
Menjalani Tantangan Menjadi Ibu dengan Anugerah
29 Juli 2026Apa Itu Kedewasaan Kristen?
Di kebun kami terdapat sebuah pohon apel kecil. Setiap tahun pohon itu tumbuh sedikit lebih besar, dan buahnya menjadi sedikit lebih lebat. Pohon itu telah matang seiring berjalannya waktu, dan menikmati buah dari kematangan tersebut merupakan sebuah berkat.
Dalam banyak hal, ini adalah gambaran apa yang menjadi panggilan kehidupan Kristen kita, yaitu pertumbuhan yang berbuah yang terus meningkat. Maka, kita membaca, “Sebab itu, marilah kita…beralih kepada perkembangannya yang penuh” (Ibr. 6:1).
Teladan Kedewasaan
Kedewasaan Kristen dicerminkan bagi kita dalam Tuhan Yesus. Dengan menjadi serupa dengan-Nya, kita menjadi dewasa dan berbuah.
Ada kecenderungan untuk meminimalkan realitas kehidupan manusia Tuhan Yesus. Namun, ada pertumbuhan nyata dalam kedewasaan dalam kehidupan Kristus. Ia adalah bayi, anak kecil, dan orang dewasa yang sempurna. Melalui setiap tahap tersebut, Ia bertumbuh dewasa tanpa dosa.
Kita diberitahu tentang hal ini di dalam Lukas 2:40: “Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan anugerah Allah ada pada-Nya.” Seperti yang Calvin katakan, “Kristus dijadikan manusia nyata… Ia dengan rela mengenakan segala sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari natur manusia.” Ini mencakup bertumbuh dalam kedewasaan.
Kristus bertumbuh dewasa ketika Ia diajari Firman oleh Bapa-Nya:
Pagi demi pagi Ia mempertajam pendengaranku
untuk mendengar seperti seorang murid. (Yes. 50:4)
Ia juga bertumbuh dewasa melalui ujian dan penderitaan dalam kehidupan di dunia yang telah jatuh. Penulis Ibrani berkata, “Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr. 5:8). Di setiap tahap kehidupan, ketaatan Yesus sempurna, namun penderitaan-Nya membawa-Nya kepada ketaatan dan kedewasaan yang lebih besar.
Sarana Mencapai Kedewasaan
Kristus bukan hanya merupakan pola kedewasaan; Ia juga adalah sarana untuk mencapai kedewasaan Kristen. Buah hanya bisa tumbuh ketika menyatu dengan pohonnya. John Brown dari Wamphray berkata,
Tidak ada partisipasi dengan pengaruh apa pun dari Tuhan Yesus, yang olehnya kerusakan kita dimatikan dan manusia baru mulai bertumbuh, sampai kita disatukan ke dalam Kristus, dan menjadi satu dengan-Nya oleh iman.
Kedewasaan berkembang “di dalam Dia”.
Kedewasaan ini berkembang dengan memanfaatkan sarana-sarana yang ditetapkan Kristus. Paulus berkata di dalam Efesus 4 bahwa Yesus telah mengaruniakan kepada Gereja “gembala-gembala dan pengajar-pengajar”, dan semua ini dikaruniakan untuk membawa kita kepada “kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef. 4:11, 13). Dengan menerima manfaat pelayanan dari para gembala yang dikaruniakan Allah kepada Gereja-Nya, kita menjadi “bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran… kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef. 4:14, 15).
Menerima pengajaran Firman menghasilkan pemahaman doktrinal yang stabil, dan menjaga kita agar tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa ajaran palsu. Pengajaran ini menuntun kita menjadi serupa dengan Kristus, Kepala kita. Inilah arti kedewasaan. Melihat kedewasaan pada para pendengarnya adalah tujuan dari para pengkhotbah: “Dialah yang kami beritakan, bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus” (Kol. 1:28).
Kedewasaan serupa Kristus juga datang dari mengalami penderitaan di dunia. Roma 5:3–4 berkata, “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketabahan, ketabahan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Ujian dan pencobaan dalam kehidupan di dunia yang telah jatuh akan mengembangkan karakter serupa dengan Kristus.
Seiring kita diberkati dengan pengajaran firman, seiring kita dikuduskan oleh ujian dalam hidup, akan ada pertumbuhan dalam kedewasaan. Amsal berkata, “Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak” (Ams. 9:9). Kita diberitahu bahwa penderitaan akan “menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibr. 12:11).
Bukti dari Ketidakdewasaan
Kedewasaan adalah keserupaan dengan Kristus. Namun, kita juga dapat memahami apa itu kedewasaan dari kebalikannya, yaitu ketidakdewasaan. Kita mendapatkan penjelasan yang panjang tentang ketidakdewasaan dalam Ibrani 5:12–14. Kita diberitahu tentang orang percaya yang tidak tahu “asas-asas pokok dari perkataan Allah”, yang memerlukan “susu, bukan makanan keras,” dan yang tidak mampu “membedakan yang baik dari yang jahat.” Susu dan kekanak-kanakan memiliki waktu dan tempatnya tersendiri (1Ptr. 2:2; 1Kor. 13:11). Namun, orang Kristen tidak boleh tetap bodoh dalam hal doktrin, atau tidak yakin secara moral dalam menilai apa yang benar dan salah. Tidak, kedewasaan Kristen adalah kebalikan dari hal-hal ini.
Tanda ketidakdewasaan yang lain dijabarkan di dalam 1 Korintus 3:1–3. Rasul Paulus menyapa jemaat Korintus sebagai “bayi (LAI: yang belum dewasa) dalam Kristus” dengan berkata, “di antara kamu ada iri hati dan perselisihan”. Perpecahan gereja karena masalah kepribadian menyingkapkan ketidakdewasaan rohani. Sebaliknya, kedewasaan Kristen adalah kecintaan akan kesatuan di antara orang percaya.
Kesimpulan
Orang Kristen tidak akan pernah mencapai kedewasaan sempurna di dalam hidup ini. Pertumbuhan selalu diperlukan. Kita dipanggil untuk “bertumbuhlah dalam anugerah dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus” (2Ptr. 3:18). Kedewasaan penuh kita menanti di surga. Ketika kita melihat Dia, kita akan menjadi sama seperti Dia (1Yoh. 3:2). Hanya pada hari itulah kemuliaan penuh kedewasaan akan menjadi milik kita. Untuk sekarang, kita, sementara “mencerminkan kemuliaan Tuhan… sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2Kor. 3:18).
Hari ketika kita mencapai kedewasaan penuh seperti Kristus telah dijamin: “Semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya” (Rm. 8:29). Kita akan menjadi dewasa di dalam Kristus. O betapa harapan yang luar biasa!


