
Menghubungkan Orang di dalam Gereja
10 September 2026Kesaksian Mendengarkan dengan Kasih
Saya sering mendengarnya dari para istri maupun suami. Saya juga mendengarnya dari para remaja dan anak-anak. Saya bahkan mendengarnya dalam rapat komite gereja. “Saya merasa tidak didengarkan” adalah refrain yang sering terdengar tidak hanya dalam situasi yang akrab tetapi juga secara umum dalam budaya kita. Apa yang sebenarnya terjadi? Sisi sinis di dalam saya ingin mengabaikan setiap pernyataan “Anda tidak mendengarkan saya” dengan mengatakan, “Anda telah didengar, tetapi Anda hanya merasa frustrasi bahwa pendengar Anda tidak setuju dengan Anda atau tidak melakukannya dengan cara Anda.” Meski itu mungkin benar pada kasus-kasus tertentu, seringnya pernyataan tidak didengarkan muncul mungkin sebenarnya menyingkapkan adanya epidemik kelemahan dalam mendengarkan.
Sebagai konselor yang Alkitabiah yang sudah lama, tugas saya adalah mendengarkan. Saya terlatih dalam keterampilan mendengarkan kisah, masalah, dan hati orang yang ada di hadapan saya. Namun, berdasarkan kekuatan dan kepribadian saya sendiri, saya bukan pendengar yang baik. Saya lebih suka berbicara ketimbang mendengar. Sebagai orang yang boleh dikatakan introvert, saya sering merenung dalam pikiran saya sendiri daripada mendengarkan. Mendengarkan orang setiap hari meletihkan saya. Sedihnya, itu juga terjadi ketika saya mendengarkan mereka yang paling dekat dengan saya.
Kenyataannya, mendengarkan dengan baik bukanlah sebuah keterampilan alami. Sebagai makhluk yang berpusat pada diri sendiri, kita tidak lahir dengan semangat untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain. Kita sangat sering ingin lebih banyak berbicara daripada mendengar (implikasi dari Yak. 1:19-20). Bahkan ketika kita diam dan berperilaku seolah-olah kita mendengarkan, kita dapat terjebak dalam pikiran kita sendiri. Ini mungkin sudah menjadi kondisi manusia sejak dahulu, tetapi sekarang ini jelas semakin memburuk. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa durasi kemampuan menyimak makin pendek pada setiap generasi. Distraksi menjadi makin banyak, bukan makin sedikit. Dunia media sosial sama sekali tidak menolong ketika berurusan dengan mendengarkan satu sama lain.
Akan tetapi, kita menyembah dan melayani Allah yang suka mendengarkan umat-Nya. “Kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa. Sebaliknya, setiap orang yang saleh dan melakukan kehendak-Nya, dialah yang didengarkan-Nya” (Yoh. 9:31). Ia selalu mendengarkan secara sempurna dengan kasih, persis ketika kita butuh didengarkan. “Sebelum mereka berseru, Aku sudah menjawab; ketika mereka masih berbicara, Aku sudah mendengarkan” (Yes. 65:24). Kenyataan yang penuh anugerah ini harus menjadi dasar kita untuk mendengarkan orang lain. Allah mengasihi, maka kita harus mengasihi. Allah di dalam Kristus mengampuni, maka kita harus mengampuni. Allah mendengarkan kita, maka kita harus mendengarkan orang lain. Karya Allah di dalam hati kita selalu merupakan dasar untuk melakukan pekerjaan baik yang untuknya Ia memanggil kita. Mendengarkan orang lain, khususnya orang non-Kristen, adalah pekerjaan yang sangat baik dan diperlukan di dunia saat ini. Jadi, bagaimana mendengarkan orang yang belum percaya dengan kasih memberikan kesaksian tentang Kristus bagi dunia?
Pertama, mendengarkan dengan kasih berkata, “Engkau dikenal.” Bagaimana Anda bisa mengenal orang lain tanpa mendengarkan—dan mendengarkan secara saksama? Mendengarkan kisah orang memberi kepada kita gambaran tiga dimensi tentang mereka, memberikan kita pengetahuan dan pengertian yang tidak bisa kita dapatkan dengan cara lain. Ketika kita ingin mengenal orang-orang yang belum percaya, kita mengarahkan mereka kepada Allah yang telah mengenal mereka bahkan sebelum mereka dilahirkan. Lebih lagi, ketika mereka datang kepada Kristus dalam iman, mereka akan mengalami sepenuhnya dikenal sebagai anak-anak adopsi Allah. Ketika mereka terus dikenal Allah setiap hari dalam hidup mereka, mereka akan selalu menikmati telinga Allah yang mendengar. Orang Kristen yang mendengar sesungguhnya sedang mengirim pesan bahwa Allah ingin mengenal mereka sebagai Bapa surgawi mereka. Mendengarkan orang lain akan mengarahkan orang itu kepada Allah yang ada di sana, yang mengenal domba-domba-Nya dan mendengar seruan jiwa mereka.
Kedua, mendengarkan dengan kasih berkata, “Engkau diterima.” Orang makin merasa kesepian, terisolasi, dan berada di luar. Dunia cenderung memisahkan, bukan menyatukan; mengecualikan, bukan menyertakan. Teknologi yang menjanjikan membuat orang saling terhubung terus mengecewakan kita. Mendengarkan orang dalam ruang dan waktu yang nyata menunjukkan keinginan kita untuk menyambut mereka ke dalam komunitas Kristus, ke dalam relasi yang nyata dan bertumbuh dengan sesama orang percaya. Ini merupakan kesaksian akan Allah kita yang sangat pribadi, yang merendahkan diri untuk mengenal dan menyambut kita. Yesus adalah Immanuel, Allah beserta kita, yang selalu hadir melalui Roh-Nya. Ketika orang Kristen gagal untuk mendengarkan, kita menggambarkan gereja yang tidak ramah dan Juru Selamat yang tidak dapat dijangkau. Mendengarkan dengan kasih mencerminkan hati yang terbuka lebar bagi semua orang yang diutus Kristus untuk kita terima.
Ketiga, mendengarkan dengan kasih berkata, “Engkau dapat ditebus.” Tindakan mendengarkan yang didorong oleh belas kasihan Kristus berdampingan dengan keinginan untuk melihat orang berubah. Dunia mengkomunikasikan bahwa Anda tidak dapat berubah atau Anda adalah korban yang tak berdaya dari… (isi sendiri). Dunia tidak memberi harapan untuk mengalami penebusan sejati, dan hanya menawarkan pengganti yang lemah. Orang Kristen mendengarkan orang lain untuk menolongnya, menunjukkan bahwa ada jalan keluar dari dosa yang telah menjadi kebiasaan, dari kecemasan, depresi, hubungan yang berantakan, dan banyak masalah hidup yang lain. Ketika kita mendengarkan dengan penuh belas kasihan, kita memberikan kesaksian akan Allah yang mendengar doa dan mengutus Roh-Nya sebagai Penolong agung kita (Yoh. 14:15-26). Allah yang mendengar akan memberi hikmat kepada semua orang yang meminta dari-Nya (Yak. 1:5-6). Kita menunjuk kepada Juru Selamat yang secara pribadi hidup dengan dan mendengarkan orang yang berdosa, lemah, dan terluka, memberikan kesembuhan, perubahan, dan penebusan. Menolak mendengarkan orang lain dalam pergumulan mereka berarti melewatkan kesempatan untuk menawarkan harapan di dalam Kristus, Juru Selamat jiwa kita.
Jika Anda tidak rutin mengingat betapa Allah mendengarkan seruan hati Anda setiap hari, maka Anda akan tergoda untuk menutup telinga terhadap orang yang Ia bawa ke dalam hidup Anda. Orang Kristen dipanggil untuk menjadi berbeda dari dunia kita yang tidak mendengarkan. Kita seharusnya mencerminkan kepada satu sama lain dan dunia kita telinga Allah yang penuh kasih yang mau mendengar.


