
Apa Itu Kemuridan Kristen?
12 Agustus 2025
Mengapa Baptisan Merupakan Sarana Anugerah?
19 Agustus 2025Mengapa Baptisan Itu Penting?
Baptisan telah merupakan jantung dari iman Kristen sejak awalnya. Namun, akar baptisan berakar lebih dalam daripada sekadar sejak berdirinya gereja di Perjanjian Baru. Baptisan berakar dalam pada Perjanjian Lama dan ikatan perjanjian yang diadakan Allah dengan umat-Nya. Sesungguhnya, kita tidak dapat memahami baptisan perjanjian baru secara tepat jika kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang tanda dan meterai dari Perjanjian Lama. Dengan kata lain, Allah yang selalu memelihara perjanjian telah memberi kepada umat-Nya tanda-tanda dan penunjuk-penunjuk yang kelihatan sejak dari awal, bahkan jauh ke belakang sampai pada dua pohon di Taman Eden. Sayangnya, kita hidup dalam zaman yang sangat buta tentang Alkitab. Ada banyak kebingungan menyangkut apa yang dikatakan Alkitab tentang segala sesuatu, dari natur Allah hingga pemahaman alkitabiah tentang manusia, dan ya, bahkan tentang baptisan. Dengan begitu banyak kebingungan, penting bagi kita untuk melihat apakah baptisan itu agar kita memahami mengapa baptisan itu penting dan tidak dapat dipisahkan dari orang Kristen.
Sebuah Tanda dan Meterai.
Pertama, baptisan adalah sebuah tanda dan meterai atas perjanjian yang telah Allah adakan dengan umat-Nya. Baptisan adalah sebuah penunjuk yang kelihatan kepada realitas yang lebih besar. Pada awalnya, Allah memberi tanda perjanjian berupa sunat kepada Abraham di dalam Kejadian 17. Tindakan mengerat daging ini menjadi tanda umat perjanjian Allah dan mengingatkan mereka akan janji-janji yang Ia berikan bagi mereka. Namun, di dalam Kejadian 17:10 Allah menyebut sunat itu “perjanjian-Ku”. Kita mungkin ingat bagaimana Tuhan Yesus, ketika menetapkan Perjamuan Kudus, menuangkan anggur dan berkata, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian” (Mat. 26:28). Bukan sunat atau anggur yang merupakan substansi aktual dari perjanjian, tetapi keduanya menunjuk kepada realitas dari perjanjian itu sendiri. Ada kaitan yang begitu erat antara tanda dan hal yang ditunjuk oleh tanda (apa yang disebut oleh Pengakuan Iman Westminster 27.2 sebagai “kesatuan sakramental”) sehingga kita dapat menunjuk ke satu hal dan memaksudkan arti yang lain.
Pikirkan analogi cincin kawin. Cincin kawin bukanlah pernikahan itu sendiri, melainkan tanda bahwa orang yang memakainya berada dalam ikatan pernikahan. Cincin tersebut menjadi pengingat yang kelihatan bahwa seorang yang telah menikah bukan lagi miliknya sendiri, tetapi milik orang lain. Begitu pula dengan baptisan. Dalam baptisan, kita diberikan tanda sebagai umat perjanjian baru, yang menunjuk kepada relasi perjanjian kita dengan Allah Tritunggal di mana kita adalah milik-Nya. Orang-orang Kristen adalah milik Allah Tritunggal, dan mereka yang merupakan milik-Nya perlu memakai tanda-Nya.
Sebuah Nama yang Baru.
Dalam baptisan, orang-orang yang telah menerima tanda perjanjian juga menerima nama baru yang terkait dengan sebuah identitas yang baru. Nama yang diberikan kepada kita pada waktu baptisan berpadanan dengan Dia yang ke dalam-Nya kita dibaptis. Perhatikan perintah Yesus untuk pergi dan membaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Rasul Paulus meneruskan ide ini ketika ia berkata bahwa “kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya” (Rm. 6:3). Ia memakai ungkapan yang sama di dalam Galatia 3:27. Sama seperti pada perjanjian lama, ketika orang-orang dibaptis “ke dalam Musa” dalam peristiwa keluaran (1Kor. 10:2), kita dibaptis “ke dalam Kristus” dalam peristiwa keluaran yang baru.
Bagi orang percaya, ini berarti bahwa fakta terpenting mengenai kita adalah kesatuan kita dengan Kristus. Kita berada “di dalam Kristus” dengan cara yang begitu dekat sehingga dapat dikatakan bahwa ketika Ia mati, kita juga mati (Gal. 2:20), dan ketika Ia bangkit dan naik ke surga untuk duduk di sebelah kanan Bapa, kita pun mengalami demikian (Ef. 2:6). Sekarang ini ada banyak orang yang bingung dengan identitasnya. Hal ini menyebabkan banyak orang berada dalam kebingungan, depresi, dan putus asa. Namun, saudara terkasih, Anda memiliki nama Allah Tritunggal itu sendiri pada Anda. Identitas Anda adalah bahwa Anda satu dengan Tuhan Yesus Kristus, sebuah ciptaan baru yang telah dikubur bersama Dia dalam baptisan dan bangkit untuk berjalan dalam hidup yang baru (Rm. 6:4-5). Kita tidak boleh mendengarkan apa yang dunia atau bahkan diri kita sendiri katakan tentang kita. Sebaliknya, kita harus mendengar apa yang Allah katakan mengenai kita melalui baptisan kita.
Sarana Anugerah.
Terakhir, baptisan itu penting sebab baptisan merupakan sarana anugerah. Kita adalah peziarah yang lemah dan letih dalam perjalanan kita menuju Sion surgawi. Kita memerlukan sumber-sumber kekuatan untuk melakukan ziarah kita. Baptisan berfungsi sebagai salah satu dari sumber kekuatan itu. Allah telah mengaruniakan ketetapan ini kepada jemaat untuk menguatkan dan memelihara umat-Nya. Ini tidak berarti baptisan memiliki kuasa pada dirinya sendiri, tetapi bahwa Roh Kudus menggunakan tindakan baptisan untuk melimpahkan anugerah kepada umat Allah ketika tanda tersebut berjumpa dengan iman. Baptisan menguatkan hati kita dalam kasih untuk Kristus ketika kita diingatkan bahwa sama seperti air menjadikan seseorang bersih, Kristus membasuh kita dan menjadikan kita bersih dengan darah-Nya. Iman kita beroleh kepastian ketika kita menyaksikan air dicurahkan kepada seseorang, yang mengingatkan kita bahwa Roh Kudus telah dicurahkan kepada kita dan tinggal di dalam kita. Dalam masa-masa ujian dan pencobaan, ketika Iblis menyerang titik terlemah kita, mengatakan bahwa kita tidak akan pernah diselamatkan dan bahwa Allah tidak mungkin mengasihi kita, kita dapat dengan yakin menjawab dengan kata-kata Martin Luther, “Saya telah dibaptis! Saya telah dibaptis!”
Artikel ini merupakan bagian dari koleksi The Basics of Christian Discipleship.


