
Berpikir Seperti Yesus
16 Januari 2026
Ketakutan dan Ketidakpastian
21 Januari 2026Berkhotbah dan Mengajar
Selama bertahun-tahun, saya tidak merahasiakan kekaguman saya pada orang-orang seperti Martin Luther dan John Calvin, yang begitu besar perannya dalam menemukan kembali injil pada masa Reformasi Protestan di abad ke-16. Saya kagum dengan kecerdasan mereka yang tinggi dan kemampuan mereka untuk berdiri teguh di tengah-tengah banyak bahaya. Cinta mereka terhadap kebenaran alkitabiah adalah teladan yang patut diikuti. Secara khusus, saya berterima kasih atas model penggembalaan mereka. Kedua orang ini adalah “selebritas” pada zaman mereka, tetapi tidak satu pun dari mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun berkeliling Eropa untuk mengonsolidasikan gerakan pengikut. Sebaliknya, keduanya mengabdikan diri pada panggilan utama mereka untuk berkhotbah dan mengajarkan Firman Allah. Keduanya adalah pengkhotbah yang tak kenal lelah—Luther di Wittenberg, Jerman, dan Calvin di Jenewa, Swiss. Mereka menjalankan pelayanan Firman Allah dengan serius, sehingga ketika mereka berbicara tentang tugas seorang pengkhotbah, saya memperhatikan dengan saksama.
Lebih dari satu dekade yang lalu, saya diundang untuk mengajar mengenai pandangan Martin Luther tentang berkhotbah, dan saya menemukan bahwa persiapan untuk pelayanan tersebut sangat berharga bagi pelayanan saya sendiri sebagai seorang pengkhotbah. Saya juga menemukan bahwa apa yang Luther katakan tentang berkhotbah bukan hanya untuk pendeta melainkan juga untuk seluruh jemaat, dan sungguh menakjubkan betapa perkataannya masih sangat relevan di zaman kita.
Salah satu penekanan yang kita temukan berulang kali dalam tulisan Luther adalah bahwa seorang pengkhotbah haruslah “pandai mengajar.” Dalam banyak hal, ini bukanlah sebuah pengertian yang hebat, karena ia hanya mengulang kembali kualifikasi yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Baru bagi para penatua jemaat (1Tim. 3:2). Namun, mengingat apa yang kita harapkan dari para pengkhotbah kita saat ini, kata-kata Luther-yang menggemakan pernyataan Alkitab—perlu didengarkan kembali. Konsep bahwa tugas utama pendeta adalah untuk mengajar hampir hilang di dalam gereja saat ini. Ketika kita mengundang para pendeta ke gereja kita, kita sering kali mencari orang-orang yang mahir dalam hal administrasi, penggalang dana yang terampil, dan pemimpin yang baik. Tentu saja, kita ingin mereka mengetahui sejumlah teologi dan Alkitab, tetapi kita tidak memprioritaskan bahwa mereka diperlengkapi untuk mengajar jemaat mengenai hal-hal tentang Allah. Tugas-tugas administratif dipandang lebih penting.
Ini bukanlah model yang disarankan oleh Yesus sendiri. Anda ingat pertemuan Yesus dengan Petrus setelah kebangkitan-Nya. Petrus telah menyangkal Yesus di depan umum sebanyak tiga kali, dan Yesus mulai memulihkan sang Rasul, dengan memerintahkannya tiga kali untuk “peliharalah domba-domba-Ku” (Yoh. 21:15-19). Dengan diperluas, panggilan ini diberikan kepada para penatua dan gembala jemaat karena umat Allah yang berkumpul dalam jemaat-jemaat gereja di seluruh dunia adalah milik Yesus. Mereka adalah domba-domba-Nya. Setiap pendeta yang ditahbiskan telah dikuduskan dan dipercayakan oleh Allah untuk memelihara domba-domba tersebut. Kita menyebutnya “penggembalaan” karena para pendeta dipanggil untuk memelihara domba-domba Kristus. Para pendeta adalah gembala-gembala di bawah Kristus, dan gembala seperti apa yang begitu mengabaikan domba-dombanya sehingga ia tidak pernah meluangkan waktu atau berupaya untuk memberi mereka makan? Pemberian makan domba-domba Tuhan kita terjadi terutama melalui pengajaran.
Umumnya, kita membedakan antara berkhotbah dan mengajar. Berkhotbah melibatkan hal-hal seperti nasihat, eksposisi, teguran, dorongan, dan penghiburan, sedangkan mengajar adalah pemindahan informasi dan instruksi dalam berbagai bidang. Namun, dalam praktiknya, ada banyak tumpang tindih di antara keduanya. Berkhotbah harus mengomunikasikan isi dan mencakup pengajaran, dan mengajarkan hal-hal tentang Allah kepada umat tidak dapat dilakukan dengan cara yang netral, tetapi harus menasihati mereka untuk memperhatikan dan menaati Firman Kristus. Umat Allah membutuhkan khotbah dan pengajaran, dan mereka membutuhkan lebih dari dua puluh menit instruksi dan nasihat dalam seminggu. Seorang gembala yang baik tidak akan pernah memberi makan domba-dombanya hanya sekali seminggu, dan itulah sebabnya Luther mengajar umat di Wittenberg hampir setiap hari, dan Calvin melakukan hal yang sama di Jenewa. Saya tidak bermaksud meminta praktik-praktik yang sama persis di zaman kita sekarang, tetapi saya yakin bahwa gereja perlu menangkap kembali bentuk pelayanan pengajaran reguler yang ditunjukkan oleh bapa-bapa kita dalam iman. Sejauh yang mereka mampu, gereja seharusnya menciptakan banyak kesempatan untuk mendengarkan Firman Allah dikhotbahkan dan diajarkan. Hal-hal seperti ibadah Minggu sore, kebaktian tengah minggu dan kelas Alkitab, sekolah Minggu, pelajaran Alkitab di rumah, dan sebagainya memberi kesempatan kepada orang awam untuk menyantap Firman Allah beberapa kali setiap minggu. Sejauh mereka mampu, orang awam perlu memanfaatkan apa yang tersedia bagi mereka melalui instruksi tentang kebenaran-kebenaran yang mendalam dari Kitab Suci.
Saya mengatakan hal ini bukan untuk mendorong pembuatan program-program hanya demi program, dan saya tidak ingin menaruh beban yang terlalu berat di pundak anggota gereja atau staf gereja. Namun, sejarah menunjukkan kepada kita bahwa periode-periode kebangunan rohani dan reformasi terbesar yang pernah disaksikan oleh gereja terjadi bersamaan dengan pemberitaan Firman Allah yang sering, konsisten, dan jelas. Jika kita ingin melihat Roh Kudus membawa pembaruan bagi gereja-gereja kita dan negara kita, dibutuhkan pengkhotbah-pengkhotbah yang berkomitmen pada eksposisi Kitab Suci, dan orang awam yang mencari gembala-gembala untuk memberi mereka makan Firman Allah dan memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang tersedia sebaik-baiknya untuk belajar Alkitab.


