
Praktik-Praktik Injil di Masa-Masa Sulit
04 September 2026Perbedaan Pendapat di dalam Gereja
Sepertinya salah satu aspek mendasar dari perbincangan dan debat publik hari ini adalah perselisihan pendapat yang tajam dan disampaikan dengan suara kencang yang tidak mengizinkan kompromi. Kita menilai politisi berdasarkan seberapa sering mereka terlibat dalam pertarungan dengan “kubu lain”. Interaksi daring kita pun makin nyaring, dan kita sering melihat dinamika ini tercermin pada perdebatan teologis dan biblika di antara orang-orang Kristen. Namun, Alkitab tidak pernah membayangkan perbedaan pendapat di antara umat percaya di dalam gereja mencerminkan permusuhan dan kepahitan yang sering ditemukan dalam perdebatan politik di dunia. Tuhan Yesus Kristus mengatakan bahwa dunia akan mengenali kita sebagai murid-murid-Nya bukan melalui konsistensi atau persuasi intelektual kita, melainkan melalui kasih yang kita tunjukkan satu sama lain (Yoh. 13:35). Bukan hanya apa yang kita tidak setujui yang penting, tetapi bagaimana kita menyatakan ketidaksetujuan itu juga penting. Yakobus menekankan hal ini di dalam ajarannya tentang lidah: “Dengan lidah kita memuji Tuhan dan Bapa kita, dengan lidah juga kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah; dari mulut yang sama keluar berkat dan kutuk. Hal ini, Saudara-saudaraku, tidak boleh terjadi” (Yak. 3:9-10). Namun, pada waktu yang sama, orang percaya memang memiliki perbedaan pendapat dalam banyak persoalan Alkitab dan bergumul untuk menafsirkan topik-topik teologi tertentu dengan tepat. Bagaimana orang percaya dapat memperdamaikan kebutuhan akan pandangan Alkitab yang jelas dengan panggilan untuk menyatakan kemurahan dan kasih? Berikut ini adalah beberapa pemikiran saya.
Bedakan antara Hal yang Primer dan yang Tidak
Bagian terpenting dari menyatakan perbedaan pendapat dengan benar adalah membedakan antara persoalan primer dan nonprimer (sekunder atau bahkan tersier). Perbedaan pendapat terkait apakah Allah itu Tritunggal, apakah Yesus benar-benar Allah, dan apakah Yesus bangkit secara jasmani dari kematian memiliki tingkat kepentingan yang benar-benar berbeda dari diskusi tentang bentuk pemerintahan gereja yang tepat atau siapa yang layak menerima baptisan Kristen. Persoalan menyangkut doktrin Allah serta pribadi dan karya Kristus berada pada inti iman Kristen—menolak Allah Tritunggal atau keilahian Kristus mengindikasikan bahwa orang tersebut bukan Kristen. Kita tidak bisa memihak kubu yang salah dari persoalan-persoalan tersebut dan tetap dianggap orang percaya. Gereja tidak bisa menoleransi pendirian demikian sembari mempertahankan kesaksiannya. Mustahil kita dapat menyatakan perbedaan pendapat secara sopan menyangkut persoalan primer. Namun, ketika persoalan sekunder atau tersier diperdebatkan—yaitu persoalan yang mengandung perbedaan pendapat di dalam Gereja selama berabad-abad—kita dapat membahasnya dan berbeda pendapat dengan kemurahan hati seorang Kristen. Ini terutama benar dalam hal perbedaan pendapat pada persoalan yang diajarkan dalam Alkitab tetapi bukan merupakan bagian dari pengakuan doktrinal gereja, seperti filosofi pendidikan atau usaha penjangkauan jiwa. Dalam persoalan-persoalan ini, orang percaya bisa mengacu kepada Alkitab dan berjuang untuk menemukan kesimpulan yang paling konsisten dan alkitabiah, tetapi mereka seharusnya melakukannya dengan semangat kasih dan pengertian. Gereja tidak bangkit atau jatuh karena persoalan-persoalan itu.
Berbeda Pendapat Bukan Berarti Menyerah pada Kebenaran
Meski kita harus mengakui adanya perbedaan urgensi dan signifikansi di antara persoalan primer dan nonprimer, itu seharusnya tidak menyebabkan orang percaya menyerah pada kebenaran. Artinya, bahkan terkait persoalan tersier, kita seharusnya selalu berupaya untuk sebisa mungkin memiliki pandangan dan kesimpulan yang alkitabiah. Hanya karena sebuah persoalan bukanlah inti dari iman Kristen, bukan berarti itu tidak penting dan tidak perlu diperdebatkan. Kenyataannya, ketika kita berusaha memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim. 2:4), perbedaan pendapat sering kali menjadi alat yang menolong. Ketika kita berdiskusi dengan sesama orang percaya dengan rasa hormat dan menyimak argumen dan posisi mereka, kita berkesempatan menguji pandangan kita sendiri dan mempertajam pemahaman kita. Kita bisa berbeda pendapat tanpa bersikap bermusuhan menyangkut persoalan sekunder dan tersier demi mengejar kebenaran dan memuliakan Allah. Dampak dosa menjangkau pikiran dan pengertian kita, sehingga kita perlu terbuka untuk dikoreksi. Tentu hal yang sama juga berlaku bagi orang yang dengannya kita berbeda pendapat. Terlalu sering orang percaya bertindak seolah-olah hanya ada dua pilihan: memperlakukan setiap perbedaan pendapat sebagai penting bagi iman atau mengabaikan pemikiran bahwa perbedaan pendapat dapat menolong kita memahami kebenaran dengan lebih baik. Ketika kita menyadari bahwa mempertimbangkan pandangan yang berbeda terkait persoalan sekunder dan tersier adalah hal yang baik selama dilakukan dengan rasa hormat dan kasih, kita tidak perlu mengorbankan doktrin atau kebenaran untuk kesatuan. Paulus menegaskan hal ini ketika ia meminta jemaat Efesus untuk menjadi dewasa dalam pemahaman mereka akan iman. Kita tidak boleh “diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya, dengan teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala” (Ef. 4:14-15, penekanan ditambahkan).
Berbeda Pendapat Memberi kepada Kita Kesempatan untuk Bersaksi
Terakhir, orang percaya sebaiknya menoleransi perbedaan pendapat di dalam gereja karena hal itu memberi kepada kita kesempatan untuk memperlihatkan kepada dunia seperti apa kesatuan dan kasih yang sejati itu. Begitu banyak orang di dunia mengira bahwa satu-satunya cara untuk bersatu adalah ketika semua orang memegang pendapat yang sama, memiliki prioritas yang persis sama, dan berjalan seirama dalam setiap persoalan. Tidak ada variasi atau perbedaan pendapat yang ditoleransi, dan akibat dari ketidaksetujuan adalah dikucilkan dari kelompok. Di sisi lain, gereja dibangun di atas kesatuannya di dalam Kristus. Memang ada persoalan-persoalan primer yang menentukan apa artinya menjadi seorang Kristen, dan gereja tidak dituntut memperdebatkan prinsip-prinsip dasar tersebut. Namun, ketika orang percaya datang pada Alkitab dengan integritas dan tiba pada berbagai pandangan yang berbeda menyangkut persoalan-persoalan yang tidak diajarkan Alkitab sejelas ajaran-ajaran pokoknya, kita memiliki kesempatan untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa kita bisa saling mengasihi sembari berbeda pendapat dan bahwa kita tunduk kepada otoritas Alkitab, ke mana pun kita dituntunnya.


