
Motivasi Mengasihi
29 April 2026Kemalasan & Kerajinan
Bila kita memikirkan warisan Reformasi Protestan abad ke-16 yang masih bertahan, ada beberapa hal yang terlintas dalam pikiran—seperti pembenaran hanya oleh iman, hanya di dalam Kristus, hanya berdasarkan firman Allah, dan hanya untuk kemuliaan Allah. Namun, ada ciri khas Reformasi lain yang kerap terlupakan, yang terpelihara dalam jargon “etos kerja Protestan”. Ungkapan ini telah dikaitkan dengan ungkapan lain seperti “upah sehari yang jujur untuk pekerjaan sehari yang jujur.” Namun, alasan itu disebut etos kerja Protestan adalah karena salah satu hal yang diartikulasi atau diteguhkan ulang oleh para reformator adalah ide bahwa semua pekerjaan halal (bukan hanya yang bersifat religius atau yang terkait dengan gereja) dikuduskan oleh Allah. Singkatnya, para reformator menangkap kembali konsep alkitabiah mengenai martabat dari bekerja.
Untuk memahami pentingnya konsep bekerja di dalam Alkitab, kita hanya perlu merenungkan perikop-perikop yang menentang keras ketidakaktifan dan kemalasan: “Tangan orang rajin akan memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa” (Ams. 12:24). “Di awal musim hujan pemalas tidak membajak; ia mencari di musim penuai tetapi tidak mendapat apa-apa” (Ams. 20:4). “Pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja” (Ams. 21:25). “Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar bahwa ada orang di antara kamu yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringatkan dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri” (2Tes. 3:10-12). Perikop-perikop ini mengindikasikan bahwa orang sehat yang tidak bekerja melakukan dosa dengan konsekuensi yang tidak ringan. Rasul Paulus menegaskan hal ini dengan paling jelas di dalam 1 Timotius 5:8: “Namun, jika ada orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk daripada orang yang tidak beriman.”
Etos kerja Protestan tidak hanya menekankan kebajikan dari pekerjaan yang jujur tetapi juga kerajinan dalam melakukannya. Amsal 18:9 menangkap pesan ini: “Orang yang bermalas-malasan dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara si perusak.” Di seluruh kitab Amsal, bukan hanya orang yang bekerja yang dipuji, tetapi terutama orang yang bekerja dengan rajin. Dengan kata lain, kita harus mengerahkan upaya yang terbaik dalam bekerja.
Namun, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, beberapa orang bersikap malas dan menolak bekerja, sementara yang lain bermalas-malasan dan sembrono dalam bekerja. Dosa menyebabkan beberapa orang memandang pekerjaan secara egois, yaitu hanya dari sudut pandang finansial. Dengan kata lain, mereka tidak menghargai pelayanan yang dapat mereka persembahkan bagi Allah atau demi kemuliaan yang patut Ia terima. Mereka memandang pekerjaan hanya sebagai cara untuk memperoleh uang dan dengan demikian barang-barang bagi diri sendiri.
Dosa menyebabkan beberapa orang menjadi begitu tenggelam dalam pekerjaan sehingga mereka mengabaikan keluarga mereka, bahkan kesejahteraan rohani mereka sendiri. Pola “kecanduan kerja” yang merupakan karakteristik begitu banyak orang pada masa ini menyamar sebagai sifat rajin yang disebutkan di dalam Alkitab. Namun, ini sebuah penipuan diri. Bekerja dengan rajin tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan Allah dan keluarga.
Dosa menyebabkan beberapa orang memandang dirinya terlalu tinggi (dan dengan demikian memandang orang lain rendah) karena jenis pekerjaan yang mereka lakukan. Budaya kita penuh dengan pekerjaan glamor yang menipu kita untuk berpikir bahwa kita pada dasarnya lebih baik daripada orang lain karena posisi kita. Ini membawa kita menghakimi dan merendahkan pekerjaan, karakter, atau martabat dari orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan yang “glamor”.
Orang Kristen harus berjaga-jaga terhadap pengertian tentang kerja yang menyimpang seperti ini, dan bertobat bila mana pikiran demikian disingkapkan kepada kita. Untuk itu, diskusi apa pun menyangkut kerja dari sudut pandang Kristen harus mencakupi Sabat. Kejadian 2:3 berkata, “Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya.” Sebagaimana kita mencerminkan dan memuliakan Pencipta kita dengan bekerja, kita juga harus mencerminkan dan memuliakan Dia dengan menjalankan Sabat. Sabat menempatkan pekerjaan kita pada perspektif yang tepat. Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa Kristus adalah tempat peristirahatan dan Sabat ultima kita (Ibr. 3:7-4:10). Ketika kita berhenti dari pekerjaan kita untuk merenungkan Dia dan karya-Nya bagi kita, rasa syukur kita menyala kembali, dan pandangan kita tentang kehidupan dan pekerjaan tetap berpusat pada Kristus.
Jika demikian, apa implikasi dari etos kerja Protestan? Kelambanan, ketidakaktifan, dan kemalasan adalah manifestasi dari pemberontakan manusia terhadap Pencipta kita, dan merupakan penghinaan terhadap kemuliaan-Nya.
Jika kita mengizinkan pikiran kita tentang kerja dibentuk oleh dunia, kita akan rentan membuat pekerjaan kita menjadi berhala. Bekerja saja tidaklah cukup, kita harus bekerja dengan rajin supaya tidak memberi ruang bagi kemalasan, atau sekadar menyenangkan orang lain.
Kita harus mencamkan teguran keras Alkitab terhadap kelambanan dan kemalasan. Dalam bekerja, dan dalam semua area kehidupan, kita harus hidup bagi kemuliaan Allah.


