Haruskan Saya Masuk Sekolah Teologi?

12 Juni 2026

Haruskan Saya Masuk Sekolah Teologi?

12 Juni 2026

Mengapa Kita Bernyanyi pada Hari Natal?

Di sepanjang sejarah, orang suka bernyanyi. Entah di pertandingan bisbol atau pesta ulang tahun, kita menyanyi dengan penuh semangat, yang kadang menyingkapkan kurangnya bakat musik kita di depan umum. Bernyanyi secara berkelompok—khususnya pada hari Natal—dibentuk oleh budaya. Namun, mengapa menyanyikan karol dan himne, sekalipun kita melakukannya secara profesional tanpa peduli terhadap makna liriknya, bisa berdampak besar terhadap kita?

Bernyanyi dalam ibadah selalu menjadi tantangan baik bagi mimbar maupun jemaat tentang bagaimana dan mengapa itu seharusnya dilakukan. Pada tahun 1861, John Wesley menulis seri “Direction for Singing” (Arahan untuk Bernyanyi), yang dimaksudkan untuk mengajar komunitas Metodis tentang topik tersebut. Sejak diterbitkan, tulisan tersebut telah memengaruhi bukan hanya kalangan Metodis. Dua arahan darinya adalah sebagai berikut:

Bernyanyilah dengan penuh gairah—dan keberanian. Berhati-hatilah agar Anda tidak bernyanyi seperti orang yang setengah mati atau setengah tidur, tetapi angkatlah suara Anda dengan lantang. Jangan lagi takut terhadap suara Anda sekarang, juga jangan lebih malu atas didengarnya suara Anda, daripada waktu Anda menyanyikan lagu-lagu Setan.

Bernyanyilah dengan santun—jangan berteriak [agar] didengar melampaui atau berbeda dari jemaat lainnya supaya Anda tidak menghancurkan harmoni, tetapi berusahalah menyatukan suara kamu bersama-sama sehingga menghasilkan satu suara yang merdu.

Terlepas dari keterbatasan kita, pada hari Natallah kita “mengangkat suara dengan lantang”. Ini mungkin karena kita benar-benar mengenal lagu-lagu tersebut. Sesungguhnya, keakraban adalah perekat yang mendorong partisipasi. Rasul Paulus mendorong orang Kristen untuk bernyanyi dengan “mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu” tanpa peduli dengan tingkat keterampilan kita (Kol. 3:16).

Salah satu tempat paling mudah untuk belajar bernyanyi adalah dalam gereja. Kita dengan mudah mengingat mazmur, himne, atau lagu rohani seumur hidup. Kita tidak melupakannya seiring kita bertambah tua karena aktivitas bernyanyi, menurut para ahli, mengaktifkan jaringan otak yang menyimpan kata dan nada dalam ingatan kita. Di panti-panti jompo pada musim Natal, para penghuni yang sebelumnya tidak terlibat menjadi bersemangat ketika menyanyikan “Kesukaan bagi Dunia” dan “Malam Kudus”.

Selain memberi kegembiraan, banyak lagu Natal memberi pengajaran—lagu-lagu itu kaya dengan doktrin. Martin Luther menggunakan lagu sebagai komponen utama dalam menumbuhkan gereja-gereja Lutheran muda yang didirikan pada tahun 1520-an dan setelahnya. Mereka menyanyikan lagu-lagu pujian dan katekismus untuk alasan yang baik—lagu adalah alat pengajaran yang utama bagi gereja-gereja baru.

Musik terus membentuk kita dalam komunitas Kristen. Di Saint Andrew’s Chapel, R. C. Sproul sering kali meluangkan waktu untuk menjelaskan “mengapa” beribadah alih-alih sekadar melakukannya secara refleks. Setelah menyanyikan sebuah lagu, ia bertanya, “Sadarkah Anda apa yang baru saja Anda nyanyikan?” Baginya, bernyanyi ibarat enzim yang vital untuk mencerna firman Allah.

Bagaimana teologi berfungsi dalam karol-karol Natal? Simaklah beberapa contoh berikut ini.

“Kesukaan bagi Dunia”

Dinyanyikan mengikuti nada lagu ANTIOCH, sebuah melodi yang “diaransemen dari Handel” oleh Lowell Mason. Lirik gubahan Isaac Watts’ menelusuri tema kemuliaan, kedaulatan, kekudusan, kebenaran, dan anugerah. Ini adalah katalog berisi atribut-atribut Allah yang bisa dikutip oleh pengkhotbah manapun.

“O, Datanglah Imanuel”

Dinyanyikan mengikuti nada lagu VENI EMMANUEL, sebuah melodi plainsong (lantunan musik awal). Himne ini merupakan permohonan yang penuh gairah untuk kedatangan Imanuel, yang dimulai dari Yesaya dan bergerak melalui berbagai rujukan terhadap hakikat dan tujuan bayi Yesus.

“Hiburlah, Hiburlah Umat-Ku”

Dinyanyikan mengikuti nada lagu THIRSTING karya Louis Bourgeois, seorang komposer Mazmur Jenewa, yang didasarkan pada Yesaya 40:1-2. Lirik abad ke-17 gubahan Johannes Olearius ini mengungkapkan ajaran Kristen tentang kuasa nubuat Firman, ditambah tujuan Allah mengutus Juru Selamat.

“Hai Kota Mungil Betlehem”

Dinyanyikan mengikuti nada lagu ST. LOUIS karya L.H. Redner. Melodi abad ke-19 ini memperlihatkan dengan jelas penggenapan nubuat di dalam Mikha 5:1. Lirik gubahan Phillips Brooks tahun 1868 ini memparafrasakan catatan Lukas tentang kelahiran Yesus disertai doa tentang injil yang jelas pada bait 4:

Ya Yesus, Anak Betlehem,

kunjungi kami pun;

sucikanlah, masukilah

yang mau menyambut-Mu.

Telah kami dengarkan

Berita mulia:

Kau beserta manusia

kekal selamanya.

“Kau, Yesus, Raja Mahakaya”

Dinyanyikan mengikuti nada lagu QUELLE EST CETTE ODEUR AGREABLE, sebuah karol  Prancis, yang diaransemen oleh Charles H. Kitson, dengan lirik gubahan Frank Houghton.

Kau, Yesus, Raja Mahakaya,

Kau jadi miskin bagiku.

Takhta-Mulah palungan saja,

kandang rendah istana-Mu.

Kau, Yesus, Raja Mahakaya,

Kau jadi miskin bagiku.

Kau, Tuhan, Allah Mahamulia,

Kau jadi insan bagiku.

Yang Kautebus di dalam dunia,

hidup kekal bersamamu.

Kau, Tuhan, Allah Mahamulia,

Kau jadi insan bagiku.

Kau, Surya Kasih Mahatinggi,

Kau, Jurus’lamat, kusembah.

Imanuel, hatiku ini,

buatlah suci berserah.

Kau, Surya Kasih Maha tinggi,

Kau, Jurus’lamat, kusembah

Mengapa kita menyanyikan lagu-lagu Natal? Jelas lagu-lagu ini memberi sukacita, menolong kita mengingat kelahiran dan kehidupan Yesus, dan membentuk kita secara rohani. Menjelang hari Natal, kita melafalkan doktrin penciptaan, kemuliaan, inkarnasi, dan penebusan (dan banyak lagi yang lain) melalui himne dan karol yang akrab di telinga. Dalam prosesnya, kita dikuatkan untuk menghidupi Injil Kristus setiap hari.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Terry Yount

Terry Yount

Dr. Terry Yount adalah dosen di St. Andrew’s Conservatory of Music di Sanford, Florida, dan seorang pemain musik freelance, penulis, dan pembicara. Ia sebelumnya melayani sebagai pemain organ dan musikus utama di St. Andrew’s Chapel.