
Apakah Natur Manusia Pada Dasarnya Baik atau Sepenuhnya Berdosa?
10 April 2026Apa Itu Murka Allah?
Murka Allah adalah respons dari Allah kita yang kudus dan benar terhadap dosa dan orang-orang berdosa yang belum dibungkus oleh penebusan Kristus. Meski banyak orang tidak suka membayangkan Allah yang murka, Alkitab berulang kali menyebut pernyataan murka Allah terhadap kefasikan. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memberi banyak kesaksian bahwa Allah menunjukkan murka-Nya atas kejahatan (lihat Ul. 9:8; 2Raj. 23:26; Mzm. 21:10; 90:11; Yes. 13:9; Mi. 5:15; Zef. 1:18; Yoh. 3:36; Rm. 1:18; Ef. 5:6; Why. 16:1).
Murka Ilahi dan Atribut-atribut Allah
Allah menyatakan murka-Nya atas kejahatan karena siapa diri-Nya. Alkitab bersaksi bahwa Allah itu benar dan adil (Ul. 32:4; Dan. 9:14; Rm. 1:17; Why. 15:3). Ia tidak bisa benar dan adil jika Ia tidak menghukum kejahatan dan pelaku kejahatan. Maka, ketika Ia mencurahkan murka-Nya atas dosa, ini sepenuhnya selaras dengan karakter-Nya yang adil. Orang-orang berdosa harus membayar harga atas kejahatan-kejahatan mereka, dan Allah tidak dapat membebaskan orang bersalah tanpa melaksanakan murka-Nya yang adil—kalau tidak, Ia menjadi tidak adil (Kel. 34:6-9). Allah itu kasih (1Yoh. 4:7-8). Salah satu hal yang Ia cintai adalah keadilan (Mzm. 33:5). Karena Allah itu sempurna, cinta-Nya kepada kebenaran pastilah sempurna. Karena itu, Ia harus membenci “jalan orang fasik” (Ams. 15:9; lihat juga Ul. 32:4).
Allah tidak dapat menunjukkan murka kecuali ada dosa, dan dosa tidak akan ada tanpa keberadaan makhluk ciptaan yang berdosa. Karena itu, murka ilahi tidak dapat dinyatakan bila tidak ada penciptaan dan kejatuhan makhluk ciptaan ke dalam dosa. Untuk alasan ini, banyak teolog menggolongkan murka sebagai atribut ilahi yang relatif, bukan atribut ilahi yang absolut. Atribut ilahi yang absolut adalah atribut Allah yang akan terlihat atau ditunjukkan sekalipun Allah tidak pernah menciptakan apa pun. Atribut ilahi yang absolut mencakup hal-hal seperti kekekalan dan kemahatahuan. Apakah Allah mencipta alam semesta atau tidak, Ia tetap kekal dan mahatahu.
Atribut ilahi yang relatif tidak ditunjukkan kecuali ada sesuatu di luar-Nya, yang dengannya Ia berelasi. Seperti telah dikatakan di atas, murka adalah atribut ilahi yang relatif sebab jika tidak ada orang berdosa, tidak akan ada pernyataan murka ilahi. Namun, murka (atau atribut ilahi yang relatif lainnya) bukanlah sesuatu yang Allah peroleh karena penciptaan. Allah merespons dosa dengan murka karena karakter-Nya sendiri secara inheren, yaitu baik dan benar. Murka ilahi ditunjukkan karena makhluk ciptaan telah berubah, menjadi berdosa, bukan karena Allah sendiri berubah. Orang berdosa mengalami murka ketika mereka datang ke hadapan Allah yang benar secara inheren, bukan karena Allah mengambil sebuah atribut baru dalam kejatuhan. Ingat: Allah tidak dapat berubah (Mal. 3:6).
Pengalaman Murka Allah
Alkitab memperlihatkan dengan jelas bahwa murka Allah itu mengerikan. Alkitab kerap berbicara tentang murka Allah yang menyala-nyala (Kel. 32:11; Rat. 4:11), bahkan menggambarkan tempat murka Allah yang kekal bagi orang-orang berdosa yang tidak pernah berbalik dari dosa mereka kepada Kristus sebagai “lautan api” (Why. 20:10). Melanjutkan Yesaya 66:24, Yesus berkata bahwa di neraka “ulat-ulatnya tidak mati” (Mrk. 9:42-49). Melalui gambaran ini, Juru Selamat kita menggambarkan penghakiman Allah sebagai hukuman terhadap orang berdosa yang tiada akhir dan menghancurkan. Para nabi dan rasul berbicara tentang kehancuran dahsyat dan kebinasaan pada “hari Tuhan”, yang dapat merujuk kepada pencurahan hukuman Allah pada momen-momen tertentu dalam sejarah ataupun penghakiman-Nya yang final pada akhir zaman (Yes. 13:6; Yeh. 30:3; Yl. 1:15; 2Ptr. 3:10).
Mengingat gambaran-gambaran yang telah disebutkan di atas, banyak orang mungkin membayangkan murka Allah hanya terdiri dari penghakiman yang spektakuler dan menyala-nyala. Namun, penting untuk dimengerti bahwa pertunjukan-pertunjukan penghakiman seperti ini sesungguhnya adalah puncak dari murka yang pertamanya telah dicurahkan jauh sebelumnya. Perikop seperti Roma 1:18-32 menunjukkan bahwa Allah sering kali tidak mencurahkan murka-Nya sekaligus, melainkan bertahap seiring waktu. Paulus berkata bahwa murka-Nya dinyatakan ketika Ia menyerahkan orang-orang ke dalam dosa mereka dan menyerahkan mereka makin tenggelam di dalamnya. Allah sering kali membiarkan orang-orang berdosa yang tidak bertobat terlibat dalam dosa yang mereka dambakan jauh sebelum Ia menghancurkan mereka dalam hukuman yang menyala-nyala. Dalam murka-Nya, Allah akan menyerahkan orang yang tidak bertobat kepada dosanya.
Harapan bagi Mereka yang Di bawah Murka Allah
Satu hari murka yang final akan menimpa orang-orang berdosa. Syukur, Allah juga penuh dengan belas kasihan dan telah menyediakan Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita dari murka yang akan datang (1Tes. 1:10). Yesus Kristus adalah Allah Anak, yang menjadi manusia untuk menanggung hukuman atas dosa dari Allah kita yang adil. Di dalam Yesus Kristus, Allah mencurahkan murka-Nya, dan menanggungnya sendiri. Karena itu, Ia menunjukkan diri-Nya adil, sebab dosa dihukum di dalam Kristus, dan juga penuh belas kasihan, sebab penebusan Kristus berarti Ia sekarang bisa bermurah hati, atau berkenan, kepada orang-orang berdosa yang berpaling dari dosa-dosa mereka dan percaya kepada Yesus (Rm. 3:21-31). Allah senang menunjukkan kasih setia-Nya dan belas kasihan-Nya (Mi. 7:18). Semua yang bersandar hanya pada Yesus untuk keselamatan akan diselamatkan sepenuhnya dari murka Allah yang kekal (Ibr. 7:25).


