merupakan anggota gereja kami. Pertanyaan-pertanyaan menantang ini meneguhkan hati saya dan mengguncang dunia pelayanan saya, dan mempersiapkan panggung untuk akhirnya memiliki pelayanan disabilitas yang berkembang di gereja kami.

Pertanyaan menyangkut bagaimana saya akan memperhatikan individu maupun keluarga dalam gereja yang bergumul dengan masalah disabilitas, pertama-tama saya jawab dengan menyadari tanggung jawab untuk memperhatikan semua anggota gereja. Pelayanan untuk disabilitas bukanlah opsional meski mungkin tidak banyak penyandang disabilitas di gereja Anda. Ini bukan sebuah pelayanan yang baru kita fokuskan setelah pelayanan-pelayanan lain “yang lebih penting” bagi anak-anak, pemuda, dll. Hampir semua gereja lokal mempunyai seseorang di antara mereka yang terdampak oleh disabilitas, baik jelas terlihat maupun lebih tidak terlihat. Pula, lebih banyak lagi orang di dalam komunitas kita yang rindu untuk dirangkul oleh gereja.

Di dalam 1 Korintus 12, Rasul Paulus menggambarkan Gereja sebagai satu tubuh Kristus yang terdiri dari banyak anggota. Setelah menjelaskan bahwa setiap anggota tersebut berbeda dan sekaligus dibutuhkan, ia menulis: “Anggota-anggota tubuh yang tampaknya paling lemah, justru yang paling dibutuhkan… supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan” (1Kor. 12:22, 25). Dalam menerapkan kebenaran ini pada para penyandang disabilitas, kita dipanggil bukan hanya untuk memperhatikan mereka tetapi juga untuk menyadari bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari tubuh Kristus.

Gereja tidak hanya digambarkan di dalam Alkitab sebagai tubuh Kristus, tetapi juga sebagai keluarga Allah. Jadi, ketika kita dipanggil untuk memperhatikan penyandang disabilitas sebagai bagian dari tubuh tersebut, kita harus melakukannya dengan hati kekeluargaan. Sebagai saudara dan saudari di dalam Kristus, kita memiliki ikatan keluarga dan kasih terhadap satu sama lain di dalam Kristus. Dengan mengingat dua gambaran tentang Gereja ini, berikut ini adalah lima implikasi praktis tentang bagaimana kita dapat memperhatikan individu dan keluarga yang bergumul dengan disabilitas:

Inklusi

Sebagai keluarga gereja, kita seharusnya ingin agar semua orang terinklusi. Berbagai disabilitas membuat penyandangnya sulit terlibat dan menjadi bagian tubuh yang berfungsi dengan baik. Kita harus memperhatikan setiap area pelayanan di gereja, dari ibadah sampai pemuridan sampai misi, dll., dan bertanya bagaimana kita dapat memastikan semua anggota terinklusi. Kita harus melakukan semua yang dapat kita lakukan untuk membuat para penyandang disabilitas tidak hanya terinklusi, tetapi benar-benar menjadi bagian (Ef. 2:19). 

Aksesibilitas

Salah satu cara yang lebih nyata dalam memperhatikan para penyandang disabilitas adalah menjadikan gedung gereja kita dapat diakses. Bagaimana semua orang bisa beribadah dan dimuridkan bersama jika kita tidak bisa berkumpul bersama? Menjadikan semua fasilitas gereja dapat diakses oleh siapa saja selalu merupakan prioritas. Namun, kita harus juga berusaha membuat seluruh program pelayanan kita dapat diakses oleh semua orang. Bagaimana kita bisa memperhatikan orang yang sulit mendengar atau melihat, yang memerlukan ruang yang lebih tenang, atau yang mengalami keterbelakangan mental? Apakah orang tertentu memerlukan pendamping untuk mengakses Sekolah Minggu, Pendalaman Alkitab, dan kegiatan pelayanan yang lain? Sebagai keluarga gereja, kita seharusnya berusaha memberi akses penuh ke dalam kehidupan keluarga bagi semua anggota.

Berbagi Karunia

Semua anggota keluarga Allah telah diberikan karunia rohani untuk kebaikan bersama (1Kor. 12:7). Ini juga mencakup semua orang Kristen penyandang disabilitas. Jadi, ketika kita seharusnya melayani dan memperhatikan para penyandang disabilitas, kita juga harus memuridkan dan memperlengkapi mereka untuk memakai karunia mereka untuk memuliakan Allah dan melayani orang lain. Keluarga gereja tidak lengkap tanpa karunia dan pelayanan yang dapat dilakukan para penyandang disabilitas.

Hubungan yang Nyata

Dunia cenderung tidak melihat para penyandang disabilitas sebagai manusia utuh. Bahkan, orang Kristen kadang hanya melihat disabilitas dan bukan orangnya. Ketika kita merangkul satu sama lain sebagai keluarga, kita mengusahakan hubungan yang nyata dengan manusia yang nyata. Kita harus melampaui sekadar “merawat” penyandang disabilitas dan benar-benar memperhatikan mereka. Kenali kisah mereka. Kenali diri mereka. Kasihi mereka.

Kesempatan Istirahat bagi Caregiver

Cara terakhir yang dapat dilakukan gereja untuk memperhatikan para penyandang disabilitas adalah dengan memperhatikan caregiver mereka. Menawarkan kepada para orang tua waktu malam keluar atau beberapa jam istirahat dari kesibukan merawat yang tiada henti adalah hal yang penting bagi perhatian jangka panjang. Bagi kebanyakan orang, menemukan waktu istirahat dari kesibukan biasanya merupakan tugas yang sederhana. Namun, para keluarga yang bergumul dengan disabilitas memerlukan pertolongan dari keluarga gereja mereka untuk mendapatkan istirahat dan penyegaran bagi tubuh dan jiwa mereka.

Kesimpulan 

Dalam dunia kita yang sering ditandai dengan isolasi, perpecahan, dan konflik, orang Kristen juga bisa dengan mudah menjadi terputus hubungannya satu sama lain. Namun, sebagai gereja, kita seharusnya menghidupi realitas ganda kita: kita adalah tubuh Kristus yang saling terhubung satu sama lain, dan kita adalah keluarga Allah, yang dipanggil untuk mengasihi dan memperhatikan satu sama lain. Panggilan untuk menjalankan pelayanan bagi penyandang disabilitas adalah panggilan untuk memperhatikan seluruh umat Allah.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
John Kwasny

John Kwasny

Dr. John C. Kwasny adalah direktur pelayanan eksekutif pada Pear Orchard Presbyterian Church di Ridgeland, Mississippi, direktur eksekutif dari One Story Ministries, dan dosen tamu bidang konseling pastoral di Reformed Theological Seminary di Jackson, Mississippi. Ia telah menulis beberapa buku, termasuk: Suffering in 3-D: Connecting the Church to Disease, Disability, and Disorder.