
Ruang Maha Kudus
22 Mei 2026
Kemediokeran yang Luar Biasa
27 Mei 2026Ketika Saya Merasa Buntu
Ketika saya tumbuh besar di Irlandia, kami sering sekali mengalami hari Rabu sore yang basah. Terjepit di antara akhir pekan, dan akan menghadapi malam hari yang penuh dengan tugas sekolah, saya ingat berjalan pulang dari sekolah sambil menembus gerimis yang membuat basah kuyup. Beban buku-buku yang halaman-halamannya melengkung karena lembap, serta kaus kaki yang basah kuyup oleh air yang merembes masuk dari pergelangan kaki dan keluar dari ujung jari kaki, membuat saya merasa sebahagia kucing yang sedang mandi (meski tidak seganas itu).
Jiwa mengalami Rabu-Rabu sore basahnya sendiri. Semua anak-anak yang hilang, kita berjalan pulang melintasi dunia yang telah dirusak oleh pilihan Adam. Kejatuhan meredam setiap sukacita. Beban berat berupa rasa bersalah, malu, dan penyesalan mencengkeram bahu kita. Ketakutan di dalam dan masalah di luar membayangi seperti guntur. Kita merindukan untuk mendengar lebih banyak langkah kaki dari seorang ayah yang berlari menyambut, lengan-lengannya yang kuat memeluk, air matanya yang hangat dan asin di pipi kita. Namun, kerinduan-kerinduan yang tidak terpenuhi itu mengikuti kita seperti teman yang setia. Momen-momen terbaik kita selalu terinterupsi, dan seperti akhir pekan bagi seorang siswa di tengah minggu, surga terasa cukup jauh hingga seakan selamanya jauh.
Bagian terburuk dari masa-masa ini sering kali tak dapat dijelaskan. Tak ada dosa, kegagalan, atau kesalahan tertentu yang menonjol sebagai penyebabnya. Kita merasa “lesu” dan tak tahu mengapa (Mzm. 42:6). Di tempat yang jauh ini, kita dengan mudah menjadi korban teologi kelam yang dibangun di atas perasaan. Sebuah kefrustrasian secara tak terelakan menyusul: Kita tak merasa Allah berbicara, jadi kita berhenti membaca Alkitab. Kita tidak merasa Allah mendengarkan, jadi kita berhenti mengucapkan doa kita. Kelesuan meredam segalanya; kita tidak ke mana-mana. Apa yang harus dilakukan?
Pertama-tama, ingatlah: Anda tidak sendirian. Semua anak-anak Allah telah menapaki jalan-jalan ini sebelumnya. Betapa sering para pemazmur merasa ditinggalkan, tetapi mereka tetap mencari Allah dalam nyanyian. Daud berseru: “Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?” (Mzm. 13:2). Bani Korah bertanya, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” (Mzm. 42:6). Orang-orang kudus ini datang ke hadapan Tuhan dan bertanya berapa lama Allah akan menyembunyikan wajah-Nya dari mereka. Ada pelajaran di sini: orang-orang baik sering merasa lebih buruk daripada keadaan mereka yang sebenarnya. Orang-orang ini memulai dalam momen keputusasaan yang gelap, tetapi mereka tidak berakhir di sana. Ketika para pemazmur bergumul, hati mereka menitiskan Kitab Suci. Di dalam kegelapan, di balik perasaan ditinggalkan, Allah tetap ada di sana, memberikan kata-kata kepada mereka, menolong mereka terarah kepada Allah, dan mengilhamkan Alkitab. Yahweh selalu lebih dekat kepada kita daripada yang kita rasakan.
Kedua, mintalah kepada Allah untuk mencari segala hal yang “serong” yang menghalangi persekutuan Anda dengan-Nya (Mzm. 139:24). Akar dari “kepedihan” itu bermula dari pilihan pahit Adam (“kepedihan,” “susah payah,” dan “kesakitan” adalah kata-kata Ibrani yang saling terkait; Kej. 3:16–17). Di taman itu, leluhur pertama kita memulai tradisi keluarga untuk mengejar kehidupan yang lebih baik melampaui Allah. Sebuah dunia yang penuh dengan kuburan menceritakan kisah suksesnya. Namun, jangan putus asa: Tabib yang Baik telah mati untuk memotong “kemauan” dan “tindakan” dari pilihan-pilihan yang fasik itu dari diri Anda (Flp. 2:12–13).
Melampaui dosa, kita juga harus mencari lalang di dalam hati kita, yaitu nafsu-nafsu beracun yang mencekik kehidupan dari jiwa kita. Yesus menunjukkan tiga hal dalam perumpamaan tentang penabur: kesibukan hidup, tipu daya uang, dan keinginan akan hal-hal yang lain (Mrk. 4:19). Dengan semakin banyaknya lalang, kita tidak akan pernah merasa sehat. Untuk membasmi lalang tersebut, Roh Kudus berdiri siap dengan herbisida surgawi berupa pikiran-pikiran yang lebih kaya tentang kehidupan yang lebih baik (Rm. 8:5; Flp. 4:8; Kol. 3:1–4). Setelah disatukan dengan Kristus, kita berjalan dalam kehidupan yang baru (Rm. 6:1–14).
Ketiga, selidikilah diri Anda: Apakah Anda berdamai dengan providensia Allah? Sulit untuk mendekat kepada Allah yang kepada-Nya diam-diam Anda menyimpan amarah. Beban yang tak diinginkan bisa menjadi sahabat doa, membangkitkan kerinduan kita dan mendekatkan kita kepada-Nya (Mzm. 55:23). Namun, jika kita memilih untuk tetap berpegang padanya, beban-beban itu akan memenuhi lemari doa seperti gajah-gajah yang tak terucapkan, dan menumpulkan kerinduan kita untuk mendekat. Jujurlah kepada Allah; Dia mampu memikul setiap beban yang perlu Anda serahkan.
Mengakui Allah sebagai penyebab utama setiap penderitaan membawa kedamaian yang besar. Gelora ombak yang menenggelamkan kita semua adalah milik-Nya (Mzm. 42:8). Dialah aktor utama dalam setiap kesulitan (Mzm. 66:10–12). Namun, bahkan dalam situasi itu pun, Allah ada di pihak kita. Penyangkalan diri dan penyerahan diri kepada kehendak Allah adalah pelajaran pertama dan terakhir yang harus dipelajari dalam kehidupan iman. Namun, John Newton benar—sedikit orang yang bersedia mempelajari pelajaran-pelajaran ini “dengan terlebih dahulu dilatih sejenak di sekolah kekecewaan.”
Bagaimana jika kegelapan itu tidak sirna? Sering kali, jalan terbaik untuk bangkit hanyalah dengan percaya dan taat. Perhatikan kesabaran Ayub (Ayb. 23:8–12). Di tengah kegelapan yang mengancam, perhatikan bagaimana ia bergerak dari kebingungan (ay. 8–9) melalui keyakinan (ay. 10) menuju pengudusan (ay. 11–12). Di dunia yang telah jatuh ini, Ayub menyadari bahwa ia akan selalu mengetahui lebih banyak teologi daripada yang dapat ia rasakan. Iman menjembatani jurang itu, membawanya ke ranah yang tidak selalu dapat dijangkau oleh perasaan (Ibr. 11:1).
“Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan keluar seperti emas” (Ayb. 23:10). Iman memiliki jaminan untuk perjalanan ini, jaminan yang lebih nyata daripada ketakutan terburuk kita, dan karena itu kita terus berpaut kepada-Nya, sebab Dia bertaut pada kita (ay. 11–12). Seperti seekor anjing terrier yang menggigit mainan, Ayub menggenggam kebenaran ini sekuat tenaga. Ia tidak bisa merasakan dirinya sendiri berpegang pada Allah, tetapi iman melihat tangan yang lebih kuat yang memegang dirinya—tangan yang tidak akan pernah melepaskannya.
Pada akhirnya, pertanyaan terbaik untuk Rabu sore yang basah bukanlah “Apa yang saya rasakan?” melainkan “Apa yang saya ketahui?”


