Mengapa Yesus Disebut Adam Terakhir?

28 Agustus 2026

Mengapa Yesus Disebut Adam Terakhir?

28 Agustus 2026

Rasa Hormat kepada Allah

Penulis surat Ibrani berkata, “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak terguncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takjub (LAI: takut). Sebab, Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibr. 12:28–29). Kata Yunani yang digunakan untuk “hormat” adalah eulabeia. Kata ini berarti “rasa takjub yang penuh hormat di hadapan Allah” dan digunakan untuk menggambarkan rasa takut yang kudus akan Allah. Penulis surat Ibrani menekankan bahwa rasa hormat ini seharusnya mendefinisikan ibadah kita kepada Allah, bahkan sebagai orang percaya dalam perjanjian baru.

Penulis menggunakan kata ini satu kali lagi, dalam Ibrani 5:7. Ini adalah kemunculan kata tersebut secara mengejutkan karena ia menggunakannya untuk menggambarkan tindakan Tuhan Yesus Kristus: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena rasa hormat-Nya (LAI: kesalehan-Nya) Ia telah didengarkan”—karena eulabeia-Nya. Yesus Kristus adalah Anak Allah yang kekal. Ia telah bersama Allah Bapa sejak kekekalan. Ia dan Bapa adalah satu: “Pada mulanya sudah ada Firman, Firman itu bersama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1).

Meskipun demikian, penulis surat Ibrani mengatakan bahwa sepanjang pelayanan-Nya, Yesus mendekati Bapa dengan “rasa hormat.” Rasa hormat-Nya terhadap Allah mendefinisikan interaksi-Nya dengan Bapa. Ia didengarkan karena rasa takjub-Nya yang kudus terhadap Allah. Hal ini memberi kita pemahaman yang mendalam tentang bagaimana Tuhan Yesus menjalani hidup-Nya. Ia hidup coram Deo—dengan visi yang sangat besar tentang Allah. Ia tidak pernah kehilangan visi tentang Allah itu. Visi itu tidak pernah luput dari pandangan-Nya, dan tidak ada rintangan yang pernah menutupinya. Tidak ada orang Farisi atau Saduki yang pernah menghalanginya. Iblis sendiri pun tidak dapat meredupkannya. Visi akan Allah itu berkobar dalam seluruh hidup Yesus.

Jika demikian cara Tuhan Yesus mendekati Bapa, kita pun harus mendekati Allah dengan rasa hormat dan takjub (LAI: takut) semacam ini (Ibr. 12:28). “Takjub” berarti kita gemetar atas Allah yang menakjubkan ini. Kita sering menggunakan kata “takjub”, tetapi sebenarnya kata itu seharusnya disimpan untuk hal yang paling menakjubkan—yaitu, Allah—karena “Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibr. 12:29). Kapan terakhir kali Anda mendengar Allah digambarkan sebagai “api yang menghanguskan” dalam khotbah atau dalam pertemuan pemuridan? Kita begitu terbiasa berfokus pada Allah yang imanen (dekat) yang menghibur kita sehingga kita cenderung melupakan transendensi dan kekudusan-Nya. Dia berada di luar ruang dan waktu. Dia kudus, maha kuasa, kekal, adil, dan maha dahsyat. Dia adalah “api yang menghanguskan.”

Mungkin penulis surat Ibrani sedang memikirkan penampakan Allah kepada Musa di gunung agung Allah, Gunung Sinai. Menurut Keluaran 24:12–13:

TUHAN berfirman kepada Musa, “Naiklah menghadap Aku di atas gunung, dan tunggulah di sana. Aku akan memberikan kepadamu loh batu berisi hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka.” Lalu bersama Yosua, abdinya, Musa naik ke gunung Allah itu.

Selebihnya dari bangsa Israel tidak diizinkan naik ke gunung itu. Mereka memasang pembatas-pembatas di sekeliling seluruh gunung itu yang pada dasarnya berfungsi sebagai tanda “Dilarang Masuk”. Para tua-tua diizinkan untuk mendekat hingga titik tertentu, tetapi bahkan mereka pun tidak diizinkan naik ke gunung itu. Jika ada yang melanggar batas-batas tersebut, ia akan dibinasakan oleh Allah.

Teks tersebut berbunyi: “Pada waktu Musa mendaki gunung, awan menutupi gunung itu. Kemuliaan [kabod] TUHAN bersemayam di atas Gunung Sinai” (Kel. 24:15–16). Secara harfiah, kehadiran Allah yang berat berdiam di gunung itu. Kemuliaan ini begitu transenden dan begitu kudus sehingga sulit bahkan untuk membayangkan seperti apa rupanya. “Dan awan menutupi gunung itu selama enam hari. Pada hari ketujuh Ia memanggil Musa dari dalam awan itu” (Kel. 24:16). Kemudian teks tersebut mengatakan, “Kemuliaan TUHAN di puncak gunung tampak seperti api yang menghanguskan” (Kel. 24:17).

Manifestasi Allah berupa api yang menghanguskan—yang membakar puncak gunung. Luar biasanya, Musa masuk ke dalam awan api itu selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Gambaran tentang Allah itulah yang penulis surat Ibrani ingin kita pikirkan—perjumpaan yang menakjubkan dengan Allah yang kudus. Karena itulah, kita mendekati Allah melalui Imam Besar Agung kita, Tuhan Yesus Kristus. Namun, kita tetap mendekati-Nya dengan rasa hormat dan takjub.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Grant R. Castleberry

Grant R. Castleberry

Pdt. Grant R. Castleberry adalah pendeta senior di Capital Community Church di Raleigh, North Carolina, dan mahasiswa program Ph.D. dalam bidang sejarah gereja dan teologi sistematika di The Southern Baptist Theological Seminary di Louisville, Kentucky.