Kemalasan & Kerajinan

01 Mei 2026

Mengapa Soteriologi (Doktrin Keselamatan) Reformed Penting

06 Mei 2026

Kemalasan & Kerajinan

01 Mei 2026

Mengapa Soteriologi (Doktrin Keselamatan) Reformed Penting

06 Mei 2026

Keselamatan dalam Kitab Suci

Alkitab dimulai dengan penciptaan langit dan bumi (Kej. 1-2), dan diakhiri dengan penciptaan langit dan bumi yang baru (Why. 21-22). Penciptaan dan penciptaan baru membingkai seluruh isi sejarah penebusan dalam Kitab Suci dan menempatkannya dalam konteks yang tepat yang berpusat pada Allah. Dengan kata lain, penebusan manusia bukanlah tujuan atau sasaran akhirnya, melainkan tujuan kedua terakhir. Kitab Suci tidak berpusat pada manusia. Kitab Suci berpusat pada Allah. Tujuan atau sasaran akhir adalah Allah dan kemuliaan-Nya. Penebusan manusia melayani tujuan akhir tersebut.

Puncak dari enam hari penciptaan dalam kitab Kejadian adalah penciptaan Adam dan Hawa oleh Allah. Namun, manusia bukanlah tujuan akhir itu sendiri. Hari ketujuh menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Penciptanya. Allah mengikat perjanjian dengan manusia pertama, yang umumnya disebut perjanjian kerja. Dalam perjanjian ini, “hidup dijanjikan kepada Adam; dan melalui dia kepada keturunannya, dengan syarat ketaatan yang sempurna dan personal” (Pengakuan Iman Westminster 7.2). Sayangnya, Adam dan Hawa memilih untuk lebih memercayai perkataan ular daripada perkataan Pencipta mereka yang penuh kasih. Mereka berdosa terhadap Allah dan menjadi tidak mampu memperoleh hidup yang kekal melalui perjanjian kerja (Kej. 3). Keturunan mereka dilahirkan dalam kondisi yang sama, yaitu dalam keterhilangan total.

Kisah keselamatan dalam Kitab Suci dimulai segera setelah Adam jatuh dalam dosa. Alih-alih membiarkan Adam dan Hawa berada dalam posisi permusuhan yang permanen dengan-Nya, Allah berkata kepada ular bahwa Ia akan “mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya.” Kemudian Allah menambahkan janji yang menarik ini: “dia (LAI:keturunannya) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej. 3:15). Ini adalah deklarasi perang oleh Allah terhadap ular, dan merupakan pernyataan anugerah bagi Adam dan Hawa. Segala sesuatu yang kita baca mulai dari titik ini ke depan adalah Allah yang bekerja menuju pemenuhan akhir dari janji-janji awal ini.

Umat manusia pada awalnya bergerak terus ke bawah, semakin terjerumus ke dalam kerusakan dan dosa, dan Allah menghukum dunia dengan air bah (Kej. 6-9). Segelintir orang yang selamat terus hidup dalam dosa, dan Allah mengacaukan bahasa mereka serta menyerakkan mereka ke seluruh bumi (Kej. 11). Namun kemudian Allah memanggil Abram dan mengikat perjanjian dengannya. Di antara janji-janji yang diberikan kepada Abraham:

Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, memberkati engkau, serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. (Kej. 12:2-3, penekanan ditambahkan)

Melalui seorang keturunan Abrahamlah karya keselamatan umat manusia akan digenapi.

Pada akhirnya, keturunan Abraham diperbudak di Mesir. Selama berada di sana, mereka berkembang menjadi suatu bangsa yang besar (Kel. 1:7). Setelah empat ratus tahun, Allah memberitahukan kepada Musa apa yang akan Dia lakukan dan memerintahkan Musa untuk berkata kepada bangsa itu:

Sebab itu, katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir dan melepaskan kamu dari perbudakan mereka. Aku akan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Aku akan membawa kamu ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah untuk diberikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu. Akulah TUHAN. (Kel. 6:5-7, penekanan ditambahkan).

“Aku akan membebaskan kamu, dan Aku akan membawa kamu ke.” Inilah yang dilakukan Allah dalam karya penebusan-Nya dalam Perjanjian Lama yang menjadi paradigma. Ketika para nabi kemudian berbicara tentang karya penebusan yang lebih besar di masa depan, penebusan itu akan digambarkan dengan menggunakan istilah-istilah yang berkaitan dengan peristiwa keluaran.

Selama masa keluaran, Allah memberikan hukum-Nya kepada umat-Nya dan meletakkan dasar bagi apa yang akan datang, yaitu sebuah kerajaan di tanah perjanjian. Namun, kerajaan itu tidak bertahan karena dosa-dosa para raja dan umat. Allah memperingatkan mereka melalui para nabi, tetapi mereka menolak untuk bertobat dan akhirnya diusir keluar ke pembuangan. Namun, peringatan-peringatan kenabian tentang penghakiman yang akan datang bukanlah kata terakhir. Allah berjanji bahwa di sisi lain penghakiman itu, Ia akan melakukan karya penebusan yang lebih besar daripada keluaran yang pertama. Ia akan mengutus seorang raja mesianik kepada umat-Nya untuk menyelamatkan mereka. Ia akan meneguhkan perjanjian baru dan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru.

Ratusan tahun kemudian, seorang malaikat menampakkan diri kepada seorang perempuan muda di Israel dan menyatakan kepadanya bahwa anak laki-lakinya akan menjadi raja mesianik yang dijanjikan itu (Luk. 1:26-33). Namanya nanti adalah Yesus, “karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka” (Mat. 1:21). Yesus adalah Dia yang telah datang untuk meremukkan kepala ular. Dia adalah anak Abraham yang melaluinya bangsa-bangsa akan diberkati (Mat. 1:1). Dia adalah Hamba yang Menderita yang dijanjikan, yang ditikam karena pemberontakan kita dan diremukkan karena kejahatan kita (Yes. 53:5). Dia mati untuk dosa-dosa kita (1Kor. 15:3), dan siapa pun yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan (Yoh. 3:16; Kis. 16:31).

Adam yang kedua adalah kepala umat manusia yang baru, dan dalam keluaran yang lebih besar, Ia membebaskan umat-Nya dari dosa dan kegelapan serta membawa mereka masuk ke dalam Kerajaan-Nya untuk menyembah Allah, ada dalam kesatuan dan persekutuan dengan Allah, serta menikmati Allah selamanya. Karya penyelamatan Yesus Kristus dan penerapannya bagi umat-Nya merupakan salah satu doktrin paling agung dalam Kitab Suci. Dalam rangkaian artikel-artikel ini, kita akan melihat bagaimana gereja telah memahami (dan terkadang salah memahami) doktrin alkitabiah tentang keselamatan dan mencoba menjelaskan mengapa pemahaman yang benar tentang doktrin ini sangat penting bagi kehidupan Kristen kita.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Keith A. Mathison

Keith A. Mathison

Dr. Keith A. Mathison adalah profesor teologi sistematika di Reformation Bible College di Sanford, Florida. Ia adalah penulis dari banyak buku, termasuk The Lord’s Supper: Answers to Common Questions.