Janji Apa yang Diberikan Yesus Sebelum Naik ke Surga?

24 April 2026

Motivasi Mengasihi

29 April 2026

Janji Apa yang Diberikan Yesus Sebelum Naik ke Surga?

24 April 2026

Motivasi Mengasihi

29 April 2026

Apa Artinya Berada “di dalam Kristus”?

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Sebab, di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab, di dalam Dia kita beroleh penebusan melalui darah-Nya, yaitu pengampunan atas pelanggaran, menurut kekayaan anugerah-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab, Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi. 

Di dalam Dialah kami diberi warisan—kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya—supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. Di dalam Dia kamu juga—karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu—di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya. (Ef. 1:3-14)

Ketika orang bertanya tentang iman Anda, bagaimana Anda menggambarkan diri Anda? Apakah Anda sepertinya akan berkata, “Saya seorang Presbiterian” atau “Baptis”? Atau mungkin, “Saya seorang Episkopalian”? Atau, mungkin Anda sekadar berkata, “Saya seorang Kristen”?

Mungkin tidak pernah terlintas dalam pikiran kebanyakan dari kita bahwa jika kita dapat meminta orang percaya pada zaman Perjanjian Baru untuk menggambarkan diri mereka, mereka mungkin tidak akan pernah menjawab, “Kami orang Kristen.” Kenyataannya, kata “Kristen” hanya muncul tiga kali di seluruh Perjanjian Baru. Para murid pertama kali disebut “Kristen” di Antiokhia (Kis. 11:26). Selanjutnya, Raja Agripa sepertinya hampir memuntahkan kata itu ketika ia berkata kepada Rasul Paulus, “Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!” (Kis. 26:28). Kemudian, dalam surat pertamanya, Simon Petrus berbicara tentang penderitaan seseorang sebagai “orang Kristen” (1Ptr. 4:16).

Dalam ketiga konteks ini, orang Kristen sepertinya adalah istilah yang merendahkan, bahkan sebuah “ujaran kebencian” yang diciptakan oleh musuh-musuh Injil, sama seperti istilah Puritan pada abad ke-17. Mungkin saja dahulu kata ini boleh dikatakan dimuntahkan seperti kata “fundamentalis” saat ini. Semua ini adalah “ungkapan kebencian”. Jika inilah cara kata “Kristen” pertama kali dikenal secara umum, tidaklah mengherankan bahwa di dalam Kisah Para Rasul, Lukas memilih memakai kata “murid” (misalnya, dalam Kis. 6:1; ada lebih dari dua lusin contoh lain) atau kadang menggambarkan orang percaya sebagai pengikut “Jalan” (Kis. 9:2; 22:4; 24:14), sebab mereka mengikuti Dia yang berkata, “Akulah Jalan” (Yoh. 14:6).

Namun, jika Anda bertanya kepada Paulus, “Bagaimana Anda melihat diri Anda sendiri?”, jawabannya mungkin bukan salah satu dari pilihan-pilihan di atas, melainkan “Saya seorang di dalam Kristus.”

Saya ingat, waktu masih remaja, membaca 2 Korintus 12:1-10—perikop di mana Paulus berbicara tentang penyingkapan luar biasa yang ia terima, dan duri dalam daging yang mencegahnya menjadi sombong. Mengawali perikop itu, ia berkata bahwa ia dahulu mengenal “seseorang di dalam Kristus” yang mendapat penyingkapan luar biasa tentang keajaiban dan anugerah Allah—begitu luar biasa sehingga ia merasa tidak pantas menceritakannya kepada orang lain. Saya ingat dahulu saya bertanya-tanya, “Siapakah ‘seseorang di dalam Kristus’ yang tidak disebutkan namanya yang Paulus katakan itu?” Mungkin pikiran saya tumpul waktu itu, tetapi jawabannya baru secara perlahan-lahan mulai terbuka: Paulus sedang berbicara tentang dirinya sendiri! Inilah cara sederhana yang ia pakai untuk merujuk kepada dirinya sendiri karena inilah cara mendasar di mana ia berpikir tentang dirinya sendiri. Dia adalah “seorang di dalam Kristus”.

Camkan dalam pikiran Anda kata-kata ini: “di dalam Kristus”, dan yang setara dengan itu (misalnya, “di dalam Dia”). Lalu, telusuri dengan cepat kurang lebih enam puluh halaman dalam Alkitab Anda yang memuat tiga belas surat Paulus. Anda akan menemukan ungkapan “di dalam Kristus” atau variannya lebih dari delapan puluh kali. Ungkapan-ungkapan yang setara dengan itu, “di dalam Tuhan” (kadang “di dalam Tuhan Yesus”) hampir menggandakan jumlahnya.

Jika Anda belum pernah memperhatikan hal ini sebelumnya, Anda mungkin akan terkejut melihat betapa sering Paulus memakai ungkapan-ungkapan ini, dan bertanya-tanya, mengapa Anda tidak pernah benar-benar memperhatikannya sebelumnya. Namun, kita mungkin saja telah membaca surat-surat Paulus selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, tanpa mengamati signifikansi ungkapan “preposisi” kecil ini, yang jelas merupakan cara dasarnya dalam menggambarkan apa artinya menjadi orang Kristen.

Tiga kata tersebut, yaitu preposisi “di dalam” yang diikuti dengan gelar “Kristus”, membentuk tema pokok halaman-halaman ini. Setelah selesai membaca tulisan ini, Anda bisa dimaafkan bila berpikir bahwa ini adalah eksposisi tiga kata terpanjang yang pernah Anda baca! Padahal, halaman-halaman ini baru sekadar menyentuh permukaan dari doktrin yang kaya dan ajaib ini. Namun, saya harap ini akan mendorong Anda melihat, dari sejumlah sudut pandang Alkitab, apa artinya berada “di dalam Kristus”. Jika Anda adalah milik-Nya, itulah jati diri Anda yang sebenarnya, setiap hari di dalam hidup Anda, yaitu seorang yang ada “di dalam Kristus”.

Seorang ahli Perjanjian Baru telah menunjukkan bahwa di dalam film The Godfather, kata “mafia” tidak pernah digunakan, namun kata itu merupakan asumsi dasar dari keseluruhan film tersebut.1 Dengan cara yang sama, meski ungkapan “di dalam Kristus” yang khusus ini tidak digunakan, arti dari ungkapan ini mendasari segala sesuatu yang dikatakan oleh Rasul Paulus tentang menjalani hidup kristiani. Lebih dari itu, ungkapan ini merupakan jawaban dari banyak persoalan yang mengganggu individu orang percaya atau seluruh jemaat.

Perjanjian Baru tidak pernah mendefinisikan apa arti dari “di dalam Kristus”. Cara terbaik untuk memahami signifikansinya adalah merenungkan berbagai perikop yang menggambarkan semua hal yang terlibat dalam ungkapan ini. Di sini, tugas utama kita adalah memperkenalkan pada diri kita pentingnya berada “di dalam Kristus”. Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan merenungkan kehadirannya dalam pasal pertama surat Paulus kepada jemaat di Efesus.

1 Constantine R. Campbell, Paul and Union with Christ: An Exegetical and Theological Study (Zondervan, 2012), 24n4. 

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Sinclair B. Ferguson

Sinclair B. Ferguson

Dr. Sinclair B. Ferguson adalah salah satu dewan pengajar Pelayanan Ligonier, vice-chairman Pelayanan Ligonier, dan Chancellor’s Professor of Systematic Theology di Reformed Theological Seminary. Dia adalah pengajar utama untuk beberapa seri pengajaran Ligonier, termasuk Union with Christ. Ia adalah penulis dari banyak buku, termasuk The Whole Christ, Maturity, dan Devoted to God's Church. Dr. Ferguson juga merupakan pembawa acara podcast Things Unseen.