
Tantangan-Tantangan Kontemporer terhadap Soteriologi Kristen
11 Mei 2026
Mereformasi Soteriologi di Abad Keenam Belas
15 Mei 2026Perkembangan Soteriologi Sakerdotal Katolik Roma
Kontroversi Pelagian secara resmi diselesaikan dengan keputusan mendukung pandangan Agustinus melalui beberapa konsili pada abad kelima dan keenam. Telah ditegaskan bahwa dosa Adam berdampak pada seluruh keturunannya dan bahwa keselamatan hanyalah oleh anugerah Allah semata. Baik Pelagianisme maupun semi-Pelagianisme dikecam. Sayangnya, terdapat aliran-aliran pemikiran di dalam gereja yang pada akhirnya akan mendorong gereja kembali ke arah semi-Pelagian meskipun telah ada pernyataan resmi dari gereja.
Neoplatonisme, misalnya, memahami keselamatan manusia sebagai perjalanan naiknya jiwa menuju Allah melalui berbagai praktik asketis. Ide-ide semacam itu meresap ke dalam komunitas-komunitas monastik Kristen, yang memiliki pengaruh teologis yang sangat mendalam terhadap perkembangan doktrin. Ide-ide ini juga ditemukan dalam karya-karya para teolog yang sangat berpengaruh seperti Augustinus dan Pseudo-Dionysius.
Pada masa Reformasi, banyak keuntungan yang didapatkan dalam perjuangan melawan Pelagianisme telah sirna. Sebuah keseluruhan sistem keselamatan eklesio-sakerdotal, yang lebih mengandalkan usaha individu daripada anugerah Allah, telah menjadi dominan.
Memahami soteriologi Katolik Roma merupakan hal yang penting. Doktrin keselamatan dalam tradisi Reformed tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa memahami sistem teologi yang darinya doktrin ini muncul dan yang menjadi sasaran tanggapannya.
Untuk memahami doktrin keselamatan Katolik Roma, kita perlu kembali ke masa Adam. Menurut teologi Katolik Roma, Adam diciptakan dalam keadaan baik dan mampu mencapai tujuan-tujuan naturalnya, tetapi Adam, dalam naturnya, tidak mampu mencapai tujuan eskatologisnya yang paling akhir—yaitu, visi kebahagiaan dari Allah. Untuk mencapai tujuan tersebut, Adam harus diangkat dari tatanan keberadaan natural menjadi tatanan keberadaan supernatural. Dia harus diberi kemampuan untuk menggunakan akal budinya untuk mengendalikan keinginan dosa. Hal ini dicapai dengan Allah memberikan kepada Adam karunia berupa anugerah yang menguduskan yang berada di atas dan melampaui natur manusianya. Dengan demikian, ini adalah “karunia tambahan” (donum superadditum). Karunia ini mengangkat natur manusia Adam dan menyatukannya dengan Allah. Karunia ini membuatnya mampu mengupayakan tujuan eskatologisnya yang paling akhir.
Ketika Adam berbuat dosa, ia jatuh dari kondisi keberadaan yang supernatural. Kejatuhan itu mengakibatkan hilangnya karunia anugerah tambahan, tetapi tidak menghancurkan naturnya. Selama masa Abad Pertengahan, terdapat perbedaan pendapat mengenai sejauh mana kerusakan yang terjadi pada natur manusia Adam, terutama kemampuan akal budi dan kehendaknya. Sebagian berpendapat bahwa natur manusianya sama sekali tidak rusak dan bahwa Adam hanya kembali ke kondisi saat ia diciptakan sebelum karunia anugerah diberikan kepadanya. Sebagian lainnya berargumen bahwa naturnya terluka. Namun kedua pandangan ini melihat keturunan Adam dilahirkan dalam kondisi yang telah jatuh ini.
Dalam teologi, apa pun yang dilihat seseorang sebagai masalah akan menentukan natur dari solusinya. Oleh karena itu, doktrin keselamatan seseorang sangat bergantung pada doktrinnya tentang penciptaan, dosa, dan akibat kejatuhan. Mengingat bahwa Katolik Roma abad pertengahan melihat masalah manusia sebagai hilangnya karunia anugerah yang menguduskan, mereka secara natural melihat keselamatan sebagai perolehan kembali karunia tersebut. Maka, dalam sistem Katolik Roma, keselamatan melibatkan manusia, yang telah jatuh ke dalam dosa, diangkat kembali ke tatanan keberadaan supernatural. Bagaimana hal ini terjadi? Melalui sakramen-sakramen Gereja Katolik Roma. Dengan kata lain, doktrin Katolik Roma mengenai gereja dan sakramen adalah doktrin Katolik Roma mengenai keselamatan. Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai sistem keselamatan eklesio-sakerdotal Katolik Roma (“eklesio” merujuk pada gereja, dan “sakerdotal” merujuk pada sakramen).
Dalam sistem Katolik Roma, baptis adalah sakramen yang mengangkat seorang anak Adam ke dalam tatanan keberadaan supernatural yang darinya Adam jatuh. Sakramen ini menyatukan orang tersebut dengan Allah dan membersihkannya dari segala dosa. Melalui sarana baptisan, karunia berupa anugerah yang menguduskan ditanamkan dalam jiwa, dan orang yang dibaptis dibuat menjadi benar. Anugerah yang menguduskan ini juga dikenal sebagai anugerah yang membenarkan. Itulah sebabnya baptisan dipahami sebagai sarana instrumental pembenaran dalam sistem keselamatan Katolik Roma.
Setelah dibaptis, orang percaya yang baru diberikan sakramen krisma (sakramen penguatan), yang menambah dan memperkuat anugerah yang menguduskan yang dimilikinya. Orang percaya juga menambah dan memperkuat anugerah yang menguduskan yang dimilikinya dengan mengambil bagian dalam sakramen Ekaristi. Selama orang percaya tetap berada dalam kondisi pengudusan atau pembenaran yang tinggi ini, ia dapat melakukan perbuatan baik yang diperlukan untuk pada akhirnya memperoleh keselamatan. Kemudian selama seseorang meninggal dalam “keadaan rahmat” (kondisi dalam anugerah) ini, hal terburuk yang dapat terjadi adalah ia akan menghabiskan waktu di api penyucian sebelum pergi ke surga.
Namun, jika orang percaya melakukan dosa mortal (yaitu, dosa yang dianggap sebagai pelanggaran berat), orang tersebut akan jatuh dari keadaan rahmat. Jika seseorang meninggal di luar keadaan rahmat tersebut, orang tersebut tidak akan masuk ke api penyucian. Sebaliknya, orang tersebut akan masuk ke neraka. Seseorang harus dikembalikan pada keadaan rahmat yang tinggi agar memiliki harapan akan keselamatan. Apakah orang tersebut harus dibaptis ulang? Tidak. Seseorang hanya dapat dibaptis sekali. Apakah orang berdosa itu lalu tidak memiliki harapan sama sekali? Tidak, karena Gereja Katolik Roma memiliki sakramen lain untuk tujuan ini. Orang berdosa yang telah jatuh dari keadaan rahmat harus pergi ke gereja dan menerima sakramen tobat. Melalui sakramen ini, orang berdosa tersebut diangkat kembali ke kondisi pembenaran di mana ia dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang diperlukan untuk memperoleh keselamatan eskatologis.
Pada masa Reformasi, sistem keselamatan eklesio-sakerdotal ini mendominasi Gereja Barat. Umat Kristen dipaksa hidup dalam keadaan ketidakpastian rohani, tidak pernah bisa memiliki kepastian apa pun bahwa mereka berada dalam keadaan rahmat. Karena seseorang hanya bisa masuk surga jika ia meninggal dalam keadaan rahmat, dampaknya terhadap kehidupan rohani umat sangat besar. Dalam artikel berikutnya, kita akan melihat penemuan besar yang dicapai oleh para Reformator yang memungkinkan mereka sekali lagi membawa kabar baik yang sesungguhnya kepada umat di Eropa.


