Siapakah Simson?

08 April 2026

Apa Itu Murka Allah?

13 April 2026

Siapakah Simson?

08 April 2026

Apa Itu Murka Allah?

13 April 2026

Apakah Natur Manusia Pada Dasarnya Baik atau Sepenuhnya Berdosa?

Ide bahwa manusia pada dasarnya baik menggaungkan bidat Pelagius kuno, yang mengatakan bahwa dosa Adam hanya berpengaruh pada Adam sendiri. Menurut pandangan ini, natur manusia tidak terpengaruh oleh kejatuhan Adam. Alkitab mengajarkan sebaliknya, yaitu menegaskan bahwa dosa Adam memengaruhi seluruh keturunannya yang lahir secara alami (Rm. 5:12-14). Menurut hakikatnya, manusia adalah “orang-orang yang harus dimurkai” (Ef. 2:3). Ini adalah pokok teologis di balik frasa “kerusakan total” (Total depravity)—huruf “T” dalam singkatan “TULIP”. Dengan kata lain, dosa telah merusak hati, pikiran, tubuh, dan jiwa kita semua (kecuali Yesus). Doktrin ini terdapat dalam seluruh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (misalnya: Kej. 6:5; Mzm. 14:1-3; 143:2; Pkh. 7:20; Yes. 64:6; Mrk. 7:18-23; Rm. 1:21-32; 3:10-18, 23; 8:5-8; Gal. 4:3; Ef. 2:1-3; 4:17-19; Tit. 3:3).

Orang-orang Kristen mungkin menjadi bingung karena Alkitab mengajarkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya (Kej. 1:26-27), dan Allah menyebut semua yang Ia ciptakan baik (ay. 31). Jika semua yang Allah ciptakan baik, dan jika Allah mencipta natur manusia, bukankah natur manusia seharusnya baik? Itu benar. Sebagaimana pada awal diciptakan, natur manusia itu baik. Namun, bagian dari natur manusia adalah kehendak manusia. Manusia-manusia pertama bertanggung jawab menyelaraskan secara sempurna kehendak mereka yang dicipta kepada kehendak Allah—dengan menaati Dia. Sebaliknya, mereka tidak menaati Allah. Seperti Iblis, mereka membalikkan kehendak mereka, seolah-olah, tegak lurus terhadap kehendak Allah, memperkenalkan dosa dan penderitaan ke dalam dunia dan natur mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka telah berdosa. Ketika mereka melakukan ini, natur manusia menjadi bengkok dan rusak. Seperti bapak, begitulah anaknya; maka semua manusia sekarang terlahir dengan natur manusia yang rusak dan berdosa. Manusia kini lahir sebagai budak terhadap dosa.

Itu sebabnya klaim bahwa “semua orang berdosa sedikit” juga tidak benar. Kita cenderung membandingkan diri kita terhadap manusia lain, dan kita suka memilih contoh yang paling buruk untuk dibandingkan. Kita suka membandingkan diri kita dengan orang-orang seperti Adolf Hitler, Joseph Stalin, atau Mao Zedong. Mudah bagi kita untuk merasa nyaman dengan diri sendiri jika tolok ukurnya adalah menahan diri membunuh jutaan orang. Namun, bukan itu tolok ukur yang dipakai firman Allah dalam mengukur dosa. Tolok ukurnya adalah kehendak Allah, dan tuntutannya adalah ketaatan sempurna terhadap kehendak tersebut. “Siapa saja yang menuruti seluruh hukum itu, tetapi tersandung dalam satu bagian saja, ia bersalah terhadap seluruhnya” (Yak. 2:10; lihat Gal. 3:10). Pertanyaannya bukan “Apakah Anda menahan diri membunuh jutaan orang hari ini?” melainkan “Apakah Anda secara sempurna ‘mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu’ hari ini”, dan “apakah Anda secara sempurna ‘mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’” (Mat. 22:37-39)? Seberapa sering Anda gagal melakukan hal tersebut secara sempurna? Apakah cuma “sedikit”? Tidak. Kita sangat sering gagal melakukan hal tersebut. Itu berarti kita banyak berdosa. Itulah sebabnya kita membutuhkan kebenaran Yesus Kristus yang sempurna. Dialah satu-satunya yang pernah menggenapi Taurat secara sempurna.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Pelayanan Ligonier

Pelayanan Ligonier

Pelayanan Ligonier, didirikan oleh R.C. Sproul, ada untuk memproklamasikan, mengajar, dan membela kekudusan Allah dalam segala kepenuhannya kepada sebanyak mungkin orang.