
Apa Itu Kedewasaan Kristen?
31 Juli 2026
Yesus adalah Bait Suci yang Baru
05 Agustus 2026Kuasa Kekudusan Allah yang Mengubahkan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Beberapa minggu setelah menjadi percaya kepada Kristus, banyak teman bertanya kepada saya, khususnya tentang pengaruh pertobatan itu terhadap kehidupan malam saya ke depannya: Apakah saya akan tetap pergi ke luar? Apakah saya “boleh” minum minuman keras? Satu pertanyaan yang menonjol pada hari-hari awal itu berasal dari ayah sahabat saya. Ia mendekati saya dan bertanya, “Bagaimana rasanya mengetahui bahwa selama sisa hidupmu, semua orang akan bersenang-senang dan menikmati hidup sedangkan kamu terjebak pergi ke gereja?” Melihat ke belakang sekarang, saya tertawa dengan pertanyaan seperti itu. Namun, pada waktu itu, pertanyaan tersebut diam-diam membuat saya bertanya: Apakah saya sudah siap (dan mampu) meninggalkan kehidupan “pesta” saya? Apakah saya siap untuk menghabiskan hari Minggu di gereja? Apakah saya, memparafrasekan perkataan Rasul Paulus, mau melupakan apa yang ada di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di depan (Flp. 3:13)?
Percakapan seperti itu telah berulang kali muncul selama tiga puluh tahun lebih saya mengikut Kristus. Fokus yang terus-menerus muncul ketika diperhadapkan dengan pertanyaan seperti itu selalu bersifat duniawi. Fokusnya selalu berkaitan dengan saya dan keinginan saya, siapa saya, dan apa yang saya inginkan; tidak pernah tentang Allah dan keinginan-Nya, siapa Dia, dan apa yang Ia inginkan. Ini tidaklah mengherankan; kita seharusnya tidak perlu berharap orang yang belum percaya akan berpikir melampaui dunia materi. Hal-hal ini hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang telah disatukan dengan Kristus. Sebagaimana dikatakan oleh Paulus: “Manusia alami tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (1Kor. 2:14).
Ini membawa saya kepada topik artikel ini: kuasa kekudusan Allah yang mengubahkan. Beberapa bulan setelah menjadi Kristen, menjadi jelas bagi saya bahwa keinginan saya untuk meninggalkan hal-hal dunia ini, dan sebaliknya mengejar kekudusan, bergantung pada pengenalan berdasarkan pengalaman saya akan Allah di dalam Kristus. Makin dalam pemahaman saya tentang siapa Allah, makin besar pengejaran saya untuk menjadi serupa dengan Dia. Hal ini terutama benar ketika berkaitan dengan kekudusan Allah.
Kekudusan Allah bukan hanya merupakan sebuah atribut; tetapi adalah dasar dan esensi dari siapa Allah itu sendiri. Kekudusan adalah kemurnian absolut, kesempurnaan moral, dan keterpisahan total dari apa pun yang adalah biasa atau najis. Sebagaimana dikatakan oleh teolog Louis Berkhof, Allah yang kudus “berbeda dari semua ciptaan-Nya, dan ditinggikan melampaui mereka dalam keagungan yang tak terbatas.”1 Kekudusan adalah satu-satunya atribut Allah yang ditekankan melalui perulangan tiga kali, “Kudus, kudus, kudus” (Yes. 6:3; Why. 4:8). Pernyataan tentang kekudusan yang diulang tiga kali ini menekankan bahwa Allah benar-benar terpisahkan—tiada yang seperti Dia. Joel Beeke menjelaskannya sebagai berikut: “Ia terpisah oleh kemuliaan-Nya, untuk kemuliaan-Nya… Ia kudus karena Dia adalah Allah, [dan Ia] kudus karena Ia dengan giat berkomitmen untuk menampilkan siapa Dia dalam semua hal yang Ia lakukan.”2
Tidak seperti kekudusan kita, yang cacat dan tidak konsisten, kekudusan Allah adalah kekal dan tidak berubah. Kekudusan-Nya mendefinisikan segala sesuatu yang Ia lakukan. Sebagai contoh: kasih Allah kudus; keadilan-Nya kudus; belas kasihan-Nya kudus; kuasa-Nya kudus; kebenaran-Nya kudus. Dengan demikian, pemahaman dan penerimaan akan kekudusan Allah akan mengubah cara kita berpikir, hidup, dan beribadah.
Ketika kita benar-benar berjumpa dengan kekudusan Allah, kita diubahkan. Renungkan Yesaya 6. Yesaya kewalahan oleh pertunjukan kekudusan Allah. Ia benar-benar hancur dan berseru, “Celaka aku!” (Yes. 6:5). Perjumpaan dengan kekudusan Allah membuat kita rendah hati, menyingkapkan keberdosaan kita, dan membentuk ulang pikiran dan hati kita, memaksa kita untuk menyesuaikan keinginan dan kehendak kita dengan keinginan dan kehendak-Nya. Keinginan dan kehendak Allah bagi kita adalah menjadi kudus karena Ia kudus: “Haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus” (Im. 11:44; 1Ptr. 1:16). Dengan menyadari kebutuhan kita akan Dia, kita dipisahkan untuk tujuan-Nya dan diubahkan menjadi serupa dengan-Nya.
Menjelaskan hal ini secara rinci akan melampaui lingkup renungan singkat ini. Namun, pelajarannya sederhana: Jika Anda ingin menjadi lebih serupa dengan Kristus, lakukan segala upaya untuk mengenal Allahmu yang kudus—Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bacalah buku The Holiness of God karya R. C. Sproul atau Knowing God karya J. I Packer, atau The Existence and Attributes of God karya Stephen Charnock. Paling penting lagi, bacalah Alkitab dengan berdoa dengan tujuan untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Sebagaimana dikatakan oleh D. A. Carson:
Orang tidak begitu saja mengarah menuju kekudusan. Selain usaha yang didorong oleh anugerah, orang tidak cenderung kepada kekudusan, doa, ketaatan kepada Alkitab, iman, dan bersuka di dalam Tuhan. Kita secara alami mengarah kepada kompromi… kepada ketidaktaatan… kepada takhayul.3
Pengenalan yang bertumbuh akan Allah yang kudus di dalam dan melalui Kristus menghentikan pengarahan alami tersebut, menempatkan kita pada jalan menuju kekudusan, dan menjanjikan kepada kita hidup dalam kenikmatan dan kegembiraan selamanya. Jadi, ketika lain kali seseorang bertanya kepada Anda, “Bagaimana rasanya mengetahui bahwa selama sisa hidup Anda, semua orang akan bersenang-senang dan menikmati hidup sedangkan Anda terjebak pergi ke gereja?” Tersenyumlah dan katakan: “Jika saja Anda mengenal Allah saya yang kudus, jika saja Anda mengenal Yesus, Anda tidak akan menanyakan hal itu. Pergi ke gereja untuk menyembah Dia adalah kesukaan saya, sebab hanya Dia yang dapat memenuhi hati saya dengan kegembiraan dan sukacita berlimpah!” (Mzm. 16:11; Yes. 35:10; Yoh. 16:24).
- Louis Berkhof, Summary of Christian Doctrine (Banner of Truth, 2011), 28. ↩
- Joel R. Beeke dan Paul M. Smalley, Reformed Systematic Theology, Vol. 1 (Crossway, 2004), 569. ↩
- D.A. Carson, For the Love of God: A Daily Companion for Discovering the Riches of God’s Word, Vol. 2 (Good News Publishers, 2006), sebagaimana dikutip pada Goodreads.com. ↩


