
Bagaimana Kita Dapat “Meningkatkan Baptisan Kita”?
17 Juni 2026Apakah Yesus Teladan Kita?
Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. (1Ptr. 2:21)
Dalam arti tertentu, jawabannya mudah. Apakah Yesus teladan kita? Ya, Dia adalah teladan kita, namun bukan hanya teladan kita, dan meniru-Nya bukanlah dasar dari iman kita.
Karya Penebusan Kristus yang Unik
Sebelum menulis bahwa Yesus meninggalkan “teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya”, Petrus pertama-tama mengklaim bahwa “Kristus pun telah menderita untuk kamu”—yaitu dalam arti yang tidak kita lakukan untuk orang lain. Ketika Yesus menderita di kayu salib, Ia “memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya”. Ia menyembuhkan luka-luka kita dengan Ia dilukai untuk kita (1Ptr. 2:24). Kita adalah orang-orang yang tersesat seperti domba, dan karya-Nya yang unik telah menebus kita dari dosa kita supaya kita dapat hidup dalam kekudusan (1Ptr. 2:25).
Melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya, Yesus telah melakukan bagi kita—orang-orang yang dipersatukan dengan-Nya oleh iman—apa yang tidak dapat kita lakukan bagi diri sendiri atau bagi orang lain. Kita tidak bisa mati untuk menebus sesama orang berdosa dari hukuman kekal akibat dosanya. Namun, Yesus, yang adalah Allah itu sendiri dan Manusia yang sempurna, menyerahkan diri-Nya sebagai pengganti orang-orang berdosa di kayu salib. Kristus menderita bagi kita yang percaya kepada-Nya.
Pada puncak keempat Injil, Yesus melakukan bagi kita apa yang tidak dapat kita lakukan bagi diri kita sendiri. Poin pertama dan terutama dari kitab-kitab Injil bukanlah meniru apa yang Yesus lakukan tetapi, sebagaimana dengan gamblang ditulis oleh Yohanes, untuk percaya kepada Yesus: “Hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:31).
Meniru Kristus sebagai Murid-Nya
O, betapa kayanya kitab-kitab Injil bagi mereka yang berupaya mengikuti jejak Yesus! Inti dari pencapaian-Nya tidak dapat ditiru, tetapi kehidupan, perkataan, dan tindakan-Nya sebagai manusia penuh dengan hal-hal indah yang dapat ditiru. Seperti kita, Dia benar-benar manusia, yang berupaya memuliakan Bapa-Nya ketika Ia hidup sebagai manusia dengan darah dan daging, dan menghadapi perlawanan orang-orang berdosa dan jalannya dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini. Yesus adalah ekspiasi kita yang unik (melakukan penebusan atas dosa-dosa kita) dan teladan universal bagi kehidupan Kristen.
Yesus sendiri mengajak para pengikut-Nya untuk belajar dari-Nya dan mengikuti jejak-Nya. “Pikullah kuk [yang menyenangkan dan ringan] yang Kupasang”, kata-Nya di dalam Matius 11:29, “dan belajarlah dari-Ku”. Inilah sesungguhnya arti menjadi “murid” Yesus—murid berarti pembelajar. Murid-murid-Nya adalah orang-orang yang belajar dari, dan mengikuti teladan dari, kehidupan dan ajaran-Nya. Jadi, ketika Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya pada malam sebelum Ia disalibkan, Ia berkata: “Jadi, jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamu pun wajib saling membasuh kakimu. Sebab, Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:14-15).
Meski kita tidak dapat mengulangi tindakan yang menghasilkan penebusan dari kehidupan dan kematian Kristus, kita bisa—bahkan kita akan—meniru kasih yang rendah hati dan yang mengorbankan diri yang Ia tunjukkan, baik melalui handuk yang terikat di pinggang-Nya atau tubuh-Nya yang dipakukan di kayu salib.
Para rasul juga menasihati kita untuk menerima Yesus sebagai teladan hidup kita. Paulus berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang…” lalu ia menguraikan pola kerendahan hati dan kemuliaan dari salib dan kebangkitan (Flp. 2:5-8). Begitu pula, Yohanes menulis di dalam surat pertamanya, “Siapa yang mengatakan bahwa ia tinggal di dalam Dia [Yesus], ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup”, yaitu dalam kasih yang mengorbankan diri dan memuliakan Allah (1Yoh. 2:6).
Kuasa dari Roh Kristus yang Tinggal di dalam Kita
Jadi, apakah artinya menjalani “hidup yang saleh” bagi kita orang Kristen? Paulus mengungkapkannya dengan istilah-istilah yang sangat berkesan di dalam 1 Timotius 3:16, di mana ia menulis, “Sesungguhnya, agunglah rahasia kesalehan kita”. Ya, kesalehan. Apa saja yang termasuk di dalamnya? Kita mungkin mengharapkan sebuah daftar singkat berisi kebajikan atau perbuatan benar. Namun, Paulus melanjutkan dengan menunjukkan sentralitas teladan sang Allah-manusia untuk mewujudkan kehidupan Kristen yang saleh. Kita mendapatkan himne tentang Yesus:
Dia, yang telah dinyatakan dalam rupa manusia,
dibenarkan dalam Roh;
yang dilihat malaikat-malaikat,
diberitakan di antara bangsa-bangsa;
yang dipercayai di dalam dunia,
diangkat dalam kemuliaan.
Apakah Anda ingin tahu seperti apa kesalehan itu? Lihatlah kepada Yesus. Dialah inkarnasi dari “kesalehan”. Karena itu, orang Kristen sering kali menyebut perasaan dan perbuatan yang saleh sebagai “keserupaan dengan Kristus”. Pada inti iman kita adalah karya penebusan-Nya yang tidak dapat ditiru, dan teladan tertinggi kehidupan Kristen adalah kehidupan manusia-Nya yang luar biasa yang dapat ditiru.
Kita membaca kitab-kitab Injil dan terkesima dengan gerakan-Nya. Kita takjub atas pencapaian-Nya yang tak tergantikan bagi orang-orang berdosa. Kita menyaksikan-Nya berinteraksi dan berdoa, berkhotbah dan menunjukkan belas kasihan, menarik diri untuk beristirahat lalu kembali untuk melakukan pelayanan anugerah. Kita mengamati kasih-Nya, kesabaran-Nya, dan hikmat-Nya, dan melalui kuasa Roh-Nya yang tinggal di dalam kita, kita berusaha mengikuti jejak-Nya.


