Siapakah Abraham?

24 Juli 2026

Menjalani Tantangan Menjadi Ibu dengan Anugerah

29 Juli 2026

Siapakah Abraham?

24 Juli 2026

Menjalani Tantangan Menjadi Ibu dengan Anugerah

29 Juli 2026

Bagaimana Cara Saya Dapat Bicara dengan Hikmat?

Jika Anda adalah orang Kristen, Anda seharusnya ingin menjadi komunikator yang lebih baik—bukan supaya orang terkesan, tetapi karena perkataan Anda seperti talenta dalam perumpamaan Yesus (Mat. 25:14-40). Anda harus menggunakannya untuk mendapatkan hasil bagi Allah yang telah berbicara kepada Anda. Ucapan Anda seharusnya seperti anak panah yang tepat sasaran, bukan yang jatuh tanpa hasil ke tanah (1Sam. 3:19). Amsal 13:23, yang memuji “perkataan pada waktu yang tepat”, dapat menolong Anda untuk itu.

Amsal berbicara tentang “tidak bercela dalam pemberitaanmu” (lihat Tit. 2:8). Kata-kata seperti “ucapan”, “lidah”, “mulut”, dan “perkataan” lebih sering muncul di dalam kitab Amsal dibandingkan kitab-kitab yang lain di dalam Alkitab. Di dalam Amsal 15, penulis memuji jawaban yang lemah lembut, bijaksana, mendidik, dan berpengetahuan. Amsal memuji orang yang “menimbang-nimbang jawabannya” (Ams. 15:28). “Menimbang-nimbang” berarti merenungkan, merancang, dan merencanakan (Mzm. 1:2; 2:1; Ams. 24:2). Orang percaya tidak boleh berbicara secara sembrono. Bila itu dilakukan, perkataan kita dijamin akan kembali dengan sia-sia meskipun niat kita baik (lihat Yes. 55:11). Mengapa kita mau menyia-nyiakan perkataan kita ketika Allah telah mengaruniakannya dengan kuasa yang memberi hidup (Ams. 18:21)?

Untuk memahami arti dari “perkataan pada waktu yang tepat,” akan bermanfaat jika kita mengetahui bahwa puisi Ibrani biasanya dibangun dengan menempatkan frasa-frasa yang paralel. Baris pertama sebuah ayat sering kali memberitahu hal selanjutnya. Amsal 15:23 dimulai seperti ini: “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya.” Di dalam Alkitab, “jawaban” sering kali lebih dari sekadar tanggapan terhadap sebuah pertanyaan. Jawaban adalah balasan yang sesuai, yang tepat, seperti memberi satu-satunya solusi yang benar terhadap sebuah soal matematika — jawaban yang salah tidak ada gunanya. Karena alasan ini, Elihu marah terhadap sahabat-sahabat Ayub karena mereka “tidak dapat memberi sanggahan” terhadap masalah Ayub meskipun mereka telah banyak berbicara (Ayb. 32:3). Jadi, “perkataan pada waktu yang tepat” adalah seperti jawaban tunggal terhadap sebuah teka-teki, atau satu-satunya kunci yang dapat membuka sebuah gembok. Bagian kedua dari ayat tersebut menambahkan unsur ketepatan waktu. Frasa dari Salomo tersebut secara harfiah diterjemahkan sebagai, sebuah kata “pada waktunya.” Sebuah kata yang diucapkan dengan baik adalah jawaban setia yang diberikan pada waktu yang tepat. Agar dapat berbicara dengan cara demikian, Anda harus melakukan setidaknya tiga hal.

1. Hanya berbicara ketika Anda dan pendengar Anda siap.

Bila Anda tidak tahu apa yang harus dikatakan, sedikit atau tanpa kata-kata lebih baik daripada kata-kata yang salah (Ams. 10:10). Bila Anda tahu apa yang ingin Anda katakan tetapi hati Anda tidak benar, berhati-hatilah. Bila Anda melampiaskan amarah, perkataan Anda menjadi seperti semprotan selang pemadam kebakaran, bukan gerimis lembut dari hujan musim semi yang memberi hidup.

Bisa juga pendengar Anda tidak siap. Yesus memberitahu murid-murid-Nya, “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya” (Yoh. 16:12). Baru di kemudian hari mereka dapat mendengar “seluruh kebenaran” (Yoh. 16:13). Anda mungkin tidak perlu menunggu lama, tetapi tidak ada gunanya menanam benih di tanah yang belum siap (baca 1Sam. 25:37).

2. Gunakan perkataan yang tepat pada waktu yang tepat.

Bayangkan seandainya nabi Natan tidak berkata kepada Daud: “Engkaulah orang itu!” (2Sam. 12:7). Natan telah menolong Daud melihat jahatnya ketidakadilan; “Daud menjadi sangat marah,” tetapi ia belum marah terhadap dosanya sendiri. Bersyukur Natan kemudian menyingkapkan kebenaran yang menyakitkan tersebut pada waktu yang tepat (2 Sam. 12:1–15).

Pernahkah seorang hamba Tuhan atau sahabat menyampaikan perkataan dari Allah yang menghasilkan apa yang persis Anda perlukan: pengertian, penghiburan, atau teguran? Anda bukan Allah. Namun, Anda meniru-Nya ketika Anda dengan diiringi doa memilih perkataan yang tepat untuk momen tersebut. Bagi orang yang masih ragu, Anda mungkin perlu menyampaikan perkataan yang penuh belas kasihan. Bagi orang yang sedang menuju ke neraka, perkataan Anda perlu lebih keras (Yud. 1:22-23). Kosakata yang baik seperti sebuah kotak perkakas yang lengkap; gunakanlah alat yang paling mungkin memberikan hasil terbaik dan, seperti pandai besi, tempalah ketika besi masih membara.

3. Percaya kepada Roh Kudus dan gunakan firman-Nya.

Berhati-hatilah supaya iman pendengar Anda tidak “bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” (1Kor. 2:4-5). Martin Luther menulis: “Perkataan dari seorang saudara, yang dinyatakan dari Kitab Suci pada waktu yang dibutuhkan, memiliki bobot yang tak dapat dibayangkan. Roh Kudus menyertainya, dan perkataan itu menggerakkan dan menghidupkan hati orang sebagaimana yang dituntut oleh situasi.” Jika Roh Kudus ada di dalam Anda, dan Anda menyerap firman Allah, Anda dapat berkata,

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku

lidah seorang murid,

supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat

kepada orang yang letih lesu. (Yes. 50:4)

Matthew Henry menulis bahwa ucapan yang efektif “sesuai dengan situasi, pada waktu dan tempat yang tepat”, dan bahwa kita harus berjuang untuk memberikan “didikan, nasihat, atau penghiburan, yang diberikan sesuai waktunya, dan dengan ekspresi yang tepat, yang sesuai dengan perkara orang yang kepadanya itu dikatakan dan selaras dengan karakter orang yang mengatakannya”. Ini jelas sebuah standar yang tinggi! Namun, kepada orang yang bergumul untuk mengetahui apa yang harus dikatakan, Allah telah memberikan doa yang baik ini:

Kiranya ucapan mulutku dan renungan hatiku

berkenan kepada-Mu,

Ya TUHAN, Gunung Batuku dan Penebusku. (Mzm. 19:15)

Ketika Anda menantikan pertolongan Allah, Anda dapat berkata,

Dengarlah, karena aku akan mengatakan hal-hal yang mulia

dan akan membuka bibirku tentang hal-hal yang benar. (Ams. 8:6)

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
William Boekestein

William Boekestein

Rev. William Boekestein adalah pendeta di Immanuel Fellowship Church di Kalamazoo, Michigan. Ia adalah penulis dari beberapa buku, termasuk The Future of Everything.