Apa yang Diyakini Orang Kristen tentang Wahyu Allah?

08 Juni 2026

Apa yang Diyakini Orang Kristen tentang Wahyu Allah?

08 Juni 2026

Apa yang Alkitab Katakan tentang Poligami?

Ada beberapa praktik dalam Perjanjian Lama yang biasanya disorot oleh para pengkritik ajaran moral dalam Alkitab. Salah satunya adalah poligami. Kenyataan bahwa poligami dipraktikkan pada periode Perjanjian Lama sangat jelas. Poligami dimulai pada Kejadian 4:19: “Lamekh memperistri dua orang.” Di kemudian hari, Abram menikah dengan Sarai, tetapi Sarai “mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu dan memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi istrinya” (Kej. 16:3). Yakub memiliki empat istri—dua istri yang resmi dan dua budak yang berfungsi sebagai istri pengganti dengan tujuan melahirkan anak bagi kedua istri yang resmi (Kej. 29-30). Namun, praktik poligami tidak hanya terbatas pada periode bapa-bapa leluhur. Tokoh-tokoh terkemuka lainnya pada masa Israel juga mempraktikkan poligami, termasuk Daud dan, yang paling spektakuler, Salomo (1Raj. 11:3). Poligami cukup umum dalam budaya Timur Dekat Kuno, meski praktiknya dibatasi oleh kemampuan seorang laki-laki untuk memelihara sebuah keluarga besar yang akan terbentuk akibat memiliki banyak istri. Dalam kasus raja, pernikahan-pernikahan ini sering kali bersifat politis, yang pada dasarnya bertujuan untuk memastikan stabilitas hubungan antar-kerajaan. Praktik poligami di Israel mencerminkan praktik yang ditemukan pada banyak peradaban kuno.

Fakta-fakta tersebut memunculkan beberapa pertanyaan. Pertama, apakah Perjanjian Lama menyetujui praktik poligami? Meski berbagai tokoh laki-laki yang disebutkan dalam Perjanjian Lama mempraktikkan poligami, namun sepertinya poligami tidak umum dipraktikkan oleh orang Israel kuno, atau dalam peradaban kuno pada umumnya. Kebanyakan laki-laki tidak sanggup menanggung biayanya. Sebagai contoh, keputusan penebus lain yang disebutkan di dalam Rut 4 mungkin dipengaruhi oleh beban keuangan yang akan ditimbulkan oleh pernikahannya dengan Rut—ini satu penafsiran yang mungkin atas Rut 4:6. Poligami adalah praktik yang hanya dilakukan oleh apa yang dapat kita sebut sebagai “golongan satu persen”. Meski Perjanjian Lama mencatat contoh-contoh poligami ini, Alkitab tidak pernah mengindikasikan persetujuan atas praktik tersebut.

Kedua, apakah ada aturan atau prinsip di dalam Alkitab yang mengatakan bahwa praktik poligami itu salah? Pertama, contoh poligami paling awal di dalam Perjanjian Lama, yaitu Lamekh, muncul dalam garis keturunan Kain dan, berdasarkan puisi Lamekh yang penuh kekerasan, ia bukanlah seorang yang memiliki karakter moral yang tinggi. Kedua, penciptaan Hawa untuk Adam menetapkan prinsip satu perempuan untuk satu laki-laki sebagai konsep pernikahan yang ideal. Inilah prinsip yang dipakai Yesus ketika dihadapkan dengan pertanyaan tentang perceraian (Mat. 19:3-6). Ketiga, semua contoh pernikahan poligami di dalam Perjanjian Lama memperlihatkan banyak konflik dalam pernikahan tersebut. Kita melihat hal ini di dalam Kejadian 29-30 dengan persaingan antara Lea dan Rahel untuk mendapatkan kasih sayang Yakub. Masuknya Bilha dan Zilpa untuk melahirkan keturunan tambahan bagi Yakub melanjutkan konflik antara Rahel dan Lea. Keempat, dalam pernikahan Elkana (1Sam. 1), Penina disebutkan sebagai saingan Hana (1Sam. 1:6). Kata yang diterjemahkan sebagai “saingan” ini berasal dari sebuah kata kerja yang berarti “bertindak sebagai musuh”. Terakhir, Imamat 18:18 berkata, “Janganlah kauambil saudara perempuan istrimu sebagai madunya untuk menyingkapkan auratnya selama istrimu itu masih hidup.” Secara harfiah, ini menyiratkan bahwa seorang laki-laki tidak boleh melakukan apa yang dilakukan Yakub dengan menikahi seorang perempuan dan saudara perempuannya. Namun, kata “saudara perempuan” bisa digunakan secara kiasan untuk merujuk pada perempuan lain yang tidak harus memiliki hubungan darah.

Ketika kita tiba pada Perjanjian Baru, asumsi dasar di sepanjang Perjanjian Baru adalah bahwa pernikahan seharusnya bersifat monogami. Dalam pembahasan Paulus tentang pernikahan di dalam 1 Korintus 7, pernikahan monogami diasumsikan. Aturan bagi pejabat gereja dalam 1 Timotius 3 dan Titus 1 menyatakan bahwa seorang penatua haruslah “suami dari satu istri”. Tidak ada petunjuk di seluruh Perjanjian Baru bahwa poligami dianggap dapat diterima di dalam gereja.

Pertanyaan terakhir adalah “Mengapa Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, tidak secara eksplisit mengecam praktik poligami?” Atau, dengan kata lain, “Mengapa Allah mentolerir poligami pada periode Perjanjian Lama?” Pada akhirnya kita tidak tahu pasti. Namun, sepertinya Allah mentolerir dosa-dosa tertentu di kalangan umat-Nya, yang bersifat endemik dalam budaya sekitar. Hal yang sama dapat dikatakan mengenai perbudakan. Namun, kenyataan bahwa Allah tidak langsung menghukum Yakub, Daud, atau Salomo karena praktik poligami yang mereka lakukan bukanlah alasan untuk mengikuti jejak mereka. Prinsip pernikahan monogami jelas, bahkan di dalam Perjanjian Lama. Namun, ini seharusnya membuat kita bertanya, “Dosa apakah yang bersifat endemik pada masa ini yang kita tolerir di dalam gereja? Dosa-dosa apa yang sedang ditoleransi Allah dalam hidup kita?” Marilah kita menyingkirkannya sesegera mungkin.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Benjamin Shaw

Benjamin Shaw

Dr. Benjamin Shaw adalah profesor Perjanjian Lama di Reformation Bible College di Sanford, Florida. Dia adalah penulis dari Ecclesiastes: Life in a Fallen World.