Mengapa Kita Bernyanyi pada Hari Natal?

15 Juni 2026

Apakah Yesus Teladan Kita?

19 Juni 2026

Mengapa Kita Bernyanyi pada Hari Natal?

15 Juni 2026

Apakah Yesus Teladan Kita?

19 Juni 2026

Bagaimana Kita Dapat “Meningkatkan Baptisan Kita”?

Sekali waktu seorang ratu mengantar putranya ke sebuah pesta ulang tahun, dan mengingatkan: “Ingat, Pangeran: putra-putra raja memiliki tata krama bangsawan.”

Adalah kewajiban kita sebagai orang Kristen untuk hidup sesuai dengan nama kita, sebagai orang yang termasuk dalam imamat yang rajani, sebagai warga dari bangsa yang kudus milik Raja surgawi (1Ptr. 2:9). Baptisan bisa dilihat sebagai “akta kelahiran baru”, yang berfungsi sebagai kesaksian yang kuat bahwa kita telah dimeteraikan dengan nama Allah Tritunggal sendiri (Mat. 28:19).

Katekismus Besar Westminster mengajukan pertanyaan, “Bagaimana kita dapat meningkatkan Baptisan kita?” (P&J 167). Yang jelas, nama yang dikaruniakan kepada kita pada waktu Baptisan tidak membutuhkan peningkatan apa pun, sebab itu adalah nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang sempurna dan mahacukup. Namun, apresiasi dan apropriasi orang percaya atas kuasa yang menyelamatkan dari nama ilahi ini dapat dan harus tumbuh di sepanjang hidup kita.

Lantas, bagaimana kita dapat meningkatkan Baptisan kita?

1. Kita mengingat bahwa Baptisan adalah karunia yang luar biasa.

Baptisan adalah tanda dan meterai anugerah yang diberikan oleh Tuhan yang telah bangkit kepada Gereja-Nya. Baptisan benar-benar menandai “momen titik balik” bagi mereka yang menerimanya. Dalam hal ini, baptisan sejajar dengan pengalaman bangsa Israel menyeberangi Laut Teberau di tanah kering setelah keluar dari Mesir (baca 1Kor. 10:1-2). Tidak terpikirkan bila umat perjanjian melupakan peristiwa penyelamatan dari bahaya mematikan seperti itu. Demikian pula, mengingat Baptisan berarti memahami signifikansinya: oleh iman, kita diidentifikasikan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya (Rm. 6:1-4). Maka, mengingat Baptisan kita adalah salah satu cara untuk digugah oleh kepastian bahwa:

Saya bukanlah milik saya sendiri,

melainkan—tubuh dan jiwa, dalam hidup dan mati—

saya adalah milik Juru Selamat saya yang setia, Yesus Kristus.

(Katekismus Heidelberg 1)

2. Kita terus mengakui dosa kita kepada Tuhan

Agustinus menulis, “Saksikanlah doa seluruh Kota Allah dalam peziarahannya, sebab doa itu berseru kepada Allah melalui mulut semua anggotanya, ‘Ampunilah kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.’” Sebagai orang-orang yang telah dibaptis, kita tidak akan percaya pada kebohongan bahwa kita tidak berdosa; sebaliknya, kita harus mengakui dan menyesali dosa-dosa kita di hadapan Bapa (1Yoh. 1:8-9).

Sering kali ketika mengerjakan tugas rumah tangga, kita tidak sadar betapa kotornya sesuatu sampai pada waktu membersihkannya. Ini terlebih lagi dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen: ketika terang firman Allah menyinari sudut-sudut dan celah-celah hati kita, barulah kita melihat betapa dalamnya kecemaran kita. Ketika kita mengingat Baptisan kita, kita juga dihiburkan oleh janji Allah ketika menghadapi kedalaman dosa-dosa kita: “anugerah yang diberikan-Nya kepada kita, lebih besar” (Yak. 4:6).

3. Kita berusaha memahami kuasa pengudusan Allah di dalam kita

Ada banyak pembicaraan dalam budaya kita secara luas mengenai potensi kekurangan energi dan pencarian sumber-sumber tenaga yang dapat diandalkan bagi kebutuhan teknologi dan transportasi kita. Namun, terkait kehidupan orang Kristen, kita sebagai orang-orang kudus memiliki dinamika kebangkitan dan kekuatan Kristus sendiri yang tidak pernah habis yang bekerja di dalam kita (Ef. 1:19-20). Sungguh, mengingat Baptisan seharusnya membawa kita kepada keberanian dan keteguhan hati untuk “bertanding dengan benar” (1Tim. 6:12). Tidak ada musuh yang mungkin kita temui yang di hadapannya kita kalah. Ini berlaku pada musuh-musuh yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, di bawah maupun di atas. Bukan berarti kita membawa otot-otot kita yang besar dan keahlian bela diri kita ke dalam ring, tetapi bahwa Kristus melalui firman-Nya (termasuk dalam Baptisan kita) memberikan kita keyakinan: “Karena Allah telah berfirman, ‘Aku sekali-kali tidak akan mengabaikan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau’” (Ibr. 13:5).

4. Kita ingat bahwa tidak satu pun dari kita berdiri atau berjalan sendirian

Baptisan adalah tindakan Allah memasukkan kita ke dalam umat-Nya: mengikat kita menjadi satu tubuh dengan banyak anggota (1Kor. 12:13). Maka, Baptisan mengajak kita untuk menghargai karunia-karunia dan fungsi-fungsi orang lain yang beragam di dalam Gereja karena masing-masing berkontribusi terhadap kesejahteraan dan pertumbuhan seluruh tubuh (1Kor. 12:14-31). Dalam sebuah puisi Shakespeare yang terkenal, berjudul “All the World’s a Stage”, hidup manusia dilihat sebagai drama yang terdiri dari tujuh babak, dan di dalam setiap masa dan musim, “maka ia memainkan perannya”. Namun, Baptisan memberikan kita suatu peran bukan sebagai peran utama, tetapi lebih untuk melayani. Kita harus bersemangat “memainkan bagian kita” untuk mendukung dan membangun ketika kita berupaya memprioritaskan kebaikan bersama dalam gereja di atas kepentingan kita sendiri. Hal ini sangat penting dalam memahami arti dari perintah “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya” (Mat. 6:33).

Baptisan memiliki tujuan panggilan dalam kemuridan kita, sebab melaluinya Kristus memanggil kita: “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku” (Luk. 9:23).

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Ken Montgomery

Ken Montgomery

Pdt. Ken Montgomery adalah pastor di Christ Orthodox Presbyterian Church di Marietta, Georgia.