
Apa itu Sembilan Puluh Lima Dalil?
02 September 2026Praktik-Praktik Injil di Masa-Masa Sulit
Istilah “sarana anugerah” merujuk pada pertolongan atau sarana yang diberikan Allah kepada umat-Nya untuk menguatkan mereka dalam perjalanan ziarah mereka di dunia ini. Ada sesuatu yang sangat berharga tentang fakta bahwa Allah mengetahui kelemahan kita dan, dalam belas kasihan-Nya yang sangat berlimpah, berkenan turun kepada kita untuk menyediakan seperangkat “tongkat penopang” rohani guna membantu kita dalam perjalanan kita.
Seperti bapak sayang kepada anak-anaknya,
demikian TUHAN sayang kepada orang yang takut akan Dia.
Sebab Dia tahu dari apa kita dibentuk,
Dia ingat bahwa kita ini debu. (Mzm. 103:13–14)
Gereja-gereja Reformed secara khusus menekankan tiga sarana anugerah: doa, Firman Allah, dan sakramen. Doa adalah saluran yang diberikan Allah yang melaluinya kita menyampaikan kebutuhan dan kebergantungan kita kepada Allah, melalui iman dalam Yesus Kristus, dengan harapan bahwa Ia akan memenuhi “segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:19). Doa mendapatkan landasannya pada Firman, baik dalam pembacaan maupun pendengaran akan Kitab Suci, tetapi terutama dalam khotbah yang setia, ketika Kristus menyatakan diri-Nya kepada kita melalui pelayanan orang-orang yang diutus untuk memberitakan pesan keselamatan (Rm. 10:14–17). Firman itu kemudian diteguhkan ke dalam hati kita melalui sakramen baptisan dan Perjamuan Kudus, yang terus menerapkan janji-janji Firman ke dalam hati kita dan meyakinkan kita, ketika Roh Kudus bekerja secara personal di dalam diri kita dan secara komunal di dalam gereja, bahwa Allah ada bersama kita. Ia tidak akan pernah mengabaikan kita atau meninggalkan kita, karena kita adalah anak-anak-Nya yang tidak pernah dapat direbut dari tangan-Nya yang maha kuasa (Ibr. 13:5–6; Yoh. 10:28–29).
Bagaimana Sarana Anugerah Menolong Kita untuk Berharap pada Kristus
Allah memberi kita sarana anugerah karena kita membutuhkannya. Ibadah dalam perjanjian yang lama merupakan cara mendekat kepada Allah yang lebih kelihatan dan jasmaniah—yang terdiri dari apa yang Rasul Paulus sebut sebagai unsur-unsur “yang lemah dan miskin” (Gal. 4:9). Sistem Kemah Suci memberikan kepada umat Allah tipe dan bayang-bayang di bumi yang memampukan mereka untuk melihat sekilas realitas surgawi yang akan digenapi dalam inkarnasi, kehidupan tanpa dosa, kematian yang menebus, dan kebangkitan yang mulia dari Yesus Kristus.
Dalam perjanjian yang baru, kini kita memiliki Kristus, substansi dari segala yang dijanjikan kepada umat Allah saat mereka masih berada di bawah tuntunan Taurat (Gal. 3:24–25). Kini, setelah Kristus datang dan memulai pemerintahan-Nya sebagai perantara sebagai Nabi, Imam, dan Raja di sebelah kanan Allah, kita tidak lagi memerlukan bentuk ibadah yang begitu terikat pada ciptaan lama, yang sedang berlalu. Ibadah kita mengangkat kita kepada Kristus di surga, yang mempersiapkan kita untuk ciptaan baru yang akan kita masuki ketika Tuhan kita kembali dalam kemuliaan (Kol. 3:1–4). Namun, sementara kita menantikan hari yang agung itu, kita melakukannya sebagai orang yang belum memperoleh hal-hal tersebut (Flp. 3:12–16). Kita tetaplah makhluk yang mengeluh di tengah dunia yang mengeluh, sekalipun kita menanti dengan penuh kerinduan akan kepenuhan dari apa yang telah dijanjikan kepada kita: penebusan tubuh kita (Rm. 8:18–23). Namun, saat kita mengeluh dan menanti, kita memiliki janji bahwa Allah akan memberikan Roh-Nya kepada kita untuk menolong kita dalam kelemahan kita (Rm. 8:26).
Kita lemah karena kita adalah manusia. Bahkan Yesus, Manusia yang sempurna, bergantung pada Bapa-Nya dan membutuhkan sarana anugerah. Yesus bersandar pada Roh Kudus dalam penggunaan-Nya yang tanpa dosa atas sarana anugerah tersebut, dan Allah menguatkan serta menopang Anak-Nya dalam karya-Nya untuk mengamankan penebusan kita. Yesus kini adalah Imam Besar kita yang penuh pengertian, yang kepada-Nya kita dapat mendekat dengan penuh keyakinan untuk mencari pertolongan pada waktunya (Ibr. 4:15–16). Ia memiliki kelemahan fisik manusia dan ketergantungan pada Allah seperti kita, tanpa turut mengambil bagian dalam kelemahan moral dosa. Allah telah menjanjikan Roh-Nya untuk menolong kita dalam kelemahan kita juga (Rm. 8:26). Ia telah memberikan segala yang kita butuhkan untuk hidup bagi-Nya dan bagi kemuliaan-Nya di dunia ini.
Oleh karena itu, sarana anugerah adalah cara Allah untuk memberikan bantuan yang kita butuhkan dalam menjalani perlombaan iman. Kita membutuhkannya bukan hanya karena kita adalah manusia, tetapi karena kita adalah orang berdosa. Kita membutuhkannya karena kita hidup di dunia yang masih mengeluh di bawah dampak kejatuhan Adam dan karena kita terus tergoda untuk melupakan Allah serta meninggalkan Kristus. Allah mengenal kita, dan pengenalan-Nya akan kita adalah pengenalan yang penuh kasih, pengenalan seorang Bapa. Ia mengenal kita begitu baik dan mengasihi kita begitu dalam sehingga Ia menyediakan sarana bagi kita untuk mengingat-Nya di tengah kelemahan kita dan untuk kembali kepada-Nya bahkan ketika kita berulang kali jatuh ke dalam jurang kesengsaraan dan dosa yang paling dalam. Jika Anda seperti saya, Anda tahu bagaimana rasanya “cenderung untuk menyimpang—cenderung meninggalkan Allah yang kukasihi.”
Dalam masa-masa sulit, pencobaan, kehilangan, dan kedukaan, bagaimana Anda tetap berpegang pada Allah yang tak terlihat? Dengan meyakinkan diri Anda sendiri, melalui doa, membaca dan mendengarkan Firman, serta melalui sakramen-sakramen, bahwa Allah tetaplah Allah Anda, bahwa Kristus tetap bersyafaat bagi Anda di surga, dan bahwa Roh Kudus tetap bekerja di dalam hati Anda. Karena itu, bersukacitalah, bahkan di tengah penderitaanmu, karena melalui semuanya itu, Bapamu yang di surga sedang menumbuhkan dalam dirimu sebuah pengharapan yang tidak akan mengecewakan (Rm. 5:3–5).


