
4 Implikasi dari Teologi Martin Luther
04 Juli 2023
5 Hal yang Harus Anda Ketahui tentang Pembenaran
11 Juli 20235 Kebenaran tentang Roh Kudus
Yesus berkata: “Tetapi, benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab, jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (Yohanes 16:7). Sekarang, saya bukan hendak melakukan sesuatu yang sia-sia dengan memberikan informasi yang sudah Anda tahu, jadi izinkan saya untuk memberikan sedikit latar belakang tentang ayat ini. Anda tahu bahwa kata Yunani yang diterjemahkan di sini sebagai “Penolong” adalah parakletos. Dalam bentuk teknisnya, kata ini memiliki dimensi hukum; kata ini merujuk kepada seseorang yang akan menjadi seorang pengacara. Dalam konteks yang lebih luas, kata ini berbicara tentang penghiburan, perlindungan, nasihat, dan bimbingan. Yesus juga berbicara tentang Roh sebagai Penolong dalam Yohanes 14 dan memperkenalkan-Nya sebagai “Roh Kebenaran” (Yohanes 14:17; 16:13).
Saya pikir lebih baik saya dengan lugas mengatakan beberapa hal mengenai identitas Penolong ini dengan sedikit saja hiasan.
Pertama, kita perlu memperhatikan bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang unik dan bukan sekadar kuasa atau pengaruh. Ia disebut sebagai “Dia,” bukan sebagai “itu.” Ini adalah hal yang penting karena jika Anda mendengarkan dengan saksama pada pembicaraan orang-orang, bahkan di dalam jemaat Anda sendiri, Anda mungkin mendengar Roh Kudus dirujuk dengan kata ganti netral. Anda bahkan mungkin mendapati diri Anda melakukannya. Jika Anda melakukannya, saya harap Anda segera menggigit lidah Anda. Kita harus memahami bahwa Roh Allah, pribadi ketiga dari Tritunggal, adalah personal. Sebagai seorang pribadi, Ia dapat didukakan (Ef. 4:30), Ia dapat dipadamkan dalam hal pelaksanaan kehendak-Nya (1 Tes. 5:19), dan Ia dapat ditentang (Kis. 7:51).
Kedua, Roh Kudus adalah satu dengan Bapa dan dengan Anak. Dalam istilah teologis, kita mengatakan bahwa Ia adalah sama-setara (co-equal) dan juga sama-kekal (co-eternal). Ketika kita membaca seluruh Pengajaran di Ruang Atas, kita menemukan bahwa Bapa dan juga Anak yang akan mengutus Roh (Yohanes 14:16; 16:7), dan Roh datang dan bertindak, boleh dikatakan, untuk Keduanya. Jadi, aktivitas Roh tidak pernah diberikan kepada kita di dalam Kitab Suci terpisah dari pribadi dan karya Kristus atau terpisah dari kehendak kekal Bapa. Setiap usaha untuk memikirkan Roh dalam istilah-istilah yang sepenuhnya mistis dan terpisah dari Kitab Suci akan membawa kita ke berbagai macam jalan samping dan pada akhirnya menuju jalan buntu.
Ketiga, Roh Kudus adalah agen penciptaan. Dalam kisah penciptaan di bagian paling awal Alkitab, kita diberi tahu: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong. Gelap gulita meliputi samudera semesta, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:1-2). Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “Roh” di sini adalah ruach, yang juga dapat berarti “napas”. Ruach elohim, “Napas dari Yang Maha Kuasa,” adalah sang agen dalam penciptaan. Bukan ketiadaan materi dari Roh yang dimaksudkan di sini, melainkan kuasa dan energi-Nya; gambaran energi Allah yang menghembuskan ciptaan, boleh dikatakan, menciptakan dunia dengan berfirman, menempatkan bintang-bintang di angkasa. Jadi, ketika kita membaca Yesaya 40:26 dan diajukan pertanyaan, “Siapa yang menciptakan semua bintang itu …?”, kita mendapatkan jawabannya dalam Kejadian 1:2 –Roh adalah kuasa yang tidak dapat ditolak yang dengannya Allah mencapai tujuan-Nya.
Sementara itu, salah satu pertanyaan dalam ranah akademis Perjanjian Lama adalah sejauh mana kita dapat menemukan Allah Roh Kudus sebagai pribadi yang berbeda dari Perjanjian Lama. Dengan kata lain, dapatkah kita memahami natur dari hipostasis-Nya di dalam Perjanjian Lama saja? Ketika kita membaca Kejadian 1, tidaklah sulit untuk melihat bahwa di dalam ayat kedua, tentu saja dalam terang semua yang telah diwahyukan setelahnya, kita memiliki referensi yang jelas dan khas pada pribadi ketiga dari Tritunggal.
Dalam bukunya The Holy Spirit, Sinclair B. Ferguson mencatat bahwa jika kita mengenali Roh ilahi dalam Kejadian 1:2, hal ini menyediakan apa yang beberapa orang sebut sebagai mata rantai yang hilang dalam Kejadian 1:26, di mana Allah berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Ferguson mengamati bahwa ini adalah referensi yang jelas pada bagian sebelumnya, pada Roh Allah yang berkarya dalam Kejadian 1:1-2.
Omong-omong, isu ini mengingatkan kita, bahwa adalah berguna untuk membaca Alkitab kita dengan dari belakang ke depan. Ketika kita membaca dari belakang ke depan, kita menemukan kebenaran dari prinsip penafsiran klasik yang dikaitkan dengan Agustinus: “[Perjanjian] Baru tersembunyi di dalam [Perjanjian] Lama, dan yang Lama dinyatakan di dalam yang Baru.” Dengan kata lain, kita menemukan implikasi dari ajaran-ajaran dan peristiwa-peristiwa yang terjadi lebih awal di dalam Kitab Suci.
Keempat, Roh Kudus adalah agen bukan hanya dari penciptaan, tetapi juga dari ciptaan baru Allah di dalam Kristus. Dia adalah pemrakarsa dari kelahiran baru. Kita melihat hal ini dalam Yohanes 3, dalam pertemuan klasik antara Yesus dengan Nikodemus, di mana Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yohanes 3:5). Kebenaran ini, tentu saja, dijelaskan di seluruh bagian lainnya dalam Kitab Suci.
Kelima, Roh Kudus adalah penulis Kitab Suci. 2 Timotius 3:16 memberi tahu kita, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah.” Kata Yunani di balik frasa ini adalah theopneustos, yang berarti “dinapaskan oleh Allah.” Dalam penciptaan, kita memiliki Roh yang menghembuskan energi-Nya, melepaskan kuasa Allah dalam tindakan penciptaan. Kita memiliki hal yang sama dalam tindakan penebusan, dan kita melihatnya lagi dalam tindakan ilahi yang memberikan kepada kita catatan tersebut di dalam Kitab Suci itu sendiri. Doktrin inspirasi sepenuhnya terkait pada karya Allah Roh Kudus. Petrus menegaskan pandangan ini dengan menulis, “Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Petrus 1:21). Orang-orang yang menulis kitab-kitab dalam Alkitab bukan sedang menciptakan sesuatu. Mereka juga bukan robot. Mereka adalah orang-orang yang nyata, dalam waktu sejarah yang nyata, dengan DNA yang nyata, yang menulis sesuai dengan latar belakang sejarah dan kepribadian mereka. Akan tetapi kepenulisan Kitab Suci bersifat ganda. Sebagai contoh, kitab Yeremia adalah tulisan Yeremia dan juga Allah, karena Yeremia dipilih dan dituntun. Bahkan, dalam kasus Yeremia, Allah berkata, “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku dalam mulutmu” (Yeremia 1:9). Dia bertindak demikian tanpa melanggar kepribadian Yeremia yang unik, dan Yeremia kemudian menuliskan persis Firman Allah. Inilah alasan mengapa kita mempelajari Alkitab—karena ini adalah buku yang ada sebagai hasil dari hembusan Roh Kudus.
Mengenai identitas Sang Penolong, kita dapat melanjutkannya tanpa henti, tetapi kita harus selektif ketimbang menyeluruh. Identitasnya adalah sebagai “Penolong yang lain.” Kata yang diterjemahkan sebagai “yang lain” di sini adalah allos, bukan heteros. Yesus menjanjikan seorang Penolong dari jenis yang sama dan bukan jenis yang berbeda. Roh Kudus adalah parakletos, Dia yang menyertai. Yesus berkata bahwa Ia akan “menyertai kamu selama-lamanya . . . Ia menyertai kamu dan akan tinggal di dalam kamu” (Yohanes 14:16-17). Dengan kata lain, pelayanan-Nya bersifat permanen dan juga personal.
Cuplikan ini diadaptasi dari kontribusi Alistair Begg pada Holy, Holy, Holy: Proclaiming the Perfections of God.


