
Bagaimana Cara Saya Dapat Bicara dengan Hikmat?
27 Juli 2026
Apa Itu Kedewasaan Kristen?
31 Juli 2026Menjalani Tantangan Menjadi Ibu dengan Anugerah
Musim semi ini membawa pergeseran besar dalam situasi saya sebagai ibu: anak bungsu saya akan lulus dari SMA. Itu adalah garis finish yang menandai akhir dari tahap pengasuhan ini. Saya tahu momen ini akan datang sejak beberapa waktu lalu dan saya dipenuhi berbagai perasaan—sukacita untuk anak laki-laki saya karena ia memasuki tahap kehidupan selanjutnya; kesedihan karena saya tahu bahwa selanjutnya saya tidak akan melihatnya di rumah setiap hari. Saya telah mencapai tujuan yang kita semua tuju, tetapi saya dilingkupi ketidakpastian menyangkut apa yang menanti di sisi lain.
Ketika saya awalnya memulai perjalanan ini, saya merasa kewalahan oleh semua hal yang tidak saya tahu. Saya merasa tidak cukup siap menghadapi begitu banyak hal yang baru dan tidak dikenal. Saya kekurangan hikmat untuk mengambil keputusan yang penuh tantangan sebagai orang tua dan takut tidak melakukannya dengan benar. Sejak itu, saya telah menghadapi banyak situasi sulit dalam menjalani peran sebagai ibu dan mengantisipasi lebih banyak lagi akan terjadi. Namun, sekarang saya bisa menoleh ke belakang dan menyaksikan anugerah Allah bekerja, dan kesetiaan-Nya menjumpai saya dalam segala persoalan yang saya hadapi.
Di mana pun Anda berada dalam perjalanan sebagai seorang ibu—entah di fase awal, pertengahan, atau tahun-tahun anak sudah mandiri—Allah menjumpai Anda di mana pun Anda berada. Ia menyediakan anugerah-Nya. Kita melihat ini dalam kehidupan tiga orang ibu di dalam Alkitab. Pada setiap situasi mereka, Allah menyediakan apa yang mereka perlukan, dan menyatakan anugerah-Nya bagi mereka.
Allah Melihat dan Mengetahui
Dalam kisah Hagar, kita melihat seorang yang segera menjadi ibu, yang Allah lihat dalam pergumulannya. Sebagai hamba Sarai, ia menjadi bagian dari rencana Sarai mewujudkan janji Allah (Kej. 16). Ketika ia lari dari murka Sarai dan masuk ke padang gurun, Allah menjumpainya dan memperlihatkan anugerah-Nya. Di sana ia menyebut Allah sebagai “El Roi”: “Engkaulah El Roi… Sungguhkah di sini aku telah melihat Dia yang melihat aku?” (Kej. 16:13). Ketika ia kemudian mendapati dirinya kembali berada di padang gurun dan berpikir dia dan putranya akan mati, Allah melihatnya. Ia mendengar tangisannya. Ia memenuhi kebutuhannya sekali lagi dengan anugerah-Nya: “Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar” (Kej. 21:17).
Ketika kita bergumul sebagai ibu, Allah menjumpai kita di mana kita berada dengan anugerah-Nya yang berlimpah. Dialah El Roi, Allah yang melihat. Ia melihat ketakutan, kesedihan, dan ketidakpastian kita. Ia tahu kepedulian kita terhadap anak-anak kita. Ia mendengar seruan kita meminta pertolongan dan menyelamatkan kita. Bukti terbesar dari hal ini terdapat pada Allah menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita di kayu salib, di mana Ia menyerahkan Anak-Nya untuk membayar hukuman yang patut kita terima. Melalui iman kepada karya Kristus bagi kita, kita diselamatkan dari dosa dan sekarang menjadi milik Allah: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama Dia?” (Rm. 8:31–32).
Allah yang sama, yang melihat Hagar di padang gurun, juga melihat dan mendengar seruan kita meminta pertolongan.
Allah Menyelamatkan karena Kasih Perjanjian-Nya
Di dalam kitab Rut, kita menjumpai Naomi, yang telah kehilangan segalanya di negeri Moab. Suaminya telah meninggal, diikuti oleh dua putranya. Kepedihannya sangat berat; ia tidak dapat membayangkan hidupnya akan pernah membawa kebahagiaan lagi. Allah memeliharanya melalui menantunya, Rut, yang meninggalkan bangsanya untuk bergabung dengan Naomi dalam perjalanannya pulang ke Betlehem. Di ladang jelai, Ia lalu memberi kepadanya seorang suami yang mengasihi bagi Rut dan cucu bagi Naomi. Sebuah tema yang berulang dalam kisah mereka adalah kasih hesed Allah. Kasih seperti itu lebih dari sekadar kebaikan; itu adalah komitmen perjanjian Allah bagi umat-Nya.
Allah menjumpai para ibu yang berada dalam keadaan putus asa dengan kasih hesed-Nya. Bagi para ibu dalam situasi-situasi yang menantang itu, bagi kita yang mengalami musim-musim pengasuhan yang sulit, kita bisa percaya kepada kasih setia Allah bagi kita. Ini adalah sebuah kasih yang setia; kasih yang menyelamatkan dan memelihara; kasih yang memegang janji; kasih yang tidak berkesudahan.
Allah yang sama yang telah menyelamatkan Naomi dari kepedihannya, dan menunjukkan kasih hesed kepadanya dan kepada Rut, adalah juga setia dalam kasih-Nya kepada kita.
Allah Memperlengkapi Kita untuk Memenuhi Panggilan Kita
Pada suatu hari, anak dara Maria yang masih remaja berjumpa dengan malaikat Gabriel, yang memberitahu bahwa ia akan mengandung Juru Selamat dunia. Saya mengingat dengan jelas ketidakcukupan yang saya rasakan sebagai ibu muda. Saya tidak dapat membayangkan apa yang dirasakan Maria ketika mendengar berita itu. Nyanyiannya mengingatkan kita bagaimana Allah bekerja di dalam hidup kita melalui anugerah-Nya.
Karena Yang Maha Kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku
dan kuduslah nama-Nya.
Rahmat-Nya turun temurun
atas orang yang takut akan Dia” (Luk. 1:49–50).
Allah tidak memanggil kita menjadi ibu karena kita sudah tahu apa yang kita lakukan. Ia tidak memilih kita untuk membesarkan anak-anak yang Ia percayakan kepada kita karena kita mampu atau bijaksana. Sebaliknya, Ia memperlengkapi kita untuk menjalankan peran sebagai ibu oleh anugerah-Nya yang berlimpah: “Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia yang telah memanggil kita untuk kemuliaan dan kebaikan-Nya” (2Ptr.1:3). Ia memberi kepada kita apa yang kita butuhkan untuk membesarkan anak-anak kita. Ia menyediakan hikmat, kekuatan, dan ketekunan. Ini adalah kabar baik bagi para ibu.
Allah yang sama yang mencurahkan anugerah-Nya kepada Maria juga mencurahkan anugerah yang sama atas kita.
Setiap ibu di dalam Alkitab ini menjumpai anugerah Allah di dalam hidup mereka, yang menyingkapkan kesetiaan-Nya. Hai Ibu, di mana pun Anda berada saat ini, percayalah bahwa Allah akan menjumpai Anda di sana dengan anugerah-Nya.


