
Apa yang Terjadi pada Jiwa Anda Saat Anda Meninggal?
19 Agustus 2026
Dia Memelihara Kita
24 Agustus 2026Apa itu Keluarnya Roh Kudus?
Kami percaya pada Roh Kudus, Tuhan dan Pemberi hidup; yang keluar dari Bapa dan Anak; yang bersama dengan Bapa dan Anak disembah dan dimuliakan; yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi. (Pengakuan Iman Nikea)
Pengakuan Iman Nikea
Pengakuan iman ini berasal dari Konsili Konstantinopel (381), yang menyelesaikan krisis tentang doktrin Tritunggal. Beberapa di antara ciri-ciri khasnya adalah pernyataan-pernyataannya mengenai Roh Kudus, termasuk penyebutan tentang keluarnya Roh Kudus dari Bapa.
Pengakuan ini menyatakan bahwa Roh Kudus adalah “Tuhan dan Pemberi hidup,” dan karenanya turut serta, bersama Bapa dan Anak, dalam karya penciptaan. Ia “berbicara dengan perantaraan para nabi,” dan dengan demikian merupakan Penulis utama Kitab Suci. Sebagai sepenuhnya Allah, Ia harus disembah dan dipuja bersama dengan Bapa dan Anak dalam satu tindakan penyembahan yang tak terpisahkan. Singkatnya, ada satu Allah yang tak terpisahkan, dalam tiga subsistensi atau pribadi, yang berbeda tetapi tidak terpisah.
Dalam pengakuan ini terdapat pernyataan bahwa Roh Kudus “keluar dari Bapa dan Anak.” Ini merujuk pada hubungan antarpribadi dalam Tritunggal yang tak terpisahkan. Bapa adalah sumber subsistensi pribadi dari Anak dan Roh Kudus, sementara ketiganya adalah setara dan sepenuhnya merupakan Allah satu-satunya yang tak terpisahkan.
Seberapa pentingkah hal ini? Tahun berikutnya, Sidang Raya Roma mengeluarkan pernyataan mengenai hal tersebut dalam surat sinodalnya, sehingga tidak ada keraguan lagi. Roh Kudus, bersama Bapa dan Anak, adalah “satu keberadaan, tidak dicipta, dan dari keberadaan yang identik dan Tritunggal yang kekal.” Serangkaian anatema yang dikeluarkan memperkuat poin ini. Anatema-anatema ini ditujukan kepada siapa pun yang menyangkal, di antara lainnya, bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa. Penyangkalan yang demikian merupakan suatu bidah dan penyimpangan dari Injil. Anatema serupa juga dinyatakan terhadap siapa pun yang menyangkal kemahatahuan dan kemahahadiran Roh Kudus, mengatakan bahwa Roh Kudus diciptakan, atau menyangkal bahwa segala sesuatu diciptakan melalui Anak dan Roh Kudus. Singkatnya, Sidang Raya—dan gereja sejak saat itu—menganggap keilahian Roh Kudus dan keluar-Nya dari Bapa sebagai inti dari Injil dan sangat penting bagi pengenalan akan Allah.
Apakah keluarnya Roh Kudus alkitabiah?
Jika Anda menginginkan ayat bukti, dalam Yohanes 15:26 Yesus menyatakan bahwa Roh Kudus “yang akan Kuutus kepadamu dari Bapa . . . keluar dari Bapa.” Hal ini menunjukkan adanya hubungan kekal di dalam Tritunggal antara Bapa dan Roh Kudus. Dari sini, dalam sejarah manusia, Bapa, bersama dengan Anak, mengutus Roh Kudus pada hari Pentakosta (Yoh. 14:16, 21, 23, 26; 15:26; 16:7; Kis. 2:29–33). Sekali lagi, hal ini berkaitan dengan hubungan antarpribadi dalam Tritunggal; ini tidak dan tidak dapat memisahkan Tritunggal.
Keluarnya Roh Kudus memberitahukan kepada kita bahwa Ia memiliki hakikat yang sama dengan Bapa. Hal ini menunjuk pada suatu hubungan yang dinamis; keluarnya Roh Kudus menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Roh yang memberi hidup (Yoh. 6:63; Rm. 8:2, 9–11), bahkan sebagaimana Anak adalah hidup (Yoh. 1:4; 11:25–26; 20:31). Allah sungguh penuh dengan kehidupan.
Namun, doktrin ini juga tak dapat dijelaskan. Salah satu pernyataan yang terus-menerus diulang oleh para Bapa-bapa Gereja Mula-mula adalah bahwa keluarnya Roh Kudus tidak dapat dijelaskan. Memang, untuk memahami apa yang terjadi, kita haruslah menjadi Allah. Sebaliknya, ini adalah kebenaran yang harus diakui, karena hal itu memperhadapkan kita pada kenyataan yang tak terelakkan bahwa kita adalah makhluk ciptaan. Sebagaimana ditulis Calvin dalam konteks serupa, ini adalah misteri untuk dipuja ketimbang diselidiki.
Kontroversi Filioque
Seandainya hanya itu yang perlu kita katakan, hidup akan jauh lebih sederhana. Namun, masalah dan perbedaan pendapat muncul tak lama setelahnya. Meskipun Pengakuan Iman Nikea yang asli hanya menyatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa, Gereja Latin mulai menambahkan kata filioque, “dan dari Anak,” ke dalam Pengakuan Iman Nikea, dengan demikian mengklaim bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak. Pengakuan iman tersebut tidak menyangkal hal ini, tetapi juga tidak secara eksplisit menyebut Anak.
Karena Gereja Yunani berpendapat bahwa Bapa adalah sumber subsistensi pribadi dari Anak dan Roh Kudus, penambahan kata filioque dipandang sebagai ancaman terhadap kedudukan Bapa dalam Tritunggal. Umat Latin (gereja yang darinya lahir Protestan) menganggap bahwa Anak adalah satu dengan Bapa dan bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Anak, termasuk menjadi sumber Roh Kudus bersama dengan Bapa. Di mata mereka, umat Yunani tidak memberikan tempat yang semestinya terhadap kedudukan Anak dalam Tritunggal, maupun penjelasan yang tepat mengenai hubungan antara Roh dan Anak. Umat Yunani sendiri bersedia mengakui bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa melalui Anak karena, bagi mereka, kisah pembaptisan Yesus dalam kitab-kitab Injil merupakan hal yang sangat penting. Namun, mereka menolak filioque. Pada tahun 1054, perbedaan tersebut begitu tajam sehingga hubungan antara Gereja Barat (Latin) dan Gereja Timur (Yunani) terputus.
Apakah ini merupakan perselisihan yang tidak perlu? Pada akarnya, hal ini penting bagi kedua belah pihak karena berkaitan dengan pemahaman kita tentang siapa Allah. Doktrin itu penting, dan sering kali konsekuensi yang tidak menyenangkan terjadi karena adanya perbedaan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir telah ada berbagai upaya untuk menengahi kesepakatan. Meskipun beberapa di antaranya menuai kritik, sudah muncul kesadaran bahwa perselisihan ini sama-sama berkaitan dengan perbedaan sudut pandang maupun perbedaan substansi.
Apakah ini berarti kita harus menghilangkan filioque saat mengucapkan Pengakuan Iman Nikea? Saran saya tidak, karena Kristus adalah inti dari Injil, sedangkan pelayanan Roh Kudus berpusat pada Kristus, demi kemuliaan Bapa.
Kesimpulan
Bagi sebagian pembaca, Pengakuan Iman Nikea itu sendiri mungkin asing. Ini perlu berubah. Pengakuan Iman Nikea merupakan akar yang mendasari apa yang kita percayai, karena pengakuan iman ini merangkum apa yang telah selalu dipercayai oleh umat Kristen. Membuang Pengakuan Iman Nikea berarti meninggalkan kristalisasi penafsiran Alkitab dari seluruh Gereja Kristen. Pengakuan Iman Nikea “harus diterima dan diyakini sepenuhnya, karena [pengakuan ini] dapat dibuktikan dengan dasar-dasar yang paling pasti dari Kitab Suci.”1
- Pasal 8, Tiga Puluh Sembilan Pasal Gereja Anglikan (The Thirty-Nine Articles of Religion of the Church of England). ↩


