Perbedaan Pendapat di dalam Gereja

08 September 2026

Kesaksian Mendengarkan dengan Kasih

15 September 2026

Perbedaan Pendapat di dalam Gereja

08 September 2026

Kesaksian Mendengarkan dengan Kasih

15 September 2026

Menghubungkan Orang di dalam Gereja

Orang Protestan dengan benar menempatkan diri mereka menghadap mimbar gereja. Itu bukan hanya sebuah fitur arsitektur (mimbar di tengah dengan posisi lebih tinggi) tetapi juga mencerminkan sikap pribadi. Orang Protestan yang “baik” memahami pentingnya merangkul mimbar. “Bagaimana orang dapat mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Rm. 10:14). Mimbar adalah tempat utama orang percaya memperoleh makanan rohani. Para pengunjung sebaiknya berupaya untuk memahami karakter dan kompetensi si pendeta sebelum memutuskan berkomitmen pada gereja tersebut. Namun, meski khotbah itu begitu pentingnya, hubungan seseorang dengan pendetanya pada akhirnya bukan faktor yang paling menentukan bagi kesehatan rohani anggota jemaat tersebut. Hal ini membutuhkan penjelasan.

Selama dua puluh tahun masa pelayanan saya di sebuah gereja yang berukuran sedang, sulit untuk tidak memperhatikan pola tertentu dalam bagaimana cara orang berhubungan di dalam tubuh jemaat. Ada orang yang berorientasi kepada sesama anggota lain; dan sebaliknya, ada pula yang berorientasi kepada pendeta. Secara keseluruhan, yang satu sepertinya kurang sehat dibandingkan yang lain. Betul, seorang pendeta sebaiknya mempertimbangkan pekerjaan lain jika ia menduga berhubungan dengannya akan menyebabkan orang mengalami kemerosotan rohani. Namun, hanya butuh beberapa tahun untuk meredam kesombongan saya sebelum akhirnya saya menyadari bahwa para anggota jemaat yang dengannya pendeta menghabiskan paling banyak waktu cenderung kurang sehat secara rohani dan kurang bahagia di antara anggota jemaat yang lain.

Sekali lagi, untuk memperjelas, anggota jemaat seharusnya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap pendetanya. Mereka hendaknya mengharapkan kemampuan pendeta dalam menjelaskan firman, kecakapan dalam menerapkan aplikasi, dan tingkat keterkaitan tertentu. Begitu pula, anggota jemaat seharusnya merasakan upaya penggembalaan dari sang pendeta dan memiliki keyakinan bahwa ia mau menyediakan diri untuk melayankan konseling pribadi sesekali. Namun, anggota jemaat sebaiknya tidak meminta waktu untuk bercakap-cakap dengan pendeta setiap kali selesai kebaktian. Mereka tidak seharusnya mengharapkannya terlibat dalam komunikasi pribadi secara rutin. Mereka tidak bijak bila ingin sering ada di dalam ruang belajarnya. Relasi sempit semacam itu tidaklah proporsional bagi tubuh jemaat dan mencerminkan fokus yang tidak sehat. Ingat bahwa pendeta bukanlah Pokok Anggur yang Benar, melainkan hanyalah sebuah carang (Yoh. 15:1). Ia bukan Kepala, tetapi anggota tubuh yang memiliki fungsi tertentu (1Kor. 11:3; 12:27-30). Mengharapkan pendeta menjadi teladan kesalehan adalah satu hal (1Kor. 11:1); melihatnya sebagai saluran penghubung kepada Allah (2Kor. 5:18) atau rekan yang mengangkat status pribadi Anda adalah hal lain (1Kor. 1:12). 

Orang yang lebih berorientasi kepada anggota jemaat lain umumnya berfungsi dengan lebih efektif. Pertama, jelas bahwa mereka dengan benar melihat gereja sebagai keluarga (Mrk. 3:31-35; Yoh. 19:26-27). Keluarga adalah sebuah relasi yang bertahan lama. Sesama anggota mendapatkan prioritas dan anggota juga belajar merasa nyaman menerima perhatian yang sewajarnya. Kedua, mereka yang terhubung secara lebih “mendatar” adalah juga orang-orang yang menaruh perhatian pada orang lain (1Kor. 10:24). Hubungan antarsesama anggota biasa bersifat lebih resiprokal. Saling melayani dan menerima yang lebih alami cenderung mengarah kepada tidak mementingkan diri sendiri, sedangkan orang yang berorientasi pada pendeta sering kali terlalu menekankan kebutuhan atau kepentingan diri sendiri. Ketiga, lebih berorientasi kepada sesama anggota membuat penekanan yang tak terhindarkan dari para rasul tentang “saling/satu sama lain” jadi lebih masuk akal. Menurut hitungan saya, Perjanjian Baru memberikan hampir enam puluh perintah “saling/satu sama lain” yang berbeda; tiga perempat darinya merupakan kewajiban untuk bertindak positif, seperti hidup dengan atau menjalankan kewajiban tertentu bagi orang lain di dalam jemaat. Refrain tersebut menyiratkan kehidupan yang dijalani bersama secara akrab. Keempat, dari perintah-perintah “saling/satu sama lain” yang positif tersebut, sepertiganya merupakan perintah “saling mengasihi” (misalnya, 1Tes. 4:9; 1Ptr. 4:8-10; 1Yoh. 4:7, 11-12). Siapa pun yang mempelajari Perjanjian Baru dengan baik dapat melihat bahwa kehidupan Kristen menuntut kita untuk akrab dengan orang lain dan melayani dengan rela berkorban. Kebaktian bersama pada hari Minggu menuntut semacam orientasi kepada orang lain—1 Korintus 14 memperlihatkan dengan jelas apa yang terjadi ketika diri ditinggikan—tetapi itu hanya sebagian dari kehidupan di dalam komunitas yang diharapkan dari orang percaya. Tingkat keterlibatan yang ditunjukkan oleh Perjanjian Baru jelas tidak dapat dipenuhi hanya dengan masuk diam-diam ke gereja pada momen pembukaan kebaktian, lalu berlomba lari ke tempat parkir setelah ucapan berkat, apalagi dengan beribadah sendiri di rumah. Kelima, selain pernyataan-pernyataan “saling/satu sama lain” tersebut, ada pula perintah-perintah untuk mempraktikkan keramahan yang berperan penting dalam kemajuan pemberitaan Injil. Matius menanggapi panggilan yang ia terima dengan mengundang teman-temannya ke perjamuan yang diadakannya dan berjumpa dengan Yesus (Mat. 9:9-13). Kristus mengutus dua belas rasul dan tujuh puluh murid untuk melayani dalam rumah-rumah (Mat. 10:5-15; Luk. 10:1-12). Di dalam keakraban rumah, Yesus menjelaskan perumpamaan-Nya kepada murid-murid-Nya (Mat. 13:36). Para murid pada zaman Gereja Mula-Mula dikenal dengan kebiasaan memecah roti di rumah masing-masing secara bergiliran (Kis. 2:46), dan “setiap hari” para rasul berkhotbah dan mengajar “di rumah-rumah” (5:42; baca juga 12:12; 16:15, 32; 28:30-31). Keakraban dengan orang lain di dalam jemaat dan menyambut orang asing hanyalah upaya yang selaras dengan Alkitab.

Secara sederhana, persekutuan dan hubungan yang intim adalah sarana-sarana anugerah yang penting. Bapa-bapa gereja Reformed menyadari hal ini dan merumuskannya melalui perkataan, “Dipersatukan satu sama lain di dalam kasih, mereka saling berbagi dalam pemberian dan anugerah” (Pengakuan Iman Westminster 26.1; baca juga Pengakuan Iman Belgia 28, Katekismus Heidelberg 55, dan Pengakuan Iman Gereja Baptis London Kedua 27.1). Karena itu, tanyakanlah pada diri Anda sendiri: “Apakah saya pengikut seorang pengkhotbah tertentu, atau apakah saya anggota dalam tubuh jemaat ini? Apakah hubungan saya dengan gereja adalah untuk mendapatkan terapi pribadi, atau apakah saya merupakan bagian dalam sebuah komunitas perjanjian? Terakhir, renungkan apakah Anda mendengar nasihat (mungkin melalui pengkhotbah yang Anda ikuti) untuk 

bertumbuh dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari Dialah seluruh tubuh, yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh semua sendi yang menopangnya, menerima pertumbuhannya sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota, dan membangun dirinya dalam kasih. (Ef. 4:15-16)

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Scotty Anderson

Scotty Anderson

Pdt. Scotty Anderson adalah associate pastor untuk pelayanan keluarga di Woodruff Road Presbyterian Church di Simpsonville, South Carolina.