Hisop

27 Oktober 2023

Tempat-Tempat Pemujaan (High Places)

01 November 2023

Hisop

27 Oktober 2023

Tempat-Tempat Pemujaan (High Places)

01 November 2023

Sayap Rajawali

Rajawali yang sedang terbang merupakan gambaran keindahan yang damai sekaligus kekuatan yang agung. Tidak heran, bangsa dan kerajaan, baik di zaman kuno maupun zaman modern, telah memakai rajawali sebagai lambang mereka. Tentunya, orang yang akrab dengan Alkitab mengingat bagaimana Allah menopang umat-Nya “di atas sayap rajawali” (Kel. 19:4), dan membuat mereka “seumpama rajawali yang terbang dengan kekuatan sayapnya” (Yes. 40:31). Kata-kata seperti itu menggugah hati kita dan menginspirasi imajinasi nan puitis. Namun, apa sebenarnya artinya? Apakah realitas teologis yang sesungguhnya di balik metafora tersebut di dalam Alkitab? Untuk memahami hal ini secara lebih lengkap, kita perlu menyelidiki lingkup yang lebih luas dari rujukan kata “rajawali” dan “sayap rajawali” di dalam Alkitab.

Sebagai permulaan, rajawali digambarkan sebagai burung pemangsa (Ayb. 39:30-33). Selaras dengan pemikiran ini, cara yang paling umum merujuk kepada rajawali di dalam Alkitab adalah ketika menggambarkan penghakiman yang menghancurkan, cepat, dan tak terhentikan. Penghakiman—biasanya berupa bangsa yang datang menyerang—datang “seperti rajawali yang menyambar” (Ul. 28:49), atau “melesat seperti rajawali” (Yer. 49:22), atau “terbang seperti rajawali yang menyambar mangsa” (Hab. 1:8). Bangsa-bangsa asing yang perkasa di dalam Alkitab (seperti Babel dan Mesir) sering kali digambarkan seperti rajawali (Yeh. 17:3, 7; Dan. 7:4). Jadi, di dalam Alkitab, “sayap rajawali” kerap membawa kehancuran dan kematian yang cepat dan tak terhentikan.

Akan tetapi, pada saat yang sama, rajawali juga digambarkan sebagai pemelihara dan pelindung atas anak-anaknya. Ayub 39:30-33 menggambarkan rajawali sebagai burung pemangsa, tetapi juga menekankan bahwa rajawali tersebut mencari mangsa untuk memberi makan anak-anaknya, yang dengan aman “bersarang di bukit batu … dan di gunung yang sulit didatangi”. Karena itu, rajawali dipakai di dalam Alkitab sebagai metafora untuk pemeliharaan yang lembut dan perlindungan yang pasti dari Allah atas umat-Nya. Tuhan memelihara Israel seperti “biji matanya. Laksana rajawali menggoyang-goyang sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah TUHAN sendiri menuntun umat-Nya, dan tidak ada ilah asing menyertai dia” (Ul. 32:10-12). Jadi, selain menggambarkan penghakiman, “sayap rajawali” juga menggambarkan perlindungan dan pemeliharaan.

Akan tetapi, mungkin gambaran yang paling menonjol dari rajawali tersebut bukanlah keganasan dan kecepatannya dalam menurun menyambar mangsanya, melainkan kenaikannya yang spektakuler ke awan-awan. Burung yang agung itu dapat terbang meninggi sampai ketinggian yang tidak diketahui dengan kekuatan dan keanggunan yang tiada tara. Bagi kebanyakan kita, gambaran rajawali yang melekat bukanlah ketika merobek-robek daging dengan cakar dan paruhnya, tetapi ketika meluncur dengan anggun di antara awan-awan, jauh di atas hiruk-pikuk di bawahnya. Karena itu, burung rajawali digambarkan di dalam Alkitab sebagai sumber pembebasan surgawi (Kel. 19:4; Why. 12:14), suatu gambaran tentang masa muda, kekuatan, dan kebebasan (Mzm. 103:5; Yes. 40:31), dan gambaran kemuliaan dan kejayaan surgawi (Why. 4:7; 8:13).

Jadi, di dalam Alkitab, “sayap rajawali” adalah lambang penghakiman yang keras dan mendadak, perlindungan yang lemah-lembut dan pasti, serta pembebasan dan kemuliaan yang agung. Cakupan gambarannya cukup luas. Namun, kesamaan dari semua gambaran tersebut adalah ide tentang kemenangan yang tidak dapat digagalkan dan pasti. Ketika seekor rajawali turun menyambar mangsanya, penurunannya cepat dan ganas, dan mangsanya tidak dapat bertahan dari serangannya. Ketika anak-anak rajawali ditutupi oleh sayap induknya di sarang yang tinggi, anak-anak tersebut benar-benar aman. Tidak ada musuh yang dapat menjangkau tempat itu. Ketika rajawali itu terbang dan melayang tinggi di antara awan-awan, hal itu dilakukan seperti semacam kenaikan yang penuh kemenangan.  Tidak ada yang dapat mencapai ketinggian tersebut.  Keadaannya aman, tenteram, dan penuh keagungan. Kita bisa berharap dapat menangkap sekilas burung yang perkasa ini ketika terbang, tetapi kita tidak akan benar-benar dapat menangkapnya.

Begitu pula dengan karya Tuhan kita. Ketika Ia datang untuk menghakimi musuh-musuh-Nya, tidak seorang pun dapat bertahan. Ia menyambar musuh-musuh-Nya dengan cepat, ganas, dan kuat, dan tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka. Ketika Ia mengamankan kediaman kekal bagi umat-Nya dan melingkupi mereka dengan perlindungannya, kita pun benar-benar aman. Tidak ada yang dapat melukai kita di sana. Ketika Ia mengangkat dan menopang roh kita dalam masa-masa sukar, tidak seorang pun dapat menjatuhkan kita. Ketika Ia menyelamatkan, Ia melakukan sampai yang maksimal, dengan kemenangan mutlak dan tanpa batasan. Melalui iman kepada Kristus, Tuhan mengumpulkan kita untuk “terbang ke dunia yang tidak kita kenal”. Harapan ultima kita di bumi adalah keselamatan yang agung, pasti, dan surgawi dari Allah kita.


Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Aaron D. Messner

Aaron D. Messner

Rev. Aaron D. Messner adalah pendeta senior di Westminster Presbyterian Church di Atlanta.