Mengapa Karakter Itu Penting dalam Pelayanan?

22 Juli 2026

Bagaimana Cara Saya Dapat Bicara dengan Hikmat?

27 Juli 2026

Mengapa Karakter Itu Penting dalam Pelayanan?

22 Juli 2026

Bagaimana Cara Saya Dapat Bicara dengan Hikmat?

27 Juli 2026

Siapakah Abraham?

Bapa leluhur Abraham, yang hidup sekitar tahun 2000 SM, adalah salah satu tokoh terpenting dalam sejarah Alkitab. Digambarkan sebagai orang yang memiliki iman yang luar biasa, Abraham ada dalam pusat rencana penebusan Allah. Sebagai bagian integral dari silsilah orang benar di dalam kitab Kejadian, ia menerima janji Allah yang mengantisipasi berkat bagi bangsa-bangsa melalui pembentukan garis keturunan raja, yang akan mencapai puncaknya pada kedatangan Yesus Kristus.

Kehidupan Abraham Dibentuk oleh Janji Allah

Kisah Abraham dimulai pada Kejadian 11, di mana ia dikenal sebagai Abram, anak Terah, yang tinggal di Ur Kasdim. Setelah Allah memanggilnya, Abram memulai perjalanan yang akan memiliki signifikansi mendalam bagi seluruh umat manusia. Panggilan khusus ini, yang dicatat dalam Kejadian 12:1-3, mencapai puncaknya dengan jaminan luar biasa bahwa seluruh kaum di muka bumi akan diberkati melalui Abram.

Dengan ketaatan yang setia, Abraham meninggalkan lingkungan yang dikenalnya untuk menjelajah hal-hal yang tidak diketahui. Ini menandai awal dari sebuah hubungan yang mendalam dengan Allah. Melalui nabi Yesaya, Allah dengan penuh perasaan menyebut bapa leluhur ini sebagai “Abraham, yang Kukasihi” (Yes. 41:8).

Kisah hidup Abraham penuh dengan tantangan, pengembaraan, dan perjumpaan ilahi. Ia melakukan perjalanan ke Kanaan, mengalami bencana kelaparan, singgah di Mesir, dan menjalani berbagai hubungan yang rumit dengan orang-orang di sekitarnya. Ia menjalin hubungan dengan raja-raja, tetapi memelihara gaya hidup semi-nomadik, mendorong penulis kitab Ibrani mengklaim bahwa Abraham “menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah” (Ibr. 11:10).

Istrinya, Sarai (di kemudian hari dipanggil Sara), mengalami kemandulan, yang menyebabkan ketegangan dan sakit hati. Allah meyakinkan kembali Abraham bahwa keturunannya akan menjadi sebanyak bintang di langit dan pada akhirnya akan memiliki tanah Kanaan (Kej. 15). Namun, seiring waktu berlalu, Sarai tetap mandul. Karena tidak sabar, Sarai memberikan hambanya, Hagar kepada Abram, dan melalui dia, lahirlah Ismael (Kej. 16). Namun, Allah menegaskan bahwa ahli waris sah Abraham akan lahir melalui Sara.

Kelahiran Ishak, anak yang dijanjikan itu, menandai momen kunci di dalam kitab Kejadian. Namun, iman Abraham diuji ketika Allah memerintahkannya untuk mempersembahkan Ishak sebagai kurban (Kej. 22). Kesediaan Abraham untuk taat, bahkan terhadap perintah yang begitu menghancurkan hati seperti ini, menunjukkan imannya kepada Allah. Pada detik-detik terakhir, Allah mengintervensi, menyediakan seekor domba jantan untuk dikurbankan, dan meneguhkan perjanjian-Nya dengan Abraham bahwa segala bangsa di muka bumi akan diberkati melalui salah satu keturunannya (Kej. 22:18). Kehidupan Abraham bukannya tanpa cacat. Kitab Kejadian mencatat saat-saat keraguan, penipuan, dan ambiguitas moral. Meski begitu, imannya yang teguh kepada janji Allah mencirikan legasinya yang terus bertahan.

Bapa Banyak Bangsa: Perjanjian Sunat

Salah satu perjumpaan dengan Allah yang paling penting dalam kehidupan Abraham adalah peneguhan perjanjian sunat (Kej. 17). Inti dalam perjanjian ini adalah janji Allah untuk menjadikan Abraham “bapa banyak bangsa”—sebuah janji yang berkonotasi kerajaan. Sebelumnya, Allah telah menjamin melalui perjanjian lain bahwa Abraham akan menjadi bapa dari satu bangsa, dan keturunan biologisnya akan memiliki tanah Kanaan (Kej. 15). Secara signifikan, perjanjian sunat memperluas kebapaan Abraham secara metaforis untuk mencakup banyak bangsa. Abraham akan menjadi bapa rohani mereka. Orang-orang yang beriman seperti Abraham akan menjadi anak-anaknya (Gal. 3:1-9).

Di dalam Kejadian 17, Allah menyuruh Abraham menyunat setiap laki-laki dalam rumahnya, termasuk mereka yang dibeli dari orang asing, sebagai “tanda perjanjian” (Kej. 17:10–14). Dilihat dengan latar belakang dari pasal-pasal awal di dalam kitab Kejadian, sunat berfungsi sebagai pengingat terus-menerus akan janji Allah bahwa garis keturunan unik yang ditelusuri melalui Abraham, Ishak, dan Yakub akan mencapai puncaknya pada seorang raja yang akan mengalahkan kekuatan jahat dan melimpahkan berkat kepada bangsa-bangsa dengan mendirikan Kerajaan Allah di bumi. Dengan mengingat semua ini, Injil Matius menyoroti bagaimana janji yang diberikan kepada Abraham tergenapi di dalam Yesus, dengan memulai dari garis keturunan raja yang dapat ditelusuri kembali kepada Abraham (Mat. 1:1-17).

Kebenaran melalui Iman: Legasi Abraham yang bertahan

Kisah kehidupan Abraham menggambarkan konsep kebenaran yang diimputasi melalui iman. Kejadian 15:6 menyatakan bahwa “Abraham pun percaya kepada TUHAN, dan TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Ayat ini menjadi landasan utama bagi refleksi teologis di kemudian hari, khususnya dalam tulisan-tulisan Paulus, di mana Abraham dilihat sebagai teladan iman (Rm. 4).

Bukan pencapaian atau kesempurnaan Abraham yang menjamin status kebenarannya di hadapan Allah, melainkan imannya kepada firman Allah dan kesediaannya bertindak berdasarkan iman itu. Pemahaman radikal tentang kebenaran ini, yang berakar pada iman daripada ketaatan kepada Taurat, tetap menjadi prinsip panduan bagi para pengikut Yesus Kristus.

Namun iman Abraham bukanlah iman yang pasif, melainkan menuntunnya untuk bertindak benar. Kesediaannya meninggalkan kampung halamannya, memercayai janji yang tidak terlihat, dan mempersembahkan anak yang ia kasihi sesuai dengan perintah Allah menyingkapkan iman yang dibuktikan oleh apa yang dicapainya (lihat Yak. 2:20-24). Abraham berdiri sebagai teladan bukan hanya berkaitan dengan kebenaran yang diimputasikan melalui iman, tetapi juga hidup yang dibentuk oleh ketaatan yang diinspirasikan oleh iman terhadap perintah-perintah Allah.

Kesimpulan

Abraham adalah tokoh yang hidupnya terus berdampak secara signifikan. Kisahnya lebih dari sekadar kisah yang jauh; ini adalah hubungan antara Allah dan bapa leluhur yang memegang peran kunci dalam rencana penebusan Allah bagi dunia. Sebagai penerima janji-janji Allah yang akan digenapi di dalam Yesus Kristus dan teladan kebenaran yang didapatkan melalui iman, legasi Abraham terus menginspirasi, menantang, dan menyatukan orang-orang yang tak terhitung jumlahnya dari berbagai suku dan bangsa.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
T. Desmond Alexander

T. Desmond Alexander

Dr. T. Desmond Alexander adalah dosen senior di bidang Studi Biblika dan direktur studi pascasarjana di Union Theological College di Belfast, Irlandia Utara. Ia adalah ko-editor The New Dictionary of Biblical Theology, dan penulis beberapa buku, termasuk From Paradise to the Promised Land dan From Eden to the New Jerusalem.