Obat Bagi Hati Kita yang Terbagi
11 Desember 2025
Apa itu Peperangan Rohani?
14 Januari 2026
Obat Bagi Hati Kita yang Terbagi
11 Desember 2025
Apa itu Peperangan Rohani?
14 Januari 2026

Kasih yang Sabar dan Baik Hati

1 Korintus 13 adalah salah satu perikop yang paling terkenal di dalam Kitab Suci, karena di dalamnya Rasul Paulus memberikan penjelasan yang luar biasa tentang sifat kasih yang saleh. Dia memulai dengan menunjukkan pentingnya kasih, menuliskan bahwa jika kita memiliki segala macam karunia, kemampuan, dan pencapaian, tetapi tidak memiliki kasih, kita tidak berarti apa-apa (ayat 1-3). Kemudian, dalam ayat 4, ia mulai menggambarkan seperti apa kasih yang saleh itu, dengan mengatakan, “Kasih itu sabar dan baik hati,” atau, dalam terjemahan yang lebih tradisional, “Kasih itu menderita lama dan baik hati” (NKJV). Saya sendiri penasaran dengan pasangan ini—kesabaran dan kebaikan. Mengapa Paulus menempatkan kedua sifat ini di urutan pertama dalam penjelasannya tentang kasih, dan mengapa ia menjadikannya pasangan?

Paulus memberi tahu kita bahwa kasih itu sabar, bahwa kasih itu “menderita lama.” Saya suka terjemahan yang lebih tradisional ini karena menyampaikan ide bahwa mengasihi orang lain bisa jadi sulit. Mengasihi orang lain berarti kita tidak langsung menolak mereka saat pertama kali mereka menyakiti perasaan kita. Dalam hubungan kita, kita cenderung jauh lebih sabar terhadap beberapa orang dibandingkan dengan orang lain. Jika seorang teman lama melakukan sesuatu untuk membuat saya marah atau kesal, saya biasanya berkata, “Oh, itu hanya caranya, itu kepribadiannya, kita semua manusia, tidak ada yang sempurna.” Saya memberi toleransi untuknya. Namun, jika saya bertemu dengan orang lain dan mendapati bahwa dia berperilaku persis seperti perilaku teman saya, saya mungkin tidak ingin bergaul lagi dengannya. Kita menoleransi hal-hal dalam diri teman kita yang tidak akan kita toleransi pada orang asing.

Kasih yang menderita lama tidak menyimpan kartu perhitungan. Pertama kali Anda membuat saya kesal, saya mungkin berkata, “Satu kali,” dan kemudian memberi Anda dua kali kesempatan lagi sebelum Anda disingkirkan. Namun, jika kasih saya menderita lama, Anda bisa sampai pada kali ketujuh puluh tujuh, dan saya akan tetap bertahan dengan Anda.

Mengapa kasih orang Kristen menderita lama? Itu karena orang Kristen meneladani Kristus, yang meneladani Allah Bapa, dan menderita lama (LAI: panjang sabar) adalah karakteristik utama Allah. Alkitab sering kali menyatakan bahwa Allah lambat untuk marah, bahwa Ia panjang sabar terhadap umat-Nya yang tegar tengkuk. Sebagai contoh, Allah menggambarkan diri-Nya seperti ini: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya” (Kel. 34:6). Serupa dengan itu, Paulus berbicara tentang “kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kelapangan hati-Nya” (Rm. 2:4).

Jika Anda seorang Kristen, berapa lama Allah bersabar atas ketidakpercayaan Anda sebelum Anda ditebus? Berapa lama Dia bersabar atas dosa yang bercokol dalam diri Anda? Jika bukan karena sifat Allah yang panjang sabar, kita akan binasa. Jika Allah memperlakukan kita dengan ketidaksabaran yang sama seperti kita memperlakukan orang lain, kita akan menderita di neraka saat ini. Dia telah bersabar atas ketidaktaatan kita, hujatan kita, ketidakpedulian kita, ketidakpercayaan kita, dan dosa kita, dan Dia tetap mengasihi kita. Itulah siapa Allah. Begitulah cara Dia menyatakan kasih-Nya. Dia menunjukkan kasih-Nya dengan kesabaran-Nya, yaitu kesabaran yang panjang.

Kita dipanggil bukan hanya untuk bersabar, tetapi juga untuk menderita lama. Kita bukan hanya bersabar terhadap dosa, kelemahan, dan kekurangan orang lain selama hal itu tidak menimbulkan rasa sakit bagi kita. Menderita lama berarti mengasihi ketika kita mengalami luka dan rasa sakit. Ini berarti bahwa kita mengasihi “sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Ptr. 4:8). Dengan cara ini, kita mencerminkan kasih Allah yang menderita lama (panjang sabar).

Lalu, mengapa Paulus memasangkan kesabaran/menderita lama dengan kebaikan? Mungkin saja kita menderita luka atau permusuhan untuk waktu yang lama sambil memusuhi dan merencanakan balas dendam. Akan tetapi, bukan itu yang Alkitab maksudkan dengan panjang sabar. Panjang sabar mencakup kebaikan hati, karena kita harus berbaik hati dalam menanggapi penyebab penderitaan kita. Orang yang baik hati tidak kasar, tidak keras, dan tidak kejam. Mereka memiliki kemurahan hati. Mereka peka dan lembut terhadap orang lain.

Ayah saya, saya yakin, adalah teladan dari sifat ini. Dia benar-benar baik hati. Dia memperlihatkan kepada saya kebaikan Allah. Saya tidak suka ketika saya pulang dari sekolah dan mendapati bahwa saya berada dalam masalah karena sesuatu yang telah saya lakukan. Ibu saya akan berkata, “Ayahmu ingin berbicara denganmu.” Saya harus masuk ke kantor ayah saya dan menutup pintu, dan dia akan berkata, “Baiklah, Nak, kita harus bicara.” Dia akan mempreteli saya tanpa pernah meninggikan suaranya, tanpa pernah menunjukkan kemarahan kepada saya, dan entah bagaimana, setelah dia mempreteli, dia mampu, dengan sangat lembut, menyatukan saya kembali. Setelah itu, saya akan meninggalkan kantornya dengan bahagia. Saya merasa senang, tetapi saya juga tahu bahwa saya harus berperilaku lebih baik lain kali. Dia menginspirasi saya karena sikapnya yang begitu baik.

Sayangnya, orang yang benar-benar baik hati itu langka. Namun, kebaikan hati seharusnya dihubungkan dengan panjang sabar sebagai perwujudan kasih. Sederhananya, kasih itu bukanlah tidak sabar ataupun tidak baik hati. Ini adalah gambaran dari kasih Allah, kasih yang sama yang Roh Kudus kembangkan dalam diri umat Allah.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

R.C. Sproul
R.C. Sproul
Dr. R.C. Sproul mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang bertumbuh dalam pengenalan mereka akan Allah dan kekudusan-Nya. Sepanjang pelayanannya, Dr. R.C. Sproul membuat teologi dapat diakses dengan menerapkan kebenaran mendalam dari iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Ia terus dikenal di seluruh dunia untuk pembelaannya yang jelas terhadap ineransi Alkitab dan kebutuhan umat Allah untuk berdiri dengan keyakinan atas Firman-Nya.