Perkembangan Soteriologi Sakerdotal Katolik Roma

13 Mei 2026

Perkembangan Soteriologi Sakerdotal Katolik Roma

13 Mei 2026

Mereformasi Soteriologi di Abad Keenam Belas

Penemuan kembali doktrin yang alkitabiah tentang keselamatan pada abad keenam belas tidak terjadi sekaligus. Mulanya, para Reformator awal menemukan kembali makna alkitabiah dari kata “pembenaran”. Mereka sadar bahwa kata itu berarti “menyatakan benar” alih-alih “menjadikan benar”. Hal ini membuat mereka menyadari bahwa sebab instrumental dari pembenaran bukanlah baptisan, melainkan iman semata. Dengan kata lain, hal pertama yang ditemukan para Reformator adalah bahwa gereja pada akhir abad pertengahan memiliki pemahaman yang menyimpang mengenai solusi atas masalah besar manusia.

Seiring berjalannya waktu, saat mereka menelaah teks Kitab Suci dan membandingkan ajarannya dengan ajaran Gereja Katolik Roma, mereka dapat menemukan bahwa Roma memiliki pemahaman yang menyimpang mengenai solusi tersebut karena Roma memiliki pemahaman yang menyimpang mengenai masalahnya. Soteriologi Roma, atau doktrin keselamatan (solusinya), telah berkembang seperti itu disebabkan oleh cara Roma memahami akibat dosa Adam (masalahnya). Seperti yang kita amati dalam artikel sebelumnya, Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa ketika Adam jatuh, ia kehilangan karunia tambahan berupa anugerah pembenaran/pengudusan. Dalam pandangan ini, Adam dan keturunannya perlu mendapatkan kembali anugerah tersebut agar dapat diangkat kembali ke tatanan keberadaan supernatural. Dalam pandangan mereka, hal ini tercapai melalui sakramen-sakramen Gereja Katolik Roma.

Seiring mereka mempelajari Kitab Suci, para Reformator menyadari bahwa doktrin Katolik Roma mengenai kejatuhan manusia tidak sepenuhnya setia kepada teks. Mereka sampai pada pemahaman bahwa, dalam kejatuhan, manusia tidak sekadar kehilangan karunia anugerah tambahan dengan sedikit atau tanpa kerusakan pada naturnya. Sebaliknya, sebagaimana yang kemudian diungkapkan belakangan dalam Pengakuan Iman Westminster, dalam kejatuhan itu

mereka jatuh dari kebenaran orisinal mereka dan dari persekutuan dengan Allah, dan karenanya mereka menjadi mati dalam dosa, dan sepenuhnya tercemar dalam semua bagian dan aspek jiwa dan raga. (PIW 6.2)

Istilah teologis yang kelak digunakan untuk menggambarkan keadaan yang jatuh ini adalah kerusakan total.

Penting untuk diingat kembali bahwa apa pun yang seseorang percayai sebagai masalah akan menentukan pemahamannya terhadap solusinya (soteriologi). Doktrin keselamatan Pelagius terbentuk seperti itu karena pemahamannya terhadap masalahnya. Doktrin keselamatan Roma terbentuk seperti itu karena pemahamannya terhadap masalahnya. Keselamatan seseorang yang  mati dan keselamatan seseorang yang terluka membutuhkan cara yang sama sekali berbeda.

Gereja-gereja Reformed menjelaskan solusi Allah atas masalah manusia dalam kerangka perjanjian yang Allah buat antara diri-Nya sendiri dan manusia. Pengakuan Iman Westminster memberikan salah satu pernyataan paling jelas mengenai doktrin keselamatan yang alkitabiah ini. Bagian berikut ini sebagian besar diambil dari pengakuan iman tersebut. Para pembaca didorong untuk mencari salinan yang memuat teks-teks pendukung Alkitabnya dan mempelajari semuanya dengan saksama.

Sebagaimana dijelaskan dalam Pengakuan Iman Westminster, sebelum kejatuhan, Allah membuat perjanjian dengan Adam “di mana kehidupan dijanjikan kepada Adam; dan melalui dia kepada keturunannya, dengan syarat ketaatan yang sempurna dan personal” (PIW 7.2). Secara signifikan, dan berbeda dengan ajaran Roma, Adam memiliki kuasa dan kemampuan untuk menaati hukum sebelum kejatuhan (PIW 4.2; 19.1). Lebih lanjut, kebenaran orisinal adalah bagian dari naturnya karena ia diciptakan menurut gambar Allah (PIW 4.2; 6.2). Itu bukanlah suatu karunia tambahan yang ditambahkan kepada naturnya seperti yang diajarkan Gereja Katolik Roma.

Karena kejatuhan manusia, ia tidak lagi mampu menaati hukum dengan sempurna dan karenanya tidak lagi mampu memenuhi syarat-syarat perjanjian pertama. Oleh karena itu, Allah, 

berkenan membuat perjanjian kedua, yang umumnya disebut perjanjian anugerah; di mana Ia dengan cuma-cuma menawarkan kehidupan dan keselamatan kepada orang-orang berdosa melalui Yesus Kristus; menuntut mereka untuk beriman kepada-Nya agar mereka dapat diselamatkan, dan berjanji untuk memberikan Roh Kudus-Nya kepada semua orang yang telah ditentukan untuk hidup yang kekal, untuk membuat mereka bersedia dan mampu percaya. (PIW 7.3)

Anak Tunggal Allah, Yesus Kristus, telah ditetapkan sejak kekekalan untuk menjadi satu-satunya Mediator antara Allah dan manusia (PIW 8.1). Ia telah ditetapkan untuk menyelamatkan umat-Nya, yaitu mereka yang telah dipilih Allah berdasarkan anugerah dan kasih-Nya yang bebas, di dalam Kristus “sebelum dunia dijadikan, sesuai dengan tujuan-Nya yang kekal dan tak berubah, serta pertimbangan rahasia dan kehendak-Nya yang baik” (PIW 3.5).

Tuhan Yesus, melalui ketaatan-Nya yang sempurna dan pengorbanan diri-Nya, begitu Ia telah mempersembahkan diri-Nya kepada Allah melalui Roh yang kekal, telah sepenuhnya memuaskan keadilan Bapa-Nya; dan telah membeli, bukan hanya rekonsiliasi, tetapi juga warisan kekal di dalam Kerajaan Surga, bagi semua orang yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. (PIW 8.5)

Penebusan yang telah dibeli itu diterapkan oleh Kristus kepada semua orang pilihan sepanjang sejarah (PIW 8.8).

Karena manusia yang telah jatuh berada dalam kondisi berdosa dan mati, dan bukan sekadar terluka atau sakit, ia tidak mampu melakukan apa pun untuk menerima penebusan yang telah dibeli itu dengan kekuatannya sendiri. Oleh sebab itu, Allah secara efektif memanggil orang-orang pilihan keluar dari kematian, sebagaimana Kristus memanggil Lazarus keluar dari kubur. Ia melahirbarukan mereka, memberikan kehidupan rohani kepada mereka, dan menarik mereka kepada Yesus Kristus (PIW 10.1). Mereka yang dipanggil oleh Allah, dibenarkan dengan cuma-cuma oleh-Nya. Mereka dibenarkan, atau dinyatakan benar, bukan berdasarkan perbuatan apa pun dari mereka sendiri, tetapi atas dasar kebenaran Kristus yang diimputasikan yang diterima  melalui iman semata (PIW 11.1; 14.2). Mereka yang dipanggil secara efektif dan dibenarkan juga dikuduskan sepanjang hidup mereka:

Kuasa keseluruhan dosa dihancurkan, dan berbagai hawa nafsu yang timbul darinya makin lama makin dilemahkan dan dimatikan; sementara orang percaya makin lama makin dihidupkan dan diperkuat dalam segala anugerah keselamatan, untuk mempraktikkan kekudusan sejati, yang tanpanya tak seorang pun akan melihat Tuhan. (PIW 13.1; lihat juga 16.1–7)

Tidak seperti Gereja Katolik Roma, gereja-gereja Reformed juga mengajarkan bahwa

Mereka yang telah diterima Allah dalam Anak-Nya yang Terkasih, dipanggil secara efektif, dan dikuduskan oleh Roh-Nya, tidak akan bisa sepenuhnya atau pada akhirnya jatuh dari kondisi dalam anugerah, melainkan pasti akan bertekun di dalamnya hingga akhir, dan diselamatkan untuk selama-lamanya. (PIW 17.1)

Dalam artikel berikutnya, kita akan melihat bagaimana beberapa teolog Reformed di Belanda menjadi tidak puas dengan teologi konfesional Reformed dan mulai mengarahkan teologi tersebut kembali ke arah Roma. Kita juga akan melihat tanggapan gereja Reformed dalam Sinode Dordt.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Keith A. Mathison

Keith A. Mathison

Dr. Keith A. Mathison adalah profesor teologi sistematika di Reformation Bible College di Sanford, Florida. Ia adalah penulis dari banyak buku, termasuk The Lord’s Supper: Answers to Common Questions.