Apa Artinya Berada “di dalam Kristus”?

27 April 2026

Apa Artinya Berada “di dalam Kristus”?

27 April 2026

Motivasi Mengasihi

Di dalam karyanya yang klasik di abad ke-20, The Screwtape Letters, C. S. Lewis membayangkan setan Screwtape menulis kepada keponakannya, Wormwood, mengenai perlunya menemukan rahasia tentang mengapa Allah mengasihi manusia. Ia menulis demikian:

Sebenarnya, karena kecerobohan saya tidak sengaja berkata bahwa Musuh kita benar-benar mengasihi manusia. Tentu saja, itu mustahil… Semua ucapan-Nya tentang Kasih pasti hanyalah samaran untuk sesuatu yang lain—Ia pasti memiliki motif yang sebenarnya dalam mencipta dan memberikan banyak perhatian terhadap mereka. Penyebab seseorang berbicara seolah-olah Ia benar-benar menunjukkan Kasih yang mustahil ini adalah sepenuhnya kegagalan kita menemukan motif yang sebenarnya. Apa yang sesungguhnya yang Ia dapatkan dari mereka? Pertanyaan ini tidak dapat diselesaikan… dan di sinilah tugas besar kita. Kita tahu bahwa Ia tidak mungkin benar-benar mengasihi mereka; tidak ada yang bisa; ini tidak masuk akal. Andai kita bisa tahu apa tujuan-Nya yang sebenarnya.

Kita berharap yang baik bagi para setan ini dalam upaya mereka mencari jawaban. Bagi kita yang adalah umat Allah, tidak ada kebutuhan untuk penyelidikan seperti ini. Kita percaya bahwa Allah benar-benar mengasihi kita. Allah itu kasih (1Yoh. 4:16). Maka, adalah hakikat-Nya yang sebenarnya untuk mengasihi. Ia mengasihi kita pada masa kepolosan kita sebelum jatuh ke dalam dosa. Ia terus mengasihi kita setelah kita jatuh ke dalam dosa. Karena itu, Yesus bisa berkata, “Kasihilah musuh-musuhmu… Dengan demikian, kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga” (Mat. 5:44-45).

Kasih Allah bagi kita mencapai puncak-Nya pada karya penebusan-Nya di kayu salib. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Ini adalah kasih yang tidak dapat dijelaskan; dan benar-benar membuat kita takjub. Sebagaimana dikatakan oleh Charles Wesley:

Dari mana datangnya pemborosan cinta ini?
Tanyalah pada Pembelaku di atas sana!
Lihatlah sebabnya di wajah Yesus,
Kini di hadapan takhta kasih karunia.

Di sana Sang Juru Selamat berdiri bagiku,
Menunjukkan luka, merentangkan tangan.
Allah itu kasih; Aku tahu, aku merasakan;
Yesus hidup, dan tetap mengasihiku.

Pertunjukan kasih Allah atas kita di dalam Alkitab membakar kasih kita kepada-Nya. Maksud saya, setelah memahami fakta-fakta yang luar biasa ini, bagaimana mungkin kita tidak membalas mengasihi-Nya? Pengorbanan Anak Allah sendiri di kayu salib adalah perapian di mana kita menghangatkan hati kita yang dingin terhadap Allah. Bagi kita para pengkhotbah, tidak ada pengorbanan dalam pelayanan yang terlalu besar di dalam terang pengorbanan yang telah Allah lakukan bagi kita. Roh Kudus memakai kebenaran ini untuk menjaga ruang pembakaran jiwa kita tetap berkobar. Semangat kita menjadi tak terpadamkan. Himne terkenal yang digubah oleh Isaac Watts menangkap kebenaran ini dengan sangat baik pada bait penutupnya:

Seluruh hidup dan miliku,

Kupersembahkan pada-Mu;

Kasih-Mu tiada tara,

Menuntut jiwa dan ragaku.

Namun, kita tidak begitu saja membalas kasih Allah. Kita juga mengarahkan kasih kita kepada orang-orang yang telah dikasihi dan terus dikasihi Allah. Kita ingin menjadi sarana yang melaluinya kasih Allah dapat mencapai sasaran yang dimaksudkan. Kita akan menyeberangi daratan dan lautan, bukan hanya untuk memperingatkan tentang murka Allah kepada jiwa-jiwa yang hilang, tetapi juga dengan sungguh-sungguh memohon mereka untuk merespons kasih Allah bagi mereka di dalam Kristus Yesus. Sesungguhnya, jika kita mengenal kasih ini, kita seharusnya melakukannya.

Inilah yang dimaksud Paulus ketika ia berkata:

Kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, mereka semua sudah mati… Jadi, kami ini utusan-utusan Kristus, sebab Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami. Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. (2Kor. 5:14, 20)

Jika kasih ini tidak mendorong Anda kepada penginjilan, Anda kemungkinan besar sedang bekerja jauh di bawah potensi penuh Anda.

Ketika kita mengasihi Allah dalam terang kasih-Nya bagi kita, kita juga menemukan diri kita mengasihi mempelai-Nya—Gereja. Umat Allah, yang telah dibeli oleh darah-Nya sendiri, menjadi sangat berharga bagi kita. Bersama Paulus, kita berkata kepada mereka:

… sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. (Ef. 3:17-19)

Demi tujuan ini, kita bekerja dan berjuang dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dikaruniakan Allah.

Meski para setan di neraka dalam gambaran Lewis sibuk mencari tahu motif sebenarnya di balik klaim Allah bahwa Ia mengasihi kita, kita menemukan kasih ini mendorong kita untuk tidak hanya mengasihi Allah, tetapi juga mengasihi umat yang telah Ia ciptakan dan tebus. Kita berkata kepada diri sendiri (mengikuti perkataan John Kent):

Pada kasih yang demikian, jiwaku masih merenungkan

Kasih yang begitu besar, kaya, dan bebas;

Katakan, saat terpesona dalam ketakjuban kudus

Mengapa, Tuhan, kasih seperti itu bagiku? 

Haleluya! Kasih karunia akan berkuasa selamanya.

 

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Conrad Mbewe

Conrad Mbewe

Pdt. Conrad Mbewe adalah gembala di Kabwata Baptist Church di Lusaka, Zambia. Ia juga adalah penulis buku Foundations for the Flock: Truths about the Church for All the Saints.