Mengapa Khotbah Merupakan Sarana Anugerah?
21 Agustus 2025
Mengapa Saya Seharusnya Pergi ke Gereja?
28 Agustus 2025
Mengapa Khotbah Merupakan Sarana Anugerah?
21 Agustus 2025
Mengapa Saya Seharusnya Pergi ke Gereja?
28 Agustus 2025

Bagaimana Saya Bisa Menjadi Seorang Ibu yang Saleh?

“Kasihilah mereka”, demikianlah pendeta kami yang bijak menasihati saya. Dalam seluruh pembacaan saya mengenai disiplin, jadwal, dan tahap-tahap perkembangan, ia menunjukkan hal yang terpenting kepada ibu baru ini: kasih (1Kor. 13:1). Selama puluhan tahun, saya makin menghargai hikmat dari nasihat ini. Sambil mengingat tentang kasih sebagai yang utama, saya menawarkan kepada para ibu dua belas prinsip mengenai kekudusan.

1. Kekudusan kita adalah prioritas Allah.

Sebagaimana perkataan dari seorang pendeta berkebangsaan Skotlandia, Robert Murray M’Cheyne (1813–1843): “Kebutuhan terbesar jemaat saya adalah kekudusan pribadi saya.” Hal yang sama berlaku bagi para ibu. Kita dapat dengan rendah hati hidup sedemikian rupa sehingga kita dapat berkata kepada anak-anak kita, “Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus” (1Kor. 11:1). Dengan mengejar hal ini, anak-anak kita akan belajar lebih banyak daripada yang kita tahu.

2. Kekudusan kita ada hanya di dalam Kristus semata.

Ketika kita berdosa—sebagaimana kita semua melakukannya (Rm. 3:23, 1Yoh. 1:8)—kita juga dapat memberi contoh tentang pertobatan. Ketika Anda berdosa terhadap anak-anak Anda, mintalah mereka memaafkan Anda. Jangan menjadi seperti orang tua pertama kita, dan menyembunyikan dosa Anda seolah-olah dosa itu tidak terjadi (Kej. 3:7-8). Ajarlah anak-anak Anda bagaimana cara menangani dosa mereka sendiri dengan cara Anda menangani dosa Anda. Ketika Anda mengaku dosa Anda, anak-anak Anda akan belajar bahwa Allah tidak hanya peduli terhadap kekudusan kita, tetapi Ia juga menyediakan jalan kepada kekudusan melalui iman kepada Kristus di dalam Injil (1Yoh. 1:9).

3. Melayani anak-anak kita adalah sebuah panggilan yang kudus.

Kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada mengganti popok, menunggu antrian kasir, bermain dengan anak balita atau remaja kita. Banyak tugas orang tua bersifat rutin, tetapi bila dikerjakan dengan iman, tugas-tugas itu menjadi mulia! Ketika Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, Ia memberikan martabat kepada pelayanan yang dilakukan dengan rendah hati. Lebih lagi, Ia berkata, “Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Marilah kita dengan rendah hati melayani anak-anak kita dengan secangkir air dingin di dalam nama-Nya (Mat. 10:42), menyadari bahwa kasih ini mencerminkan kepedulian Allah bagi anak-anak-Nya (Mat. 7:9-11). 

4. Anak-anak kita adalah milik Allah.

Mereka pertama-tama adalah milik Dia (Ef. 1:4). Dialah Pencipta mereka yang di Surga. Ia menciptakan mereka demi tujuan-Nya, bukan tujuan kita. Orang tua adalah penatalayan yang dipanggil untuk mengarahkan anak-anak kepada kebutuhan terbesar mereka (Ibr. 12:5-11). Ini berarti bahwa kita harus selalu menundukkan rencana kita bagi anak-anak kita kepada rencana Allah (Ams. 16:9). Allah memilih di mana mereka akan tinggal (Kis. 17:26), pekerjaan baik yang akan mereka lakukan (Ef. 2:10), dan jalan hidup mereka (Mzm. 139:16).

5. Allah memakai penderitaan untuk rencana-Nya yang kudus.

Allah bahkan memilih penderitaan bagi anak-anak kita. Allah adalah Bapa yang baik, yang tidak mengizinkan penderitaan tanpa menyediakan kelegaan (Yes. 41:10; 1Kor. 10:13; 1Ptr. 4:19; Why. 21:4). Secara alami, hati kita hancur ketika melihat anak-anak kita menderita. Namun, dalam pemeliharaan-Nya yang kudus dan bijaksana, Allah memberi kepada anak-anak kita ujian untuk membuat mereka serupa (dan kita) dengan karakter Anak-Nya, Yesus Kristus (Rm. 8:29). Dengan mengingat tujuan yang baik ini, kita dipanggil untuk bersukacita dalam penderitaan, dan seiring waktu, mengajarkannya juga kepada anak-anak kita (Yak. 1:2-4).

6. Kekudusan menuntut disiplin.

Allah mendisiplin orang-orang yang Ia kasihi, maka kita pun harus demikian (Ibr. 12:6; Ams. 13:24; 23:13). Tidak seorang pun, termasuk para ibu, menyukai pendisiplinan pada waktu dilakukan, tetapi disiplin menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibr. 12:11). Berdoalah meminta hikmat untuk mendisiplin anak-anak Anda dengan baik dan sepenuhnya mengharapkan Allah untuk mengaruniakannya (Yak. 1:5; 1Yoh. 5:14-15).

7. Kekudusan menuntut penglihatan Allah.

Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hati (1Sam. 16:7). Ketika anak-anak kita berperilaku buruk, kita mungkin tergoda untuk menghakimi menurut apa yang kelihatan. Alkitab memperingatkan kita agar “cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak. 1:19) dan memberitahu bahwa “telinga orang bijak menuntut pengetahuan” (Ams. 18:15). Terkadang kita perlu menahan diri dari menerapkan disiplin dengan segera. Pada beberapa kasus, kita pertama-tama harus mencari pemahaman yang lebih dalam supaya kita dapat berbicara kepada hati secara akurat (Ams. 14:29).

8. Kekudusan adalah karunia Allah.

Terkadang kita tidak memiliki sesuatu karena tidak memintanya dari Allah (Yak. 4:2-3). Mintalah kepada Allah kekudusan bagi anak-anak Anda—bersama segala pemberian lain yang baik dan sempurna: kasih kepada Firman-Nya, hati yang mau diajar, hikmat, kesehatan, sahabat, dan lain-lain (Yak. 1:17). Lihatlah melampaui apa yang dapat Anda berikan dari kemampuan Anda kepada apa yang dapat Allah berikan dari kemampuan-Nya (Mat. 14:13-21).

9. Allah memberi sebuah janji yang kudus kepada anak-anak.

“Hormatilah ayahmu dan ibumu… supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” (lihat Ef. 6:1-4). Berilah teladan bagaimana menghormati ayah mereka dan semua otoritas. Usahakan menyelesaikan perselisihan secara pribadi dan bersatulah dengan suami Anda dalam membesarkan anak-anak dalam didikan dan nasihat Tuhan (Kol. 3:18-25). Jika Anda harus berbeda pendapat dengannya di hadapan anak-anak Anda, lakukanlah dengan penuh hormat (Ef. 6:33).

10. Allah selalu mengerjakan karya kudus-Nya (Yoh. 5:17).

Berdoalah untuk melihat karya Allah dalam hidup anak-anak Anda. Bersyukurlah untuk itu dan paparkan hal itu kepada mereka. Ibu yang saleh mendirikan rumahnya (Ams. 14:1). Jangan menunggu sampai mereka “sempurna” baru memberi pujian. Allah tidak seperti itu! Ia memuji banyak orang yang tidak sempurna di dalam Alkitab. Arahkan anak-anak Anda kepada karya Allah yang setia di dalam hidup mereka.

11. Yesus adalah damai sejahtera kita yang kudus.

Yesus memberi jaminan: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Sebagai ibu, bersiaplah untuk masalah yang akan muncul tetapi jangan putus asa. Allah beserta Anda. Kuatkanlah dan teguhkanlah hati Anda sebab Anda memegang janji-janji Allah dalam perjanjian bagi anak-anak Anda ketika Anda bekerja secara konsisten menjalankan firman Allah dan beribadah di hari Minggu bersama umat Allah di hadapan mereka (Yos. 1:9).

12. Firman Allah yang kudus itu cukup (2Tim. 3:14-15).

Berdiam diri dan berdoalah dalam firman, maka Anda akan menemukan lebih banyak kebenaran untuk menolong Anda menjadi ibu yang saleh (Yoh. 17:17). Ketika Anda mempelajari siapa Allah dan apa yang telah Ia kerjakan, Roh Kudus akan menunjukkan kepada Anda persis apa yang Anda butuhkan sebagai seorang ibu supaya Anda dapat berkata bersama Paulus, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13).

Artikel ini merupakan bagian dari koleksi The Basics of Christian Discipleship.


Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Emily Van Dixhoorn
Emily Van Dixhoorn
Emily Van Dixhoorn adalah lulusan Westminster Theological Seminary. Ia adalah rekan penulis buku Gospel-Shaped Marriage: Grace for Sinners to Love Like Saints dan penulis Confessing the Faith Study Guide. Emily dan suaminya, Chad, tinggal di Charlotte, North Carolina, bersama lima anak mereka.