Kasih yang Sabar dan Baik Hati
09 Januari 2026
Berpikir Seperti Yesus
16 Januari 2026
Kasih yang Sabar dan Baik Hati
09 Januari 2026
Berpikir Seperti Yesus
16 Januari 2026

Apa itu Peperangan Rohani?

Anugerah menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. Bagi Dialah kemuliaan selama-lamanya! Amin. (Gal. 1:3-5)

Dengan kata-kata ini, Rasul Paulus merayakan penyelamatan Allah atas umat-Nya melalui karya Anak-Nya bagi kita (Kol. 1:13-14). Ia juga mengingatkan kita bahwa kita menjalani kehidupan kita di dunia yang telah jatuh, di mana kita berjuang melawan pertentangan rohani dalam hidup kita bersama Kristus dan dalam pekerjaan kita bagi-Nya (Ef. 2:1-10).

Konteks Peperangan Rohani

Dalam Doa-Nya sebagai Imam Besar, Tuhan kita Yesus berdoa bagi kita sebagai orang-orang yang berada di dalam dunia (Yoh. 17:11), tetapi bukan dari dunia (Yoh. 17:14). Oleh karena itu, Ia bukan meminta Bapa untuk mengeluarkan kita dari dunia, melainkan agar Ia melindungi kita dari si Jahat (Yoh. 17:15). Doa yang Dia ajarkan kepada kita untuk kita doakan sebagai murid-murid-Nya menggerakkan kita untuk mencari Kerajaan Allah yang ke dalamnya kita telah ditempatkan dan untuk melayani kehendak-Nya, dengan memperhitungkan pertentangan dari musuh rohani (Mat. 6:10, 13).

Penebusan yang Allah janjikan di Eden dibingkai dalam istilah konflik (Kej. 3:15). Dia yang Dijanjikan itu akan datang setelah genap waktunya (Gal. 4:4–5) untuk berperang melawan dia yang diidentifikasikan sebagai “penguasa dunia ini” (Yoh. 12:31) dan “ilah zaman ini” (2Kor. 4:4). Kristus Yesus, Anak Allah yang kekal, mengambil natur manusia yang sejati dan sepenuhnya agar Ia dapat berperang bagi pembebasan kita dan menghancurkan pekerjaan-pekerjaan Iblis (Ibr. 2:14–18; 1Yoh. 3:8).

Kunci dari keterlibatan kita dalam peperangan rohani adalah kesadaran bahwa kemenangan itu milik Kristus dan menjadi milik kita di dalam Kristus. Kita tidak berperang untuk meraih kemenangan, melainkan berperang di dalam kemenangan. Pembukaan dari perintah Yesus mengutus kita untuk menjadikan murid-murid adalah deklarasi tentang misi-Nya yang telah diselesaikan: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat. 28:18; lihat Ef. 1:20–23).

Ketika Yesus memberi tahu kita bahwa Dia menyertai kita senantiasa, bahkan sampai akhir zaman, Dia meyakinkan kita akan kehadiran, kuasa, dan janji-Nya saat kita melayani Dia dan mencari kerajaan-Nya. Melakukan hal ini pasti akan melibatkan peperangan rohani, baik untuk pertumbuhan rohani kita (Mat. 28:20; Ef. 5:1-14) maupun dalam pelayanan kita bagi kerajaan-Nya (1Tes. 2:18; 2Tes. 3:1-3).

Kita cenderung menganggap peperangan rohani sebagai sesuatu yang luar biasa dalam kehidupan Kristen, tetapi peperangan rohani adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan di bawah ketuanan Yesus dan dalam mencari terlebih dahulu kerajaan dan kebenaran-Nya. Setiap hari kita berjuang melawan musuh rohani yang menggoda keinginan kita yang menyimpang melalui filsafat dan nilai-nilai dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini di mana kita bekerja (Yak. 1:14).

Pelaksanaan Peperangan Rohani

Apa saja yang dilibatkan dalam peperangan rohani? Di manakah kita berjumpa dengan musuh kita yang tidak kelihatan? Petrus menyampaikan arahan ini: “Waspadalah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh” (1Ptr. 5:8-9). Petrus memperingatkan kita akan kenyataan bahwa musuh kita ada di mana-mana, bukan seperti Allah dalam kemahahadiran-Nya, tetapi melalui legiun malaikat yang telah jatuh yang disebut sebagai roh-roh jahat.

Sama seperti Petrus yang membahas tentang pertentangan rohani, demikian juga setiap penulis Perjanjian Baru. Kita diberi informasi tentang karakter, maksud, siasat, dan taktik musuh kita, yang memperlengkapi kita untuk berperang, dan menguatkan semangat kita melalui pengharapan yang pasti dalam injil kerajaan Allah.

Hal mendasar dari peperangan rohani kita adalah berdiri teguh di dalam Kristus melawan siasat Iblis (Ef. 6:10-16). Terhadap tuduhan-tuduhan Iblis, kita harus berdiri teguh di dalam karya Kristus yang telah membayar utang dosa kita di kayu salib dan memalingkan murka Allah atas kita (Kol. 2:13-15). Terhadap tipu daya Iblis, kita harus berdiri teguh di dalam kebenaran yang dinyatakan dalam Firman Allah, Alkitab (2Kor. 10:1-5; Ef. 6:17; Kol. 2:6-8). Terhadap godaan Iblis, kita harus berdiri teguh di dalam kuasa Kristus yang telah bangkit, yang melalui-Nya kita dapat melawan Iblis dan hidup layak di hadapan Tuhan (Ef. 6:10; Kol. 1:9-12). Apa pun yang kita pelajari tentang upaya musuh kita dalam lembaran Firman Allah, kita harus melihat kepada Kristus untuk melawannya.

Mengetahui bahwa kita memiliki musuh rohani yang menentang kita seharusnya memperkaya kehidupan doa kita, membuat kita mencari kecukupan Tuhan kita yang begitu kita butuhkan. Prinsip dasar dari peperangan rohani adalah bahwa peperangan itu dilakukan dalam hikmat (Yak. 3:15) dan kelemahan (2Kor. 12:9-10), yang membawa kita kepada Kristus untuk segala sesuatu, di setiap saat, dalam segala cara (Ef. 6:18-20).

Terakhir, kita perlu mengingat bahwa kita tidak sendirian, melainkan dilingkupi oleh Roh Allah ke dalam komunitas Kristen untuk perlindungan, tuntunan, dan pemeliharaan kita. Kita seharusnya saling mendoakan (Kol. 4:3), saling menyemangati (Ibr. 10:23-25), saling menasihati (Ibr. 3:12-14), dan saling memperhatikan (Yak. 5:16, 19-20), karena bersama-sama kita melayani Tuhan kita yang sedang membangun gereja-Nya, yang tidak dapat dikuasai oleh alam maut: “Allah, sumber damai sejahtera, akan segera menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Anugerah Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu! Amin” (Rm. 16:20).

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

Stanley D. Gale
Stanley D. Gale
Dr. Stanley D. Gale adalah pendeta emeritus dan penulis dari beberapa buku, termasuk Finding Forgiveness: Discovering the Healing Power of the Gospel.