
Apakah Pernikahan Bersifat Kekal?
13 Juli 2026
Bagaimana Gereja Dapat Memperhatikan Anggotanya yang Difable?
17 Juli 2026Apakah Maria Lahir Tanpa Dosa?
Pertanyaan yang sulit menuntut jawaban yang kompleks. “Apakah Maria lahir tanpa dosa?” bukanlah sebuah pertanyaan yang sulit, dan jawabannya jelas: Tidak. Titik. Alkitab tegas dalam hal ini: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak” (Rm. 3:10). Tidak terkecuali Maria. Selanjutnya, Paulus mengatakan bahwa “dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 5:12).
Andai kita berpegang pada Alkitab saja, maka tuntaslah artikel ini. Namun, karena Gereja Katolik Roma tidak berpegang pada Alkitab sebagai otoritas tertinggi, jawaban yang diberikannya jadi berbeda secara radikal.
Pada tanggal 8 Desember setiap tahun, kesakralan tentang Maria yang dikandung tanpa noda dirayakan. Pada perayaan ini, Gereja Katolik Roma merenungkan kepercayaan bahwa Maria sendiri diluputkan dari dosa asal. Pandangan ini telah menjadi bagian dari ajaran dan praktik devosional Gereja Katolik Roma selama berabad-abad. Namun, barulah pada tahun 1854, konsep Maria dikandung tanpa noda (Maria imakulata) secara resmi diperkenalkan oleh Paus Pius IX sebagai dogma, menjadikannya sebuah kepercayaan Gereja Katolik Roma yang mengikat dan tak dapat diubah. Berikut adalah pernyataan persis dari dogma ini sebagaimana tertulis dalam bula paus yang berjudul Ineffabilis Deus:
Kami menyatakan, meneguhkan, dan mendefinisikan bahwa doktrin yang menegaskan bahwa Perawan Maria Penuh Karunia, sejak titik awal dalam kandungan, oleh suatu anugerah dan hak istimewa dari Allah yang mahakuasa, dan mengingat jasa Yesus Kristus, Juru Selamat umat manusia, diluputkan dari segala noda dosa asal, merupakan doktrin yang disingkapkan Allah dan, karenanya, harus dipercaya dengan teguh dan terus-menerus oleh semua orang percaya.
Meski ungkapan menyatakan, mendefinisikan, dan meneguhkan yang dipakai merupakan bahasa yang berani dan konklusif, sulit bagi kita untuk menerima dogma tentang Maria ini dari perspektif Alkitab. Tidak ada satu pun petunjuk yang mendukung keyakinan ini di dalam Alkitab. Bagaimana mungkin pandangan demikian ditinggikan menjadi dogma jika firman Allah bungkam mengenainya?
Namun, selalu menarik bila kita mendengarkan cara teologi Katolik Roma berargumen mendukung doktrin Maria imakulata dengan mencoba mengaitkannya dengan ajaran Alkitab. Satu peristiwa penting terkait hal ini merupakan pernyataan yang diberikan oleh Paus Fransiskus pada tanggal 8 Desember 2016. Dalam pernyataannya, Paus tersebut berpendapat bahwa Yesus tidak datang sebagai seorang dewasa yang “sudah besar dan kuat”, tetapi Ia memutuskan “mengikuti perjalanan hidup seorang manusia” sebagai Dia yang “dijadikan setara dengan kita dalam segala hal, kecuali dalam satu hal…dosa.” Karena itu, “Ia memilih Maria, satu-satunya ciptaan yang tidak berdosa, tanpa noda.” Ia mencatat bahwa ketika malaikat menyebut Maria, “dia disapa ‘penuh karunia’”, yang Paus artikan bahwa sejak semula “tidak ada ruang bagi dosa” di dalam Maria. Ia lalu berkata, “Dan ketika kita melihat kepadanya, kita pun menyadari keindahan ini: kita memanggilnya ‘penuh karunia’ tanpa sedikit pun bayang-bayang kejahatan.”
Ayat Alkitab yang dirujuk oleh Paus tersebut adalah Lukas 1:28, di mana Maria disapa oleh malaikat Gabriel sebagai “engkau yang dikaruniai”. Vulgata, versi Alkitab bahasa Latin pada akhir abad keempat, menerjemahkan ungkapan ini menjadi “gratia plena” (penuh karunia), dan dengan demikian, membuka segala macam kesalahpahaman, seakan Maria memiliki anugerah secara penuh pada dirinya sendiri. Terjemahan ini telah dipahami menyiratkan bahwa Maria begitu penuh dengan anugerah sehingga ia pasti telah dikandung tanpa dosa asal.
Akan tetapi, tidak ada petunjuk apa pun dalam teks tersebut bahwa Maria “penuh” dengan karunia, dan karenanya, “bebas” dari dosa. Frasa “engkau yang dikaruniai” mengindikasikan bahwa dia sebenarnya tidak layak menerima karunia Allah, sama seperti kita semua. Ini selanjutnya didukung oleh kenyataan bahwa Maria menyebut Allah sebagai “Juru Selamat”nya (Luk. 1:47), menunjukkan bahwa ia melihat dirinya membutuhkan keselamatan dari Allah, sama seperti seluruh umat manusia lainnya. Tidak ada karunia bawaan pada dirinya yang ada tanpa karunia Allah dan hadirat-Nya bersamanya.
Karena itu, sepertinya argumen Maria dikandung tanpa noda didasarkan pada terjemahan yang salah atas perikop tersebut, yang menuntun kepada doktrin yang tidak masuk akal yang berpengaruh pada doktrin Antropologi dan Soteriologi, dan mengganggu ajaran-ajaran pokok Injil yang alkitabiah. Ajaran Alkitab dengan jelas berkata bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23). Tidak ada rujukan mengenai pemeliharaan khusus pada siapa pun. Maria bukan diselamatkan karena “diluputkan” dari dosa. Ia orang berdosa sama seperti semua manusia lainnya, dan dosanya ditebus oleh sang Anak karena dia adalah bagian dari umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, yang telah mewarisi dosa Adam. Yesus adalah Adam yang baru, yang lahir tanpa dosa, untuk menyelamatkan keturunan Adam yang berdosa, termasuk Maria.
Kenyataan bahwa Gereja Katolik Roma berkomitmen penuh menjaga doktrin Maria dikandung tanpa noda, tetap menjadi tanda tanya serius bagi semua orang yang ingin mendasarkan imannya pada apa yang diajarkan Alkitab. Ajaran Katolik Roma, yang terutama dinyatakan melalui Mariologinya yang rumit, tidak didasarkan pada Alkitab semata, tapi berada pada jalur di mana devosi dan tradisi dapat menjadi kata terakhir yang menentukan di atas — dan bertentangan dengan — Alkitab.


