
Kesaksian Mendengarkan dengan Kasih
15 September 2026Harapan Kita di Masa Depan
“Harapan memunculkan kekekalan di hati manusia”, demikian kata Alexander Pope. Kita secara alami terprogram untuk percaya bahwa hari-hari terbaik kita akan terjadi di masa depan. Harapan itu penting; harapan menopang kita melalui kesedihan dan menuntun kita di dalam kegelapan. Harapan adalah oksigen bagi jiwa, memberi kita kekuatan untuk mengambil risiko, menghadapi tantangan, dan bertekun. Tanpanya, beban teringan terasa tak tertahankan dan tantangan sekecil apa pun terasa tak teratasi.
Meski semua orang membutuhkan harapan, hanya orang Kristen yang dapat memiliki harapan sejati—harapan yang tidak akan menghantui kemenangan-kemenangan terbesar kita dengan kekecewaan, memberikan kegagalan kepada kita ketika kita paling membutuhkannya, atau meninggalkan kita telanjang pada akhirnya. Berikut ini adalah beberapa alasannya.
Firman yang Setia
Bagi banyak orang, harapan tidak lebih dari sekadar angan-angan atau keinginan sesaat—sebuah dadu yang digulirkan, lompatan iman, melakukan yang terbaik, berharap dapat mengelak dari nasib dan mengatasi kesulitan besar. Orang Kristen berbeda. Harapan kita bertumpu pada janji Allah yang tidak berdusta (Tit. 1:2) dan yang Firman-Nya yang tak pernah gagal. Langit dan bumi akan lenyap, tetapi tidak satu huruf terkecil atau satu titik—huruf atau goresan terkecil dari tangan seorang penulis—pun akan lenyap dari Taurat sebelum semuanya terjadi (lihat Mat. 5:18).
Pengajar Alkitab dari Belfast, Derick Bingham, pernah menyampaikan sebuah kisah dari hari-hari awalnya melayani sebagai pastor muda yang memimpin kebaktian penguburan seorang misionaris tua. Istri sang misionaris yang berumur 60 tahun berdiri di sebelah makam, mendengarkan Bingham berkata: “Ketika Allah berjanji, Ia mengikat diri-Nya sebanyak tujuh kali. Jadi, ketika Ia berfirman, ‘Aku tidak akan meninggalkanmu’, itu sebenarnya berarti, ‘Aku tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak akan meninggalkanmu!’”
Ketika sidang perkabungan membubarkan diri, sang janda mendekati Bingham, menatap wajahnya dalam-dalam, dan dengan kilau di matanya, ia berkata: “Anakku, ketika engkau baru memulai pelayanan, Allah mungkin perlu berjanji sebanyak tujuh kali. Namun, setelah Ia berjalan bersamamu selama bertahun-tahun melalui pasang-surut kehidupan, sekali saja sudah cukup.”
Hai orang Kristen, tidak seperti dunia, Anda memiliki harapan yang bersandar pada sebuah perjanjian yang seluruhnya telah diatur dan pasti. Anda memiliki Firman dari Allah mahakuasa yang tidak akan pernah mengecewakan Anda. Namun, mungkin Anda bertanya-tanya, “Bagaimana kalau saya gagal?”
Allah yang Beranugerah
Para teolog menggambarkan anugerah Allah sebagai kasih-Nya bagi orang-orang yang sebenarnya tidak layak mendapatkannya. Hal ini benar, tetapi anugerah lebih baik daripada itu sebab kita lebih buruk daripada itu. Kita bukan hanya tidak layak, tetapi juga adalah orang-orang berdosa yang layak masuk neraka. Ketika Allah menyelamatkan kita, Ia turun menjangkau jauh ke bawah—turun ke dasar jurang maut yang tidak berujung. Di sana, di titik nadir itu, Ia mendekap kita.
Di dalam Efesus 2, Paulus berkata bahwa kita tidak hanya lemah atau sakit. Kita telah mati di dalam dosa-dosa kita, tak bernyawa seperti ikan yang mengapung terbalik di permukaan air kotor. Kita adalah budak Iblis secara sukarela, hidup di dalam dosa kita, melakukan apa pun yang menyenangkan bagi tubuh kita dan tampak baik bagi pikiran kita. Secara alami, kita adalah anak-anak yang harus dimurkai (ay. 3). Lalu, anugerah masuk ke dalam pertarungan, dan harapan pun menjadi hidup (ay. 4-6). Inilah anugerah yang dirancang untuk memukau mata para malaikat dan menantang mata para roh jahat selama-lamanya (ay. 7). Allah tidak akan pernah menyerah atas Anda. Anugerah-Nya begitu tinggi sehingga Anda tidak dapat melampauinya, begitu dalam sehingga Anda tidak mungkin dapat berada di bawahnya, dan begitu gigih mengejar sehingga Anda tidak bisa lari darinya.
Sebuah Karya yang Tuntas
Apa yang harus Anda lakukan untuk menerima anugerah ini? Cukup menerimanya dengan iman. Kristus telah mengerjakan semuanya. Di dalam Roma 4, Paulus menjelaskan bahwa Kristus diserahkan kepada maut karena kita adalah orang berdosa, dan Ia dibangkitkan untuk pembenaran kita, supaya kita diperhitungkan sebagai kebenaran di dalam Dia (ay. 23-25). Kita dibenarkan oleh iman, berdamai dengan Allah, menikmati akses kepada anugerah-Nya yang tanpa batas, dan dapat bersukacita dalam pengharapan akan kemuliaan-Nya (5:1-11). Harapan ini, kata Paulus, tidak akan pernah mengecewakan kita sebab kasih Allah memenuhi hati kita melalui Roh Kudus (ay. 5).
Bisakah Anda berdosa sehingga kehilangan harapan itu? Tidak, Paulus meyakinkan kita: “Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita, orang-orang fasik, pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (ay. 6). Allah telah menyatakan kasih-Nya dengan mengutus Anak-Nya untuk mati bagi kita ketika kita masih merupakan orang berdosa (baca ay. 8). Logikanya jelas: Jika Allah menepati janji-Nya yang paling mahal harganya ketika Anda masih sepenuhnya tersesat di dalam dosa, kelemahan, dan kefasikan, mungkinkah Ia sekarang melanggar komitmen-Nya, menghancurkan harapan Anda, dan menelantarkan jiwa Anda—sekarang setelah Anda berlindung di dalam Anak-Nya? Tidak akan pernah! Anda tidak masuk ke dalam harapan ini dengan usaha sendiri dan Anda tidak dapat melepaskannya dengan melakukan dosa.
Bapa yang Berdaulat
Orang Kristen hidup terkunci dalam genggaman kedua tangan Allah yang penuh kuasa dan lembut. Kristus meyakinkan kita akan hal ini dalam Yohanes 10:27-30. Ia membawa kita dalam pangkuan-Nya; tidak ada yang dapat merampas kita dari tangan-Nya. Bapa yang telah memberi kita kepada Yesus memegang kita dengan erat, dan juga tidak ada yang dapat merebut kita dari tangan-Nya.
Keamanan ini bersandar dalam rencana Allah yang berdaulat dan kekal. Sebelum permulaan waktu, sebelum dunia diciptakan, Allah telah menetapkan kasih-Nya kepada Anda, memercayakan Anda kepada Anak-Nya, menyerahkan Anda ke dalam tangan-Nya untuk selamanya. Meski kita menyebutnya sebagai sebuah “momen”, keputusan tersebut dilakukan di luar waktu. Ditetapkan di dalam kekekalan, kasih-Nya kepada Anda tidak berawal dan tidak akan memiliki akhir. Biarlah kebenaran yang mulia ini meresap ke dalam jiwa Anda: Allah tidak pernah tidak mengasihi atau tidak melihat Anda di dalam Kristus (Ef. 1:3). Kasih-Nya kepada Anda tak pernah berubah seperti karakter-Nya—kemarin, hari ini, dan selamanya selalu sama.
Orang yang optimis memandang dunia melalui lensa berwarna mawar. Akibatnya, segala warna tampak lebih hangat daripada yang sebenarnya. Hai orang Kristen, Allah melihat Anda melalui lensa “berwarna Kristus”. Ia memandang keindahan-Nya, kemuliaan-Nya, dan kebenaran-Nya yang sempurna. Ia tidak melihat Anda apa adanya, dalam dosa Anda. Ia memandang Anda di dalam Kristus. Ia tidak pernah memikirkan Anda tanpa juga memikirkan Anak-Nya yang terkasih, yaitu Yesus Kristus.
Masa Depan yang Pasti
Bayangkan seorang wanita Kristen yang berjuang melawan kanker payudara selama bertahun-tahun. Kemoterapinya gagal. Perjuangannya hampir berakhir. Ia menunggu napas terakhirnya. Harapan apa yang ia miliki? Ketika ia meninggal, ia tidak akan sendirian. Juru Selamatnya yang setia ada bersamanya. Kematian mungkin menanti di kamarnya di rumah sakit. Namun, kematian ada di sana sebagai hamba yang tugas satu-satunya adalah membuka pintu surga dan membiarkannya masuk.
Ketika itu terjadi, jiwanya segera menemukan peristirahatan. Penderitaannya berhenti. Rohnya meluap dengan kebebasan yang belum pernah ia rasakan. Jiwanya dibawa masuk ke surga sebagaimana Allah bersiap membawa pulang salah satu dari anak-anak-Nya yang terkasih, yang telah Ia beli dengan darah Kristus. Ia masuk ke hadirat sang Raja yang ada di sana dengan segala keindahan-Nya.
Akan tetapi, di sini pun hari-hari terbaiknya masih menanti. Momen yang mulia akan segera terjadi ketika Kristus datang kembali untuk memperbarui segala sesuatu dan menciptakan langit dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Kemudian, masa sekarang akan menelan masa yang belum datang, dan hari-hari terbaik kita akan selama-lamanya. Sungguh, sebuah harapan yang begitu luar biasa! Hai orang Kristen, jika Anda memilikinya hari ini, kepenuhan harapan ini akan segera menjadi milik Anda, dan itu akan menjadi milik Anda selamanya.


