Mengapa Baptisan Itu Penting?
14 Agustus 2025
Mengapa Khotbah Merupakan Sarana Anugerah?
21 Agustus 2025
Mengapa Baptisan Itu Penting?
14 Agustus 2025
Mengapa Khotbah Merupakan Sarana Anugerah?
21 Agustus 2025

Mengapa Baptisan Merupakan Sarana Anugerah?

Sebuah keluarga Kristen pernah mendekati mendiang Dr. John Gerstner dan memintanya membaptis anak mereka yang baru lahir. Ketika waktu semakin mendekat untuk seremoni itu, ibu dari anak tersebut bertanya apakah seremoni tersebut dapat ditunda sampai ia mendapatkan gaun putih untuk dipakai bayinya pada waktu ibadah tersebut. Gerstner bertanya kepada sang ibu apa signifikansi dari gaun putih tersebut. Sang ibu menjawab, “Untuk melambangkan ketidakberdosaan bayi saya.” Gerstner menjawab, “Jika bayi Ibu tidak berdosa, mengapa kita membaptisnya?” Anekdot ini menangkap sesuatu tentang kebingungan secara umum mengenai natur baptisan.

Banyak orang memandang baptisan hanya sebagai formalitas agamawi dan seremonial. Yang lain terlalu melebihkan efektivitas dari tindakan lahiriah baptisan, mengatakan bahwa baptisan mengimpartasikan anugerah yang menyelamatkan kepada setiap orang yang menerimanya. Kebenarannya adalah seperti ini, baptisan adalah sebuah tindakan yang sederhana sekaligus rumit. Baptisan itu sederhana dalam arti bahwa baptisan adalah suatu pembasuhan secara seremonial dalam nama Allah Tritunggal, yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus menjadi tanda seorang murid. Baptisan itu rumit berkaitan dengan ketepatan arti dari natur, subjek, dan efektivitasnya. Untuk memperoleh pemahaman yang benar tentang bagaimana baptisan bekerja dalam kehidupan umat Allah, kita pertama-tama perlu memikirkan natur dari tindakan baptisan.

Baptisan, seperti padanannya dalam perjanjian lama, yaitu sunat, merupakan tanda dan meterai perjanjian anugerah (Rm. 4:11), yang menunjuk kepada janji kebenaran Allah yang diberikan melalui iman kepada Kristus. Baptisan adalah sebuah tanda karena menunjuk melampaui dirinya kepada kelahiran baru oleh Roh Kudus, dan pembasuhan oleh darah Kristus, yang dijanjikan. Baptisan adalah sebuah meterai yang melaluinya Allah meneguhkan kebenaran janji-Nya kepada orang-orang percaya dan anak-anak mereka. Baptisan Kristen adalah tanda dan meterai yang ditetapkan Allah berkaitan dengan janji-janji dalam perjanjian-Nya. Hal ini yang membuat baptisan merupakan sarana anugerah.

Ketika memikirkan baptisan sebagai sarana anugerah, kita pertama-tama harus melihatnya sebagai tindakan ilahi. Allah Tritunggal menerapkan tanda dan meterai ini pada umat-Nya dalam perjanjian baru. Banyak yang keliru memandang baptisan sebagai, pertama dan terutama, tanda dari sesuatu yang telah mereka kerjakan (yaitu tanda dari tindakan pengakuan iman pribadi mereka kepada Kristus). Karena itu, banyak orang menyebut baptisan sebagai “tanda lahiriah dari pengakuan iman batiniah”. Meski orang-orang percaya dan anak-anak mereka jelas menerima baptisan sebagai tanda kemuridan (Mat. 28:18-20; 1Kor. 7:14) dalam ketaatan kepada Yesus, tanda perjanjian itu tidak pertama dan terutama menunjuk kepada sesuatu yang telah kita kerjakan. Sebaliknya, baptisan menunjuk kepada apa yang telah dijanjikan Allah akan Ia lakukan di dalam Kristus oleh Roh Kudus. Memahami hal ini adalah penting jika kita ingin mengerti bagaimana baptisan berfungsi sebagai sarana anugerah.

Baptisan adalah tanda inisiasi ke dalam komunitas perjanjian yang baru. Ketika seseorang menerima tanda baptisan, Allah membawa mereka ke dalam lingkup gereja yang kelihatan. Dengan demikian, mereka dipisahkan dari dunia dan dijadikan anggota dari sebuah komunitas ibadah yang hidup bersama di bawah pelayanan Firman Allah, sakramen, dan disiplin. Ini bukan berarti bahwa semua yang menerima baptisan memiliki anugerah yang ditunjukkan oleh tanda dan meterai ini. Sangat memungkinkan bahwa seseorang bisa saja memiliki tanda tersebut tetapi tidak memiliki hal yang ditunjuk oleh tanda tersebut. Ini terbukti dari catatan mengenai Simon si tukang sihir (Kis. 8:9-24). Meski demikian, baptisan, seperti pasangannya dalam perjanjian baru, yaitu Perjamuan Kudus, bukanlah sebuah tanda yang kosong. Baptisan benar-benar meneruskan anugerah Allah kepada mereka yang seharusnya memilikinya, yaitu orang-orang pilihan. Sebagaimana dikatakan oleh Pengakuan Iman Westminster (28.6):

Efektivitas baptisan tidak terikat dengan momen ketika baptisan dilakukan. Namun, meskipun  demikian, ketika baptisan ini dilakukan secara tepat, anugerah yang dijanjikan itu tidak hanya ditawarkan, tetapi juga benar-benar ditunjukkan, dan diberikan oleh Roh Kudus kepada mereka (baik dewasa maupun bayi) yang seharusnya memiliki anugerah itu, sesuai dengan keputusan kehendak Allah, pada waktu yang Ia tetapkan.

Para anggota Persidangan Westminster menyertakan sejumlah peringatan penting dalam rumusan-rumusan doktrinal tentang efektivitas baptisan ini. Pertama, mereka menjelaskan bahwa efektivitas baptisan tidak terikat pada momen baptisan diberikan. Sakramen ini tidak secara otomatis melimpahkan anugerah kepada setiap orang yang menerimanya. Kedua, mereka mengatakan bahwa sakramen baptisan hanya melimpahkan anugerah melalui karya Roh Kudus. Kecuali Roh Kudus secara berdaulat mengaruniakan kelahiran baru dan pencerahan rohani, Firman dan sakramen tidak akan melimpahkan anugerah Allah kepada individu-individu. Ketiga, efektivitas baptisan hanya diperuntukkan “kepada mereka (baik dewasa maupun bayi) yang seharusnya memiliki anugerah itu”. Para teolog Westminster menunjukkan bahwa hanya orang-orang pilihan yang kepadanya anugerah Allah diberikan melalui sakramen tersebut.

Sebagai sarana anugerah, baptisan menjadi efektif dalam hidup orang-orang pilihan melalui kelahiran baru secara berdaulat oleh Roh Kudus. Hal ini dapat terjadi di dalam hidup seorang individu “baik dewasa maupun bayi”. Namun, kelahiran baru itu dilakukan pada hidup orang-orang pilihan melalui karya Roh Allah yang secara bebas, dan bukan hasil usaha manusia, diberikan pada hati orang-orang pilihan. Jika seseorang dibaptis ketika bayi dalam nama Allah Tritunggal, tetapi ia tidak memiliki iman dan pertobatan yang menyelamatkan sampai dewasa, kita dapat dengan benar mengatakan bahwa “baptisan mereka menjadi efektif pada waktu pertobatan mereka”—bukan karena pertobatan dan iman mereka, tetapi karena karya Roh Allah yang penuh anugerah yang menerapkan karya Kristus, yang telah disalibkan dan bangkit, kepada jiwa-jiwa tersebut.

Artikel ini merupakan bagian dari koleksi The Basics of Christian Discipleship.


Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Nick Batzig
Nick Batzig
Pdt. Nicholas T. Batzig (@Nick_Batzig) adalah pendeta senior di Church Creek PCA di Charleston, South Carolina, dan seorang associate editor untuk Pelayanan Ligonier. Ia menulis blog di Feeding on Christ