
Apa itu Peperangan Rohani?
14 Januari 2026
Berkhotbah dan Mengajar
19 Januari 2026Berpikir Seperti Yesus
Beberapa tahun yang lalu, saya diminta untuk menjadi pembicara dalam acara wisuda di sebuah seminari teologi yang besar di Amerika. Dalam wisuda tersebut, saya berbicara tentang peran penting logika dalam penafsiran Alkitab, dan saya meminta seminari-seminari untuk memasukkan mata kuliah logika ke dalam kurikulum wajib mereka. Di hampir semua program pendidikan seminari, mahasiswa diwajibkan untuk mempelajari sesuatu dari bahasa-bahasa asli Alkitab, yaitu bahasa Ibrani dan Yunani. Mereka diajarkan untuk melihat latar belakang sejarah dari teks tersebut, dan mereka mempelajari prinsip-prinsip dasar penafsiran. Ini semua adalah keterampilan yang penting dan berharga untuk menjadi penatalayan Firman Allah yang baik. Namun, alasan utama mengapa kekeliruan dalam penafsiran Alkitab terjadi bukanlah karena pembaca kekurangan pengetahuan tentang bahasa Ibrani atau tentang situasi di mana kitab tersebut ditulis. Penyebab utama dari kekeliruan dalam menafsir Kitab Suci adalah penarikan kesimpulan yang tidak sah dari teks Alkitab. Saya sangat yakin bahwa penarikan kesimpulan yang keliru ini akan lebih kecil kemungkinannya jika para penafsir Alkitab lebih terampil dalam prinsip-prinsip dasar logika.
Izinkan saya memberikan sebuah contoh tentang jenis penarikan kesimpulan yang salah yang ada di benak saya. Sepertinya saya tidak pernah berdiskusi mengenai pertanyaan tentang pemilihan Allah yang berdaulat tanpa ada orang yang mengutip Yohanes 3:16 dan berkata, “Tetapi bukankah Alkitab berkata bahwa ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal’”? Saya langsung setuju bahwa Alkitab mengatakan demikian. Jika kita menerjemahkan kebenaran itu ke dalam pernyataan-pernyataan yang logis, kita akan mengatakan bahwa semua orang yang percaya akan memiliki hidup yang kekal, dan tidak ada seorang pun yang memiliki hidup kekal akan binasa, karena kebinasaan dan hidup kekal merupakan dua hal yang bertentangan dalam hal konsekuensi dari percaya. Namun, ayat ini sama sekali tidak mengatakan apa pun tentang kemampuan manusia untuk percaya kepada Yesus Kristus. Ayat ini tidak mengatakan apa pun tentang siapa yang akan percaya. Yesus berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku” (Yoh. 6:44). Di sini kita memiliki sesuatu yang negatif secara universal yang mendeskripsikan kemampuan. Tidak ada seorang pun yang memiliki kemampuan untuk datang kepada Yesus kecuali ada kondisi tertentu yang dipenuhi oleh Allah. Sayangnya, hal ini dilupakan dalam terang Yohanes 3:16, yang tidak mengatakan apa pun tentang syarat untuk beriman. Jadi, Yohanes 3:16, salah satu ayat yang paling terkenal di seluruh Alkitab, secara rutin, teratur, dan sistematis dibantai dengan penarikan kesimpulan dan implikasi yang keliru.
Mengapa penarikan kesimpulan yang tidak sah seperti itu terjadi? Teologi Kristen klasik, khususnya teologi Reformed, berbicara tentang dampak noetis (noetic) dari dosa. Kata “noetic” dalam bahasa Inggris berasal dari kata Yunani nous, yang sering diterjemahkan sebagai “akal budi”. Jadi, dampak noetis dari dosa adalah konsekuensi terhadap akal budi manusia dalam kejatuhan. Keseluruhan pribadi manusia, termasuk semua kemampuan kita, telah dirusak oleh kerusakan natur manusia. Tubuh kita mati karena dosa. Kehendak manusia berada dalam keadaan perbudakan moral, dalam tawanan keinginan dan dorongan hati yang jahat. Pikiran kita juga telah jatuh, dan kemampuan kita untuk berpikir telah sangat dilemahkan oleh kejatuhan. Saya menduga bahwa IQ Adam sebelum kejatuhan melampaui ukuran sekarang. Saya ragu bahwa ia cenderung menarik kesimpulan yang tidak sah pada saat ia mengerjakan taman. Sebaliknya, pikirannya sangat tajam dan jeli. Tapi dia kehilangan itu ketika dia jatuh, dan kita pun ikut kehilangan itu bersamanya.
Namun, fakta bahwa kita telah jatuh bukan berarti kita tidak lagi memiliki kemampuan untuk berpikir. Kita semua rentan terhadap kesalahan, tetapi kita juga dapat belajar untuk bernalar dengan cara yang teratur, logis, dan masuk akal. Adalah keinginan saya untuk melihat orang-orang Kristen berpikir dengan sangat masuk akal dan jelas. Jadi, sebagai sebuah disiplin, akan sangat bermanfaat bagi kita untuk mempelajari dan menguasai prinsip-prinsip dasar dari logika sehingga kita dapat, dengan pertolongan Allah Roh Kudus, mengatasi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh dosa pada akal budi kita sampai pada tingkat tertentu.
Saya tidak pernah berpikiran bahwa akan ada seorang dari kita yang dapat menjadi sempurna dalam penalaran kita selama dosa masih ada dalam diri kita. Dosa membuat kita berprasangka buruk terhadap hukum Allah selama kita hidup, dan kita harus berjuang untuk mengatasi distorsi mendasar dari kebenaran Allah ini. Akan tetapi, jika kita mengasihi Allah, bukan hanya dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita, tetapi juga dengan akal budi kita (Mrk. 12:30), kita akan bersungguh-sungguh dalam usaha kita untuk melatih akal budi kita.
Ya, Adam memiliki pikiran yang tajam sebelum kejatuhan. Namun saya percaya bahwa dunia tidak pernah menyaksikan pemikiran yang jernih seperti yang dimanifestasikan dalam pikiran Kristus. Saya pikir bagian dari kemanusiaan yang sempurna dari Tuhan kita adalah Dia tidak pernah menarik kesimpulan yang tidak sah. Dia tidak pernah melompat ke kesimpulan yang tidak didukung oleh premis-premisnya. Pemikiran-Nya sebening kristal dan koheren. Kita dipanggil untuk meneladani Tuhan kita dalam segala hal, termasuk dalam cara-Nya berpikir. Oleh karena itu, jadikanlah ini sebagai hal yang utama dan serius dalam hidup Anda untuk mengasihi Dia dengan segenap akal budi Anda.


