
Mengapa Baptisan Merupakan Sarana Anugerah?
19 Agustus 2025
Bagaimana Saya Bisa Menjadi Seorang Ibu yang Saleh?
26 Agustus 2025Mengapa Khotbah Merupakan Sarana Anugerah?
“Jika Anda tidak mendengarkan saya, bagaimana Anda bisa tahu saya seperti apa? Jika Anda tidak mengizinkan saya berbicara, bagaimana Anda akan memahami siapa saya?” Kita dapat membayangkan sesuatu seperti itu dikatakan dalam sebuah hubungan di antara dua orang. Agar Anda dapat mengenal orang lain, haruslah ada kegiatan berbicara dan mendengar. Begitulah sederhananya cara komunikasi bekerja.
Di jantung Alkitab adalah Allah yang berbicara, yang membuat diri-Nya dikenal. Inilah perbedaan tajam antara Allah dan berhala: Allah berkomunikasi. Dalam kata-kata Francis Schaeffer: “Ia ada di sana dan Ia tidak diam.” Ia membuat diri-Nya dikenal melalui ciptaan, dan kita melihat sesuatu dari kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, dan keindahan-Nya melalui apa yang Ia ciptakan. Ia menunjukkan kuasa-Nya yang tak dapat ditolak di dunia ini, tetapi kita tidak dapat mengetahui lebih banyak daripada itu dari ciptaan. Kita bisa saja berteriak ke langit: “Siapakah Engkau? Seperti apa wujud-Mu?” Namun, Anda tidak akan mendapatkan jawaban apa pun.
Akan tetapi, ketika kita tiba pada halaman-halaman Alkitab, kita melihat bahwa Ia menyingkapkan diri-Nya dan berbicara kepada kita melalui Firman-Nya. Allah adalah Allah yang berkhotbah. Pada halaman pertama Alkitab itu sendiri terdapat refrein yang berulang ini: “Berfirmanlah Allah, ‘Jadilah…,’ maka itu pun jadi.” Firman-Nya mewujudkan tujuan-Nya. Dari awal sekali kita melihat kuasa dan otoritas Firman Allah. Ia membedakan diri-Nya dari segala ilah melalui Firman-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Yesaya 55:11 merangkumnya bagi kita:
demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku;
ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia,
tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki,
dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
Sejak awal dari Alkitab, kita melihat Allah berbicara dan Firman-Nya mewujudkan apa yang hendak Ia lakukan. Ia berkata, “Jadilah terang,” maka terang pun jadi. Ia memanggil keluar umat milik-Nya. Ia menebus mereka. Ia menuntun mereka dengan Firman-Nya. Ia memerintah mereka dengan hukum-Nya dan dengan nabi-nabi yang Ia utus untuk memberitakan pesan-Nya kepada umat-Nya—untuk menyampaikan persis Firman-Nya. Mereka membawa pesan keselamatan dan penghakiman.
Pada waktu yang tepat, Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia—Anak-Nya yang adalah Firman Allah itu sendiri, yaitu Dia yang berada bersama Allah, dan adalah Allah, dan pada mulanya bersama dengan Allah, yang melalui-Nya segala sesuatu dijadikan. Di dalam Dia ada hidup, dan Firman itu menjadi manusia dan tinggal di antara kita (Yoh. 1:1-4, 14). Tuhan Yesus adalah pengkhotbah yang terbesar. Ia mengajar tidak seperti para pemimpin agama pada zamannya, melainkan sebagai Pribadi yang memiliki otoritas. Ia berkhotbah dengan sederhana, jelas, dan dalam. Orang banyak terpukau ketika Ia berbicara. Suara-Nya membangkitkan orang mati, meneduhkan badai, mengusir roh-roh jahat, dan menghalau sakit-penyakit. Dialah yang membuat Allah dikenal. Yesus mengutus para pengkhotbah untuk memberitakan kabar baik dari Injil, dan mereka berbicara dengan otoritas-Nya. Ketika orang-orang menerima pesan Injil, mereka menerima Dia. Mereka beralih dari kematian kepada hidup, dari kegelapan kepada terang. Melalui pemberitaan Firman Allah, orang pilihan dikumpulkan dan jemaat-Nya dibangun.
Ketika Rasul Paulus yang sudah tua menatap melampaui masa hidupnya dan menetapkan prioritas bagi jemaat pasca para rasul, ia memberi satu perintah utama kepada Timotius: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegurlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2Tim. 4:2). Firman Allah yang harus dikhotbahkan ini hidup dan aktif, lebih tajam daripada pedang bermata dua. Allah tidak diam. Ia adalah Allah yang berbicara, dan Ia berbicara pada hari ini melalui Firman yang dikhotbahkan. Teologi khotbah kita harus berakar dan berdasar pada siapa Allah Tritunggal ini.
Sering kali kita lupa bertanya kepada diri sendiri, apakah khotbah itu? Khotbah adalah abdi Allah memberitakan Firman Allah dalam kuasa Roh Allah. Allah memakai Firman-Nya yang dikhotbahkan untuk memberkati umat-Nya. Allah telah mengaruniakan dan memanggil (memisahkan) orang-orang tertentu sebagai pengkhotbah untuk menyatakan apa yang dikatakan oleh Firman-Nya. Allah tentu saja dapat berbicara secara langsung, tetapi Ia memilih memakai orang-orang yang lemah dan rapuh untuk menyampaikan Firman Allah. Orang-orang itu harus memberitakan Firman Allah, bukan pesan mereka sendiri, bukan pula apa yang ingin didengar oleh pendengar mereka. Mereka adalah para juru bicara yang mewakili Allah. Mereka perlu bekerja keras melakukan persiapan dan studi untuk memahami wahyu Allah. Allah berbicara kepada mereka melalui Firman-Nya dan berbicara melalui mereka ketika Ia berbicara kepada umat-Nya.
Ketika kita mendengar Firman Allah dikhotbahkan, khotbah merupakan sarana anugerah. Merupakan berkat dan hak istimewa yang besar ketika Tuhan yang berdaulat atas langit dan bumi berbicara kepada kita. Di dalam Roma 10, Paulus berbicara tentang pentingnya kehadiran pengkhotbah dan berkata:
Namun, bagaimana orang dapat berseru kepada Dia yang belum mereka percayai? Bagaimana orang dapat percaya kepada Dia yang belum pernah mereka dengar? Bagaimana orang dapat mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Bagaimana orang dapat memberitakan-Nya, jika tidak diutus? Seperti tertulis, “Alangkah menyenangkan langkah-langkah mereka yang membawa kabar baik!” (Rm. 10:14-15)
Ketika Firman Allah dikhotbahkan oleh abdi Allah dalam kuasa Roh, dan diterima dengan iman, Firman itu menghasilkan kehidupan. Allah dalam Alkitab adalah Allah yang berbicara, dan pengkhotbah adalah juru bicara-Nya.
Pemberitaan Firman Allah adalah alat yang melaluinya kita menerima kebaikan Allah yang tidak pantas kita terima. Allah telah berjanji akan memberkati Firman-Nya. Para teolog Westminster dalam Katekismus Kecil menekankan persis hal ini di dalam Pertanyaan & Jawaban 89: “Roh Allah membuat pembacaan, tetapi terutama pemberitaan Firman, menjadi sebuah sarana yang efektif untuk meyakinkan dan mempertobatkan orang-orang berdosa, dan membangun mereka dalam kekudusan dan penghiburan, melalui iman, kepada keselamatan.”
Jadi, ketika kita datang untuk mendengar Firman Allah dari Minggu ke Minggu, kita datang dengan sukacita dan pengharapan untuk menerima dan mendengar. Namun, kita juga datang dengan kata-kata dari Mazmur 95 bergema di telinga kita: “Pada hari ini, kalau saja kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu” (Mzm. 95:7-8).
Artikel ini merupakan bagian dari koleksi The Basics of Christian Discipleship.


