
Apa itu Perjanjian Kerja?
20 Mei 2026Ruang Maha Kudus
“Supaya Aku bersemayam di antara mereka” (Kel. 25:8). Kemah Suci Israel merupakan sebuah karya arsitektur yang menakjubkan. Tujuan utamanya adalah untuk menginkarnasikan kehadiran Allah yang agung dan tak terbatas. Sebelum dibangun, kehadiran Allah dimanifestasikan pada waktu yang berbeda-beda, di tempat yang berbeda-beda, dan dengan cara yang berbeda-beda. Kepada Adam dan Hawa, Ia menampakkan diri-Nya ketika mereka “mendengar suara TUHAN Allah berjalan-jalan di taman” (Kej. 3:8). Kepada Abraham, Ia menampakkan diri-Nya sebagai perapian yang berasap dan suluh berapi (Kej. 15:17). Kepada Yakub, Ia menampakkan diri-Nya sebagai seorang laki-laki yang dapat bergulat dengan Yakub (Kej. 32:22–32). Kepada Musa, Ia menampakkan diri-Nya sebagai semak duri yang menyala, tetapi tidak terbakar (Kel. 3:2). Dan kepada seluruh Israel, Ia menampakkan diri-Nya dalam tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari (13:21–22) selama perjalanan mereka di padang gurun, dan juga sebagai awan tebal, kilat dan guruh, serta bunyi sangkakala (Kel. 19:9, 16).
Namun, dengan adanya Kemah Suci, ada sesuatu yang baru. Kehadiran Allah tidak lagi seperti seorang tamu yang datang dan pergi melainkan seperti seorang penghuni yang tinggal di dalam kemah, sama seperti mereka, di tengah-tengah mereka. Maka dari itu Kemah Suci adalah rumah -Nya sebagai raja, lengkap dengan pintu di tabir, tirai yang menutupinya, meja dengan roti, lampu untuk penerangan, dan tabut sebagai tumpuan kaki-Nya sebagai raja.
Salah satu aspek dari kebaruan ini adalah bahwa kini, umat perjanjian dapat menikmati kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh nenek moyang mereka. Hal ini juga sangat edukatif bagi orang Kristen saat ini, karena Kemah Suci merupakan bayang-bayang dari Allah tinggal di antara kita dalam rupa manusia:
Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal [kata tinggal dapat diterjemahkan “berkemah”] di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran. (Yoh. 1:14)
Kehadiran Tuhan hanya dapat dinikmati sesuai dengan ketentuan-Nya sendiri. Ia menyingkapkan ketentuan-ketentuan itu kepada Musa, dengan berkata, “Menurut segala yang Kutunjukkan kepadamu sebagai pola Kemah Suci dan segala perlengkapannya, demikianlah kamu membuatnya.” (Kel. 25:9). Keterangan spesifik dalam narasinya (pasal 25–30) menegaskan hal ini kepada kita. Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, umat-Nya, dan melalui Firman-Nya kita dapat mendekat kepada-Nya dan mengenal-Nya. Saat kita mematuhi segala sesuatu yang telah diperintahkan Tuhan untuk diajarkan kepada kita melalui para pelayan Firman-Nya, kita dapat yakin bahwa Ia “menyertai [kita] senantiasa sampai akhir zaman” (Mat. 28:19–20).
Kehadiran Tuhan dinikmati sebagaimana diwujudkan dan diperantarai melalui hamba-hamba pilihan-Nya, yaitu para imam. Mereka dapat terkait dengan semua indera bangsa Israel sebagai pelayan dari kehadiran Tuhan. Pakaian mereka juga dimaksudkan untuk menyampaikan keindahan dan kemuliaan Tuhan kepada umat-Nya (Kel. 28:2). Mereka mempersembahkan kurban untuk dosa-dosa umat yang disengaja maupun tidak disengaja, untuk pendamaian dan penebusan dosa-dosa mereka, serta sebagai ungkapan syukur atas karya penuh anugerah dari Allah mereka (Im. 1–7). Bahkan, salah satu hal yang mencolok tentang sistem kurban adalah betapa partisipatifnya sistem tersebut. Umat membawa hewan kurban mereka sendiri, meletakkan tangan mereka di atas kepala hewan tersebut, dan mengaku dosa-dosa mereka. Selain itu, dalam persembahan yang dikenal sebagai kurban keselamatan, bukan hanya Tuhan “memakan” bagian-Nya di atas mezbah dan para imam mendapatkan bagian mereka, tetapi umat juga memakan sebagian darinya (Im. 7:11–18).
Tuhan memberikan Kemah Suci kepada umat-Nya agar, melalui Firman-Nya, tanda-tanda sakramental dari anugerah di dalam para imam dan persembahan kurban, serta doa-doa mereka yang dipanjatkan di sana, Ia akan tinggal di tengah-tengah mereka dalam anugerah dan belas kasihan. Ajaibnya, Ia masih tinggal di antara kita hingga saat ini (Ef. 2:18–22).


