
Keselamatan dalam Kitab Suci
04 Mei 2026
Kontroversi Pertama: Augustinus vs. Pelagius
08 Mei 2026Mengapa Soteriologi (Doktrin Keselamatan) Reformed Penting
Sebagaimana telah kita lihat sepanjang rangkaian artikel pendek ini, mempertahankan soteriologi yang setia pada Alkitab bukanlah sesuatu yang dapat dianggap sepele. Dalam Perjanjian Lama, banyak orang Israel salah memahami hakikat perjanjian Musa dan terjebak dalam pemahaman yang legalistik tentang keselamatan. Sebagian yang lain terjebak dalam penyembahan berhala secara nyata. Selama pelayanannya, Paulus mengungkapkan keterkejutannya atas betapa cepatnya orang-orang yang pernah ia ajar berpaling kepada Injil yang lain (Gal. 1:6).
Di masa awal gereja, Pelagianisme dan semi-Pelagianisme menjadi masalah yang tak pernah benar-benar hilang. Meskipun keduanya pada awalnya dikecam, ketika kita tiba pada abad ke-14 dan ke-15, semi-Pelagianisme telah menjadi pandangan yang dominan, dan sebagian orang mulai bermain-main dengan Pelagianisme yang telah berkembang sepenuhnya. Di bawah pengaruh berbagai ide pagan, keselamatan mulai dipahami sebagai peninggian natur manusia yang dicapai melalui pemberian sakramen oleh para imam yang ditahbiskan dalam Gereja Katolik Roma. Sistem soteriologi eklesio-sakerdotal ini sepenuhnya menggantikan soteriologi Alkitab selama Abad Pertengahan. Saat ini, doktrin pembenaran yang alkitabiah terus mendapat serangan serta ditolak atau direvisi.
1. Soteriologi Reformed penting karena mempertahankan kesetiaan terhadap ajaran Alkitab.
Ajaran ini menekankan dan menegaskan perbedaan antara keselamatan melalui perbuatan dan keselamatan melalui anugerah. Ajaran ini mempertahankan penolakan yang tegas ala Agustinus terhadap ide-ide Pelagian dan semi-Pelagian. Ajaran ini juga menolak konsep ontologis tentang pembenaran (atau pembenaran ontologis) yang telah menyusupi Gereja Katolik Roma dan kembali pada pemahaman alkitabiah tentang anugerah penebusan Allah yang didasarkan pada perjanjian.
2. Soteriologi Reformed penting karena berakar pada puluhan tahun kerja eksegesis yang menyeluruh dan luas oleh ratusan teolog dan pendeta Reformed.
Doktrin ini bukanlah sesuatu yang diajukan begitu saja oleh seorang “influencer” secara acak tanpa memikirkannya secara matang. Upaya eksegesis yang cermat selama puluhan tahun menghasilkan teologi perjanjian yang komprehensif, yang membuat perbedaan antara keadaan sebelum kejatuhan dan setelah kejatuhan jelas sekali. Hal ini memaksa gereja untuk mengingat perbedaan alkitabiah antara perbuatan dan anugerah serta antara Taurat dan Injil.
3. Soteriologi Reformed juga penting karena sangat erat kaitannya dengan loci (posisi) setiap topik teologis lainnya.
Doktrin ini mempertahankan koneksi alkitabiah antara doktrin Allah Tritunggal, ketetapan ilahi, penciptaan, providensia, doktrin manusia dan kejatuhan, pribadi dan karya Kristus, penerapan keselamatan dalam ordo salutis, gereja dan sakramen-sakramennya, serta hari-hari terakhir. Tidak seperti soteriologi Arminian, misalnya, soteriologi Reformed tidak menimbulkan inkoherensi dan kontradiksi internal dalam sistem teologinya. Dalam doktrin ini, tidak ada pengajaran bahwa Bapa menghendaki satu hal terkait keselamatan sementara Anak menghendaki hal lain yang sama sekali berbeda.
4. Pada akhirnya, soteriologi Reformed penting karena Injil itu penting.
Semua putra-putri Adam dan Hawa dilahirkan dalam keadaan mati dalam dosa, sebagai musuh-musuh Allah, dan tanpa pengharapan, kecuali jika Allah bertindak. Namun, syukur kepada Allah, Ia memang telah bertindak di dalam dan melalui pribadi dan karya Yesus Kristus, dan kini kita dipanggil untuk memberitakan kabar baik ini. Paulus merangkum kabar baik ini dalam surat pertama kepada jemaat di Korintus. Pesannya adalah
bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. (1Kor. 15:3–7)
Yesus adalah jalan keselamatan satu-satunya bagi umat manusia yang terhilang. Tidak seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Dia (Yoh. 14:6).
Sebagaimana dijelaskan oleh Kanon Dordt:
Inilah janji Injil: setiap orang yang percaya kepada Kristus yang disalibkan tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Janji ini, bersama dengan perintah untuk bertobat dan percaya, harus diberitakan dan dinyatakan kepada semua bangsa dan umat, kepada mereka yang Allah, dalam perkenanan-Nya yang baik, mengirimkan Injil. (Kepala Ajaran Kedua, Pasal V)
Soteriologi Reformed penting karena memaksa kita untuk tetap mempertahankan Injil yang alkitabiah ini dan membantu kita menghindari berbagai jebakan yang telah menggoda gereja sepanjang zaman. Soli Deo Gloria!


