
Apakah Yesus Teladan Kita?
19 Juni 2026Apa itu Penyembahan Berhala?
Ketika orang mendengar istilah penyembahan berhala, mereka berpikir tentang hal-hal yang berbeda. Beberapa orang membayangkan ritual kuno di mana para penyembah sujud di hadapan patung pahatan. Ada pula yang memikirkan bagaimana para penggemar “mengidolakan” aktor, atlet, atau musisi favoritnya. Ada juga yang mungkin menggunakan kata itu sebagai kiasan untuk obsesi.
Jadi, apa itu penyembahan berhala? Pada dasarnya, penyembahan berhala adalah tindakan menyembah apa pun yang diciptakan selain sang Pencipta.
Mengapa Allah begitu peduli dengan hal ini? Sederhana: Allah peduli dengan penyembahan berhala karena Ia peduli dengan ibadah.
Konsep ini kadang mengganggu para pembaca modern karena mereka mungkin menganggap Allah sebagai pribadi yang narsisistik yang secara tidak sehat kecanduan dengan penyembahan terhadap diri-Nya. Hal ini akan benar seandainya Allah adalah makhluk ciptaan, bukan Sang Pencipta. Namun, sebagai umat, Allah menciptakan kita untuk menyembah-Nya. Ini hal yang benar dan baik karena hanya Allah yang layak disembah. Jika kita membalikkan sudut pandang ini, dan Allah tidak memperkenalkan atau melindungi kemuliaan dan kehormatan-Nya, Ia tidak bersikap seperti Allah. Terlalu sering orang memandang Allah seolah-olah Dia adalah manusia (bagian dari ciptaan), sementara pada waktu yang sama mereka memandang ciptaan seolah-olah adalah Allah (yang layak disembah). Baik tindakan mengagungkan ciptaan maupun merendahkan Sang Pencipta sama-sama tidak pantas dilakukan. Itu adalah penyembahan berhala.
Rasul Paulus menggambarkan penyembahan berhala sebagai suatu pertukaran. Alih-alih memuliakan Allah, hal ini justru ditukar dengan memuliakan gambaran-gambaran dari makhluk ciptaan. Dengan melakukan ini, para penyembah “menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang terpuji sampai selama-lamanya, amin” (Rm. 1:25).
Menukar kemuliaan Allah dengan berhala ibarat mengukur nilai Allah dengan skala. Alih-alih melihat kemuliaan-Nya (bobot, nilai, dan substansi-Nya yang tak terbatas), penyembah memutuskan bahwa Ia kurang berharga daripada sesuatu yang diciptakan (sebagai perbandingan, sesuatu yang ringan dan kosong). Pertukaran ini merupakan puncak dari kebodohan manusia. Bayangkan bila seseorang melihat seekor gajah dengan sehelai bulu ditimbang di atas timbangan, lalu menyimpulkan bahwa bulu itu lebih berat. Jelaslah bahwa orang itu tidak realistis. Bagaimana mungkin ada orang berpikir seperti itu? Bagaimana mungkin kita menggantikan Allah dengan berhala? Sederhananya adalah dengan menukar kebenaran tentang Allah dengan dusta. Ketika kita menindas wahyu Allah tentang diri-Nya, kita menarik kesimpulan yang keliru (Rm. 1:18).
Untuk melindungi diri dari penyembahan berhala, dan mendorong ibadah yang sejati kepada Allah, Tuhan mengajarkan kepada kita firman ini:
Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku. (Kel. 20:2–3)
Ayat yang sudah tidak asing lagi ini sengaja ditempatkan di awal Sepuluh Perintah Allah. Kita tidak boleh membiarkan apa pun atau siapa pun mengambil tempat keutamaan yang semestinya bagi Allah.
Akan tetapi, apa yang kita temukan berulang kali di dalam Alkitab? Bahkan di dalam kitab yang sama, Keluaran, umat yang telah ditebus dari Mesir membuat patung ilah dari emas mereka dan menyembahnya (Kel. 32). Di kemudian hari, raja Yerobeam, yang takut kehilangan kekuasaan, meniru penyembahan berhala ini dan menciptakan sistem ibadahnya sendiri. Dengan menukar kehormatan Allah, mereka menyembah hasil ciptaan mereka sendiri: “Hai Israel, lihatlah ilah-ilahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir” (1Raj. 12:28). Contoh-contoh terkenal ini secara terang-terangan memperingatkan kita tentang penyembahan berhala. Allah membenci penyembahan berhala karena Ia mencintai kemuliaan-Nya. Allah mencintai kemuliaan-Nya karena hal itu baik.
Banyak orang mengamati bahwa perintah pertama itu adalah dasar bagi sembilan perintah yang lain. Tidak menaati perintah-perintah yang lain berarti berpaling dari Allah yang sejati kepada penyembahan berhala. Ini menunjukkan betapa beragamnya penyembahan berhala yang sebenarnya bisa sangat berbahaya. Kita mungkin membayangkan penyembahan berhala sebagai tindakan bersujud di hadapan sebuah patung, tetapi penyembahan berhala bisa juga berupa keinginan terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain yang tidak Anda miliki (lihat Kel. 20:17).
Setelah kita menjadi orang Kristen, kita meninggalkan berhala untuk melayani Allah yang hidup (1Tes. 1:9). Namun, ini bukan akhir dari perjuangan kita. Kita harus terus berpaling dari segala berhala (1Kor. 10:14), dan menjaga diri kita dan orang lain darinya (1Yoh. 5:21).
Rasul Paulus memberi kita sebuah teladan yang sesuai dan menantang. Ketika berjalan-jalan di kota Atena, sambil menunggu rekan-rekan pelayanannya bergabung dengannya, ia melihat-lihat beberapa tempat. Alih-alih takjub terhadap arsitektur-arsitektur bangunan, ia sedih oleh penyembahan berhala yang merajalela (Kis. 17:16). Paulus begitu cemburu bagi kemuliaan Allah sehingga ia benar-benar kesal ketika Allah tidak mendapatkan kehormatan yang sepatutnya Ia terima. Sebagai akibatnya, ia pergi dan memberitakan Injil kepada semua orang yang ada di sekitarnya.
Cinta akan kehormatan Allah ini adalah pengaman yang tepat untuk melindungi diri terhadap penyembahan berhala. Jadi, renungkanlah betul-betul keutamaan Allah di atas segalanya. Hayati kesetiaan-Nya yang tak pernah gagal, kasih-Nya yang tidak terbatas, anugerah-Nya yang tiada habisnya, kebenaran-Nya yang tidak tergoyahkan, kebaikan-Nya yang tidak tercemar, hikmat-Nya yang tidak diragukan, dan karakter-Nya yang tidak berubah. Siapakah yang seperti Dia? Lalu, renungkan bagaimana, di dalam Yesus Kristus, Ia adalah Allah yang mengenal dan mengasihi Anda.
Kita bisa berdoa agar Allah menolong kita, agar kita dapat bertekad untuk memberi kehormatan yang patut Ia terima, dan menjadi sangat tidak nyaman bila Ia tidak menerimanya.


