
Mereformasi Soteriologi di Abad Keenam Belas
15 Mei 2026
Apa itu Perjanjian Kerja?
20 Mei 2026Bagaimana Membaca Mazmur Ziarah
Mazmur Ziarah adalah judul dari lima belas mazmur (120–134) yang terdapat dalam Jilid V kitab Mazmur. Sebagai kumpulan mazmur ziarah, atau “perjalanan ke atas,” koleksi ini merupakan kumpulan lagu favorit, jika boleh dikatakan demikian, bagi orang Israel ketika mereka melakukan perjalanan ke Yerusalem dalam rangka tiga perayaan ziarah tahunan, yaitu Hari Raya Paskah, Tujuh Minggu, dan Pondok Daun (lihat Kel. 23:14–17; Ul. 16:16).
Sama seperti para leluhur kita dalam iman, kita pun sedang dalam peziarahan. Perjalanan kita membawa kita melintasi dunia yang telah jatuh ini menuju Yerusalem Baru. Di sepanjang jalan yang sulit dan sering kali berbahaya ini, kitab Mazmur memberi kita bimbingan yang bijaksana dan makanan rohani yang berlimpah.
Jika mazmur-mazmur ini dimaksudkan untuk menolong kita dalam peziarahan kita, lalu bagaimana seharusnya kita membacanya? Lima pedoman berikut dapat membantu kita memulai dengan baik.
1. Bacalah setiap mazmur beberapa kali dan buatlah garis besar struktur dasarnya.
Karena mazmur-mazmur ini ditulis dalam bentuk puisi Ibrani, Anda perlu membekali diri dengan prinsip-prinsip yang diperlukan untuk menafsirkan jenis literatur ini. Fitur seperti struktur garis paralel dan berbagai hubungan antara baris-baris dalam sebuah mazmur akan memberi Anda awal yang baik dengan makna dasar setiap mazmur. Untuk informasi lebih lanjut mengenai prinsip-prinsip ini, silakan baca artikel Matthew H. Patton berjudul “Bagaimana Membaca Puisi Ibrani.”
2. Belajarlah untuk menghargai gambaran-gambaran yang muncul dalam mazmur-mazmur ini.
Ketika Anda menafsirkan sebuah gambaran, Anda perlu menjawab tiga pertanyaan. Pertama, topik apa yang sedang dibahas? Kedua, gambaran apa yang digunakan pemazmur untuk menggambarkan topik tersebut? Ketiga, apa poin persamaan antara topik dan gambaran tersebut?
Dua gambaran yang mencolok muncul dalam Mazmur 133, dengan persatuan umat Allah sebagai temanya. Gambaran pertama adalah minyak:
Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya,
apabila saudara-saudara berdiam bersama dengan rukun!
Seperti minyak yang berharga di atas kepala
meleleh ke janggut,
ke janggut Harun,
turun ke leher jubahnya. (Mzm. 133:1–2)
Jika persatuan adalah topiknya dan minyak adalah gambaran yang digunakan, lalu apa poin persamaannya? Minyak yang dimaksud Daud adalah minyak urapan yang kudus (Kel. 30:22–38). Minyak itu sangat harum dan menyisakan aroma yang menyenangkan. Persatuan di antara umat Allah menciptakan suasana yang harum dan menyenangkan.
Gambaran kedua adalah embun:
Seperti embun Gunung Hermon
yang turun ke atas Gunung-gunung Sion.
Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat,
kehidupan untuk selama-lamanya. (Mzm. 133:3)
Sama seperti embun menyegarkan dan memperbarui rumput, orang-orang percaya juga mengalami pembaruan roh yang menyegarkan ketika mereka berbagi hati dan pikiran yang sama untuk pekerjaan Allah.
3. Bacalah mazmur-mazmur ini sebagai penyingkapan tentang Yesus Kristus.
Dua pedoman pertama menuntut kita untuk memusatkan perhatian pada fitur literer dari setiap mazmur. Pedoman ketiga memindahkan perhatian kita dari aspek literer ke aspek teologis. Yesus berkata, “Harus digenapi semua yang tertulis tentang Aku dalam Taurat Musa, Nabi-nabi, dan Mazmur” (Luk. 24:44). Kitab Mazmur adalah tentang Kristus. Pembaca biasanya tidak kesulitan menangkap ide ini dalam Mazmur 1 karena Yesus adalah Orang yang Berbahagia yang merenungkan Taurat. Dalam Mazmur 22, Dia adalah Orang yang Ditinggalkan. Dia adalah Gembala yang Baik dalam Mazmur 23.
Namun, di manakah kita menemukan Yesus dalam Mazmur Ziarah? Kita menemukan Dia di jalan menuju Yerusalem menyanyikan mazmur-mazmur ini sebagai seorang peziarah yang setia. Sejak usia dua belas tahun, ketika Ia pertama kali pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Luk. 2:41–51), Sang Juru Selamat secara teratur melaksanakan perayaan-perayaan ziarah (lihat Yoh. 2:13; 6:4; 7:1–24; 13:1). Ketika waktu penyaliban-Nya semakin dekat, Tuhan mengambil keputusan untuk pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Luk. 9:51). Dia adalah seorang peziarah yang gigih meskipun Dia tahu bahwa kesetiaan-Nya akan membawa-Nya pada penderitaan dan kematian (Luk. 9:21–22). Ketika Anda membaca mazmur-mazmur ini, tanyakanlah bagaimana Yesus akan menyanyikannya atau bagaimana mazmur-mazmur ini mengarahkan Anda untuk menyanyikan pujian tentang Yesus.
4. Setelah mempelajari konteks sebuah mazmur, lanjutkan ke bagian aplikasi.
Pedoman keempat ini beralih dari aspek literer dan teologis untuk berkonsentrasi pada penerapan pribadi. Bayangkan diri Anda sebagai seorang Israel yang sedang dalam perjalanan menuju kota suci, lalu tanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Apa artinya bagi saya menjadi seorang peziarah yang setia yang sedang menuju Yerusalem Baru?
- Bagaimana seharusnya saya menghadapi rintangan-rintangan yang saya temui (lihat Mzm. 121:1)?
- Seperti apa seharusnya antisipasi dan perayaan ibadah yang penuh sukacita dalam hidup saya?
5. Belajarlah untuk menghargai peran korporat umat Allah yang muncul dalam mazmur-mazmur ini.
Ketika orang Israel pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari-hari raya, mereka pergi dalam kelompok-kelompok. Maria dan Yusuf tidak khawatir ketika pertama kali tidak menemukan Yesus saat mereka kembali ke Nazaret dari perayaan Paskah, karena mereka mengira Dia bersama orang lain di tengah kerumunan yang sedang berangkat ke utara (Luk. 2:43–44). Meskipun masing-masing dari kita adalah seorang peziarah, kita tidak berjalan sendirian dalam perjalanan ini. Oleh karena itu, kita harus saling menguatkan (Mzm. 122:1), peduli terhadap kesejahteraan semua orang yang melakukan perjalanan bersama kita (Mzm. 122:8), menyadari bahwa kita semua menghadapi kesulitan (Mzm. 123:2–4), dan belajar menikmati sukacita persaudaraan (Mzm. 133).


